Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45

ADVERTISEMENT
Presiden Donald Trump pada Kamis (20/3) menandatangani keputusan presiden pembubaran Kementerian Pendidikan AS. Dengan keputusan ini, maka kebijakan pendidikan akan dikembalikan ke negara bagian dan dewan lokal.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari Reuters, Jumat (21/3), Trump menandatangani keppres itu di East Room Gedung Putih. Namun, untuk membubarkan sepenuhnya Kementerian Pendidikan AS memerlukan persetujuan Kongres dan Trump tidak memiliki hak suara untuk itu.
"Kami akan mengembalikan pendidikan kembali ke negara bagian di mana mereka berada," kata Trump.
Penandatanganan itu disaksikan oleh siswa dan tenaga pendidik. Siswa yang diundang menyaksikan penandatanganan itu duduk di jelas mengelilingi Trump dan menandatangani dokumen tiruan di sampingnya.
Keputusan ini menyusul pengumuman Kementerian Pendidikan AS minggu lalu bahwa akan memberhentikan hampir setengah dari stafnya, sejalan dengan upaya Trump untuk mengurangi ukuran pemerintah federal yang dianggapnya terlalu gemuk dan tidak efisien.
Pendidikan sudah lama menjadi isu politik di AS. Kaum konservatif lebih menyetujui kendali lokal atas kebijakan pendidikan dan pilihan sekolah yang membantu sekolah swasta dan sekolah berbasis agama. Sementara pemilih liberal sebagian besar condong mendukung pendanaan sekolah negeri dan program keberagaman.
ADVERTISEMENT
Di era pemerintahannya saat ini, Trump mengurangi pendanaan pendidikan dan mendorong penghapusan kebijakan keberagaman, kesetaraan dan inklusi di universitas seperti yang dilakukannya di pemerintah federal.
Gedung Putih juga berpendapat bahwa Kementerian Pendidikan hanya membuang-buang uang. Mereka menilai, nilai ujian yang pas-pasan, tingkat literasi yang mengecewakan, dan keterampilan matematika yang kurang di kalangan siswa menjadi bukti bahwa pengembalian investasi triliunan dolar yang dilakukan lembaga itu buruk.