Turkmenistan: Rakyat Digoyang Irama Musik Sang Presiden Diktator

Presiden Rusia, Vladimir Putin, boleh saja unjuk bakat bermain piano dalam kunjungan kenegaraan di China. Bermain piano mungkin adalah sesuatu yang tidak biasa melihat citra Putin yang garang. Namun, memiliki citra garang nan menghibur dimiliki oleh presiden asal negara di Asia Tengah.
Turkmenistan, negeri pecahan Uni Soviet, memiliki kisah hidup miris khas negara otoriter. Lembaga Hak Asasi Manusia, Human Rights Watch, menerangkan bagaimana negara tersebut membungkam kebebasan pers, mengatur budaya dengan ketat, meniadakan kebebasan berekspresi, dan melaksakan pembangunan terpusat pada pemegang kekuasaan. Semuanya disebabkan pada satu hal: presiden yang bertindak seperti diktator.
Negara yang saat ini dipimpin oleh bekas dokter gigi bernama Kurbanguly Berdymukhamedov ini disebut sebagai “negara paling terkekang di Asia Tengah”. Ia baru saja terpilih untuk periode selanjutnya dengan suara mantap: 97 persen mengalahkan 8 kandidat lainnya.
Berdymukhamedov bukan diktator pertama di Turkmenistan. Pemimpin sebelumnya, Niyazov, lebih dulu memberi contoh bagaimana membangun Turkmenistan dengan tangan besi. Rakyat di negeri tersebut tidak mengenal apa itu kebebasan layaknya warga negara di belahan bumi lain.
Satu hal lain dari warisan Niyazov adalah kepemimpinan yang narsistik. Niyazov menyebut dirinya sebagai Turkmenbashi atau Bapak Turkmenistan. Untuk menunjukkan kejayaannya, Niyazov juga membangun patung emas setinggi 50 meter di Asghabat, ibukota Turkmenistan. Semua legitimasi diturunkan ke rakyat dengan cara paksaan.
Niyazov juga menerbitkan buku ideologi sendiri berjudul Ruhnama yang konteksnya serupa dengan buku merah Mao Tse-tung dan Mein Kampf milik Adolf Hitler.
Langkah Niyazov diikuti oleh Berdymukhamedov. Seakan-akan Turkmenistan tidak bisa lepas dari sosok presiden yang represif namun narsistik. Mulai dari penggunaan gelar, hingga beberapa kebijakannya, kedua pemimpin ini memiliki kesamaan. Dia memilih nama Arkadag, yang artinya Sang Pelindung. Jadilah jiwa eksentrik berlanjut dalam kepemimpinan Turkmenistan.
Berdymukhamedov punya pilihan lain untuk menonjolkan citra dirinya: Ia senang bermusik. Beberapa kali dia tampil untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam memainkan alat musik di depan rakyatnya lewat siaran langsung televisi.
Pada sebuah kesempatan yang berlangsung 6 Januari 2013, Berdymukhamedov yang berpakaian kasual berwarna putih naik ke atas panggung. Bentuknya pun tidak garang layaknya diktator dari negara lain. Ia kemudian memainkan aransemen musik dengan alat turntable-nya. Seorang penyanyi pria mengiringi penampilan sang presiden. Semua penonton berjingkrak seperti sedang menyaksikan David Guetta atau DJ Tiesto di atas panggung.
Penampilan berikutnya ketika Berdymukhamedov memainkan aransemen musik dengan gitar dalam sebuah pesta mewah. Ia naik ke panggung dengan cardigan hijau.
Namun, sebagaimana terlihat dalam video, petikan gitar Berdymukhamedov diragukan keasliannya. Kemampuan bermusik Berdymukhamedov tidak bisa dipastikan karena dugaan lipsync. Meski demikian, rakyatnya yang patuh dan tidak memiliki alternatif hiburan lainnya tampak begitu semringah.
Berdymukhamedov kembali menunjukkan bakatnya. Ia sengaja hadir di hadapan para pegawai di kawasan pertambangan Asla, Turkmenistan. Lihat bagaimana para pegawai tepuk tangan. Wajahnya tenang dan tepukannya begitu teratur.
Kenyataannya, Berdymukhamedov akan menikmati periode ketiga kepemimpinannya hingga tahun 2022. Hingga waktu tersebut, rakyat Turkmenistan akan terus berada dalam kekangan rezim otoriter, dan tentunya, hiburan narsistik dari sang presiden di layar kaca.
