Trump Soroti Kematian Misterius Pekerja Lab di Siberia: Itu Penyakit Ganas

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington siap membantu Rusia setelah seorang pekerja laboratorium di sebuah institut penelitian penyakit pes di Siberia meninggal dunia.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (5/10), saat hendak bertolak ke Nebraska. Ia menyebut kasus tersebut sebagai persoalan serius bagi Rusia.
"Yah, saya tidak suka melihat mereka mengalaminya," kata Trump dikutip dari Reuters.
"Itu penyakit yang ganas," tambah dia.
Trump mengatakan AS akan melakukan apa pun yang dapat dilakukan untuk membantu Rusia.
"Kami akan membantu. Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami selalu bersedia membantu," kata Trump.
Pernyataan Trump muncul setelah kematian seorang pekerja di Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East di wilayah Irkutsk, Siberia. Kematian tersebut memicu kekhawatiran di media sosial dan mendorong otoritas Rusia menerapkan langkah karantina terhadap sejumlah orang.
Namun Rusia belum mengonfirmasi bahwa pekerja tersebut meninggal akibat pes. Otoritas kesehatan Rusia menyatakan korban didiagnosis mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
Kasus Kematian Picu Karantina
Reuters melaporkan pekerja laboratorium tersebut merupakan perempuan berusia 28 tahun bernama Darya Shipilova. Ia bekerja di institut penelitian pes di Siberia sebelum jatuh sakit dan meninggal dunia.
Kematian Shipilova kemudian memicu langkah pencegahan. Sejumlah orang yang diketahui melakukan kontak dengannya ditempatkan dalam pengawasan medis, sementara bagian dari fasilitas kesehatan tempat dia dirawat dikarantina.
Otoritas Rusia juga menyatakan belum menemukan kasus baru di kalangan pekerja institut tersebut. Gubernur wilayah Irkutsk Igor Kobzev mengatakan seluruh kontak yang diketahui telah diidentifikasi, diperiksa, dan ditempatkan dalam pengawasan medis.
Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, juga mengatakan institut tersebut tidak menemukan bukti adanya kecelakaan dalam penanganan patogen setelah muncul rumor di media sosial mengenai kemungkinan insiden di laboratorium.
Kepala Rospotrebnadzor Anna Popova bahkan terbang ke Siberia untuk memimpin pertemuan terkait situasi tersebut.
AS Pantau Situasi
Pemerintah AS juga mengikuti perkembangan kasus tersebut. Sejumlah lembaga pemerintah AS, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Departemen Luar Negeri, memantau informasi mengenai kematian pekerja laboratorium tersebut.
Washington masih menunggu informasi lebih lengkap untuk mengetahui apakah kasus tersebut benar-benar berkaitan dengan pes atau penyakit lain. Pejabat AS juga mendorong Rusia memberikan informasi yang akurat dan terbuka mengenai kasus tersebut.
Pes merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini masih ditemukan secara alami pada mamalia kecil dan kutunya di sejumlah wilayah, termasuk Siberia. Namun, kasus pada manusia di Rusia tergolong jarang.
Salah satu bentuknya adalah pes pneumonik yang menyerang paru-paru dan dapat menular melalui droplet pernapasan. Jika tidak segera ditangani, penyakit tersebut dapat berakibat fatal. Namun, pes dapat diobati dengan antibiotik jika terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Hingga laporan ini dibuat, belum ada konfirmasi resmi kematian pekerja laboratorium tersebut disebabkan pes maupun bahwa telah terjadi wabah pes di Siberia.
Trump sebelumnya mengatakan dirinya memandang Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai sosok yang dapat diajak bekerja sama, meski hubungan Washington dan Moskow tetap dibayangi perang Rusia-Ukraina.
