Tsunami Vulkanik di Indonesia, dari Tambora hingga Krakatau

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (19/7). (Foto: ANTARA FOTO/El Shinta)
zoom-in-whitePerbesar
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (19/7). (Foto: ANTARA FOTO/El Shinta)

Istilah "tsunami vulkanik" yang menimpa Banten dan Lampung pada Sabtu malam (22/12) memang asing di telinga masyarakat. Pasalnya tsunami lazimnya didahului dengan gempa bumi, jarang berhubungan dengan erupsi. Tapi dalam sejarahnya, tsunami jenis ini beberapa kali terjadi di Indonesia, memakan korban jiwa ribuan orang.

Kepastian gelombang tinggi yang menerpa wilayah sekitaran Selat Sunda dengan 62 orang korban tewas adalah tsunami disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut BMKG, tsunami tercipta akibat erupsi anak gunung Krakatau yang diperparah dengan gelombang tinggi karena bulan purnama.

Menurut tulisan di Jurnal Geologi Indonesia pada 2008 soal Tsunamigenik, tsunami akibat gunung api biasanya bukan disebabkan oleh erupsinya, melainkan akibat jatuhan produk gunung api ke laut. Jatuhnya produk gunung api ke laut dengan cepat menimbulkan gelombang tsunami yang bergerak ke pesisir.

Tsunami vulkanik. (Foto: Dok.  Geoscience Australia)
zoom-in-whitePerbesar
Tsunami vulkanik. (Foto: Dok. Geoscience Australia)

Studi Oregon State University (OSU) di Amerika Serikat menyebut tsunami vulkanik bisa bergerak dengan kecepatan hingga 1.000 km/jam. Ketika mencapai laut dangkal, kecepatannya menurun hingga 321 km/jam, namun masih mematikan.

Diperkirakan 5 persen tsunami di seluruh dunia terjadi akibat aktivitas vulkanik. Sementara 16,9 persen dari korban tewas dalam erupsi gunung berapi adalah akibat tsunami vulkanik ini.

Indonesia adalah salah satu negara dengan banyak gunung berapi karena terletak di Cincin Api Pasifik. Selain tsunami Selat Sunda akhir pekan ini, tercatat beberapa kali tsunami vulkanik terjadi di Indonesia sejak tahun 1800-an.

Krakatau dan Tambora

Salah satu erupsi terbesar yang tercatat di dunia adalah letusan Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883. Ini disebut sebagai tsunami vulkanik terbesar yang pernah tercipta. Gelombang tsunami akibat erupsi Krakatau 135 tahun lalu itu menewaskan 36 ribu orang.

Evakuasi korban tsunami di Tanjung Lesung dini hari tadi.  (Foto: Dok. Surya Bagus)
zoom-in-whitePerbesar
Evakuasi korban tsunami di Tanjung Lesung dini hari tadi. (Foto: Dok. Surya Bagus)

Gelombang tsunami vulkanik Krakatau itu mencapai ketinggian hingga 40 meter, menghancurkan desa-desa pesisir di sekitar Selat Sunda di pulau Jawa dan Sumatra.

Tsunami vulkanik besar di Indonesia lainnya yang tercatat dalam sejarah adalah akibat erupsi Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada 1815. Tsunami tercipta akibat aliran piroklastika dan runtuhnya kaldera Tambora ke laut, menyebabkan gelombang hingga setinggi 10 meter yang menghantam wilayah pesisir.

Menurut catatan OSU, letusan Tambora menewaskan lebih dari 71 ribu orang, sebanyak 10 ribu di antaranya tewas akibat diterjang tsunami.

Di abad ke-20, erupsi gunung yang menyebabkan tsunami vulkanik terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur. Pada 1928, tsunami setinggi 10 meter tercipta setelah letusan gunung Paluweh atau Rokatenda di NTT menjatuhkan longsoran vulkanik ke lautan, menewaskan 150 orang.

Dua letusan Gunung Illiwerung pada 1979 dan 1983 juga menyebabkan tsunami vulkanik. Pada 1979, letusan Gunung Illiwerung menyebabkan tsunami setinggi 9 meter, menewaskan lebih dari 539 orang.