Trump: Putin Tak Akan Menyerang Negara NATO

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin setibanya untuk melakukan pertemuan terkait KTT AS-Rusia di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska, Jumat (15/8/2025). Foto: Andrew Caballero-Reynolds/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin setibanya untuk melakukan pertemuan terkait KTT AS-Rusia di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska, Jumat (15/8/2025). Foto: Andrew Caballero-Reynolds/AFP

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota NATO.

Trump juga mengesampingkan pemberitaan sejumlah media yang menyebut Direktur CIA John Ratcliffe telah memperingatkan pejabat Rusia agar tidak melakukan serangan tersebut.

"Dia tidak akan menyerang wilayah NATO," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, dilansir Reuters Kamis (27/8)

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan kepada Axios dalam wawancara melalui telepon bahwa serangan semacam itu tidak akan terjadi. Ia juga membantah Ratcliffe dikirim ke Moskow untuk menyampaikan pesan tertentu.

Tank T-80 Rusia ikut serta dalam latihan militer 'Vostok-2022' di tempat pelatihan Uspenovskyi (Pulau Sakhalin), luar kota Yuzhno-Sakhalinsk, Timur Jauh Rusia, Minggu (4/9/2022). Foto: Kirill Kudryavtsev/AFP

"Ratcliffe bertemu dengan mitranya dari Rusia setiap enam bulan sekali atau setahun sekali. Mereka memiliki hubungan yang sangat baik. Tidak ada pesan dan tidak ada yang tidak biasa," kata Trump kepada media tersebut.

Pejabat intelijen Eropa dan AS telah lama memantau aksi sabotase Rusia dan serangan gray zone di Eropa.

Aksi tersebut berada di bawah ambang perang terbuka dan umumnya bertujuan melemahkan persatuan NATO serta kemauan negara-negara anggotanya untuk mendukung Ukraina menghadapi agresi Rusia.