Trump Ingin Lanjutkan Uji Coba Senjata Nuklir, Dikecam Iran hingga Rusia

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan keterangan kepada wartawan saat perjanjian tentang logam langka dan mineral kritis selama pertemuan di Ruang Kabinet Gedung Putih, Washington, D.C., AS, Senin (20/10/2025). Foto: Kevin Lamarque/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan keterangan kepada wartawan saat perjanjian tentang logam langka dan mineral kritis selama pertemuan di Ruang Kabinet Gedung Putih, Washington, D.C., AS, Senin (20/10/2025). Foto: Kevin Lamarque/Reuters

Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan ingin melanjutkan kembali uji coba senjata nuklir setelah 33 tahun berhenti. Keputusan itu diungkap Trump lewat unggahan di Truth Social sebelum bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korsel, Kamis (30/10) kemarin.

Pengumuman Trump itu masih menyimpan banyak pertanyaan: apakah yang dimaksud adalah uji coba sistem persenjataan atau benar-benar uji coba ledakan yang belum pernah dilakukan AS sejak 1992.

Iran kemudian memberikan komentar terkait pernyataan Trump itu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebutnya regresif dan tidak bertanggung jawab, serta merupakan ancaman bagi keamanan internasional.

"Seseorang yang merundung senjata nuklir kini melanjutkan uji coba senjata atom. Perundung yang sama telah menghina program nuklir Iran yang damai," katanya di media sosial, dikutip dari AFP, Jumat (31/10).

Kelompok penyintas bom atom Jepang, Nihon Hidankyo, bahkan mengirim surat protes ke Kedutaan Besar AS di Jepang hari ini.

Toshiyuki Mimaki, presiden Nihon Hidankyo berbicara dalam pertemuan anti bom atom di Hiroshima, Jepang, 4 Agustus 2022. Foto: Kyodo melalui AP

"Arahan tersebbut secara langsung bertentangan dengan upaya negara di seluruh dunia yang memperjuangkan dunia yang damai tanpa senjata nuklir dan sama sekali tidak dapat diterima," kata Nihon Hidankyo dalam suratnya.

Rusia juga mengomentari pernyataan Trump itu. Apalagi, Trump pernah mengkritik Rusia yang memilih uji coba senjata alih-alih melakukan perundingan damai dengan Ukraina.

"Latihan senjata baru-baru ini sama sekali tidak dapat diartikan sebagai uji coba nuklir," kata juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov.

"Kami harap informasi itu dapat disampaikan dengan benar kepada Presiden Trump," lanjutnya.

Peskov kemudian menyiratkan Rusia akan melakukan uji coba hulu ledak aktifnya sendiri jika Trump melakukannya duluan.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. Foto: Evgenia Novozhenina/REUTERS

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mendesak AS untuk sungguh-sungguh mematuhi larangan uji coba nuklir global. Sementara Sekjen PBB Antonio Guterres melalui juru bicaranya mengatakan uji coba nuklir tidak akan pernah diizinkan dalam keadaan apa pun.

AS menandatangani Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif sejak 1996. Berdasarkan perjanjian itu, uji coba ledakan atom semua dilarang baik itu untuk tujuan militer maupun sipil.

Yang semakin memperkeruh suasana adalah Trump pernah mengeklaim ingin bernegosiasi dengan Rusia dan China terkait denuklirisasi.

"Denuklirisasi akan menjadi hal yang luar biasa," kata Trump.