Tugas Anies-Sandi Tangani Kesemrawutan Pasar Tanah Abang

Kawasan sentra perbelanjaan Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali semrawut. Meski berkali-kali ditertibkan, namun Tanah Abang sepertinya tak pernah mampu terbebas dari kepadatan dan kemacetan.
Banyak sekali hal yang menyebabkan Tanah Abang kembali semrawut. Mulai dari pejalan kaki yang tak mengindahkan aturan dengan menyeberang sembarangan, hingga trotoar yang kembali dijadikan lahan untuk berdagang. Belum lagi kuli angkut yang menyeberang sambil membawa troli besar, yang berisi barang belanjaan konsumen.
Belum lagi permasalahan lalu lintas yang lain. Sepeda motor dan mobil yang parkir sembarangan hingga kendaraan yang memutar arah tanpa melihat rambu jalan juga menjadi beberapa dari sekian banyak masalah yang membuat kawasan ini semrawut.

Sebenarnya ada petugas yang berusaha mengurai kemacetan di Tanah Abang, namun mereka tak hanya dari petugas Dishub saja. Ada juga para Pak Ogah, yang berusaha mengurai kemacetan, tentu saja dengan imbalan rupiah. Namun tetap saja macet tak daat terhindarkan karena masyarakat yang menyeberang sembarangan meski sudah disediakan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).
Semrawutnya Tanah Abang mendapat perhatian tersendiri oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wagub Sandiaga Uno. Anies sendiri mengaku akan mengecek kawasan Tanah Abang, dan bila perlu, Pemprov DKI akan dilakukan penertiban.
"Itu fotonya tanggal berapa ya? Nanti kita beri solusinya tentu harus ada penertiban tapi nanti saya cek di lapangan dulu karena fotonya kok sama dengan yang di bulan Mei dan kemarin rasanya agak unik tuh," ujar Anies di Balai Kota DKI, Jakpus, (25/10).

Dia juga mengaku akan terus mencanangkan Bulan Tertib Trotoar, sehingga tak ada lagi kesemrawutan di Jakarta, khususnya Tanah Abang. Pedagang tak asal menyerobot hak pejalan kaki, dan warga masyarakat yang berbelanja di Tanah Abang juga tak bisa lagi menyeberang sembarangan karena telah disediakan JPO serta trotoar yang bersih.
"Harus ada mekanisme pengelolaan yang baik termasuk semuanya bisa merasa diuntungkan, pejalan kaki tidak dirugikan. Mereka yang ingin bekerja diatur dengan baik, parkiran tak terganggu jadi solusinya bermanfaat bagi semua," kata Anies.
Hal yang sama juga diungkapkan Sandiaga. Dia mengakui bahwa kawasan Tanah Abang kembali amburadul karena proses penataan di kawasan tersebut belum tuntas.
"Jadi kita ingin ada pengaturan dan penataan yang baik. Saya dan Pak Anies masih mempelajari. Kita justru challenge teman-teman SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan wilayah untuk mulai ada inovasi-inovasi bernas," ujar Sandi di Gedung Kementerian Koperasi dan UKM RI, Kuningan, (25/10).
Sandi mengatakan bahwa penataan Tanah Abang yang semrawutnya kambuhan itu tidak bisa hanya mengandalkan gubernur-wagub semata, tapi juga peran semua pihak.
"Ini bukan Superman Anies-Sandi, tapi super team. Kita akan pelajari data-data, bagaimana pergerakan usaha. Bisa juga kita gunakan big data analytics movement," jelas Sandi.

Pasar Tanah Abang, memang sudah ada sejak Jakarta masih bernama Batavia. Dilansir Wikipedia, pada tahun 1735 seorang arsitek bernama Yustinus Vink diminta mendirikan Pasar Tanah Abang atas perintah Gubernur Jenderal Abraham Patramini.
Izin yang diberikan saat itu untuk Pasar Tanah Abang adalah untuk berjualan tekstil serta barang kelontong dan hanya buka setiap hari Sabtu, sehingga Pasar Tanah Abang juga dikenal dengan sebutan Pasar Sabtu.
Pada tahun 1740 terjadi peristiwa Chineezenmoord, yakni pembantaian orang-orang China, perusakan harta benda, termasuk Pasar Tanah Abang. Pada tahun 1881, Pasar Tanah Abang kembali dibangun dan yang tadinya dibuka pada hari Sabtu, ditambah hari Rabu, sehingga Pasar Tanah Abang saat itu dibuka 2 kali seminggu.
Pasar Tanah Abang yang dulunya dibangun sangat sederhana mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Hingga akhir abad ke-19 dan bagian lantainya mulai dikeraskan dengan pondasi adukan. Pada tahun 1913, Pasar Tanah Abang kembali diperbaiki. Pada tahun 1926 pemerintah Batavia membongkar Pasar Tanah Abang dan diganti bangunan permanen berupa tiga los panjang dari tembok dan papan serta beratap genteng.
Pasar Tanah Abang semakin berkembang setelah dibangunnya Stasiun Tanah Abang. Di tempat tersebut mulai dibangun tempat-tempat seperti Masjid Al Makmur dan Klenteng Hok Tek Tjen Sien yang keduanya seusia dengan Pasar Tanah Abang. Meski sempat diremajakan dan berkali-kali terkena insiden kebakaran, popularitas Pasar Tanah Abang sebagai sentra jual beli masyarakat Jakarta terus ada sampai saat ini.
