Turun-temurun Warga Kampung Kerang Hidup Bersama Kerang Hijau
ยทwaktu baca 3 menit

Saat matahari hendak terbenam, anak-anak di Kampung Kerang, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, terlihat riang gembira bermain di antara orang dewasa yang tengah sibuk mengupasi cangkang kerang.
Di samping mereka, ada cangkang kerang sudah terisi penuh satu ember, ada pula yang masih setengahnya.
Satu persatu kerang yang masih mentah dan matang dikupas. Lalu, cangkang kerang yang sudah tak terpakai dipisahkan dan dimasukkan ke dalam karung putih untuk dibuang di pesisir pantai. Di sana, cangkang kerang dibiarkan menumpuk seolah membentuk daratan baru.
Aktivitas itu sudah berlangsung dari generasi ke generasi di Kampung Kerang. Ada yang bilang sejak tahun 90-an, ada juga yang lebih lama dari itu. Warga di sana sudah begitu akrab dengan segala hal yang menyangkut kerang. Ada yang jadi peternak hingga hanya mengupas kerang.
"Turun-temurun," kata warga asli Kampung Kerang, Suparni (49), kepada kumparan, Jumat (5/12).
Sejak lahir, Suparni sudah bersinggungan dengan kerang. Suami Suparni sendiri adalah peternak kerang. Hasil beternak kerang yang dihasilkan suaminya diserahkan pada seseorang yang dipanggil 'bos'.
Bersama bos itulah, Suparni bekerja mengupasi kerang sebelum dijual kepada para tengkulak. Anak dan menantu Suparni juga melakukan aktivitas yang sama.
"Ini anak saya juga ngupasin kerang kalau pagi, kalau sore jaga cucu," ucap dia.
Tiap satu ember kecil kerang yang sudah dikupas, Suparni diupah berbeda. Jika mengupas kerang yang sudah matang, dia dibayar Rp 3 ribu untuk tiap ember. Sementara itu, untuk kerang yang masih mentah atau bagian akarnya masih menempel, dia dibayar Rp 5 ribu tiap ember.
"Rp 100 ribu masih dapet (sehari)" ujar dia.
Meski upah yang diterima relatif minim, warga Kampung Kerang tetap bersyukur. Terpenting, sambung Suparni, uang yang dihasilkan olehnya dan suaminya bisa mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Alhamdulilahnya bisa buat sehari-hari," kata dia.
Suparni juga mengatakan, warga di Kampung Kerang sudah begitu guyub. Ketika ditanya soal alasannya tak pindah ke wilayah Jakarta Selatan yang terbilang lebih metropolitan, dia hanya tertawa.
"Di sini aja," katanya.
Sementara, hal berbeda dikatakan Arum (29). Dia justru mengharapkan anaknya yang masih berusia 2 tahun tak bersinggungan dengan kerang ketika sudah dewasa.
Dia mengharapkan anaknya hidup lebih baik dan layak.
"Kalau bisa jangan (bersinggungan dengan kerang)" kata dia sambil menggendong anak perempuannya.
Limbah Cangkang Kerang Bom Waktu Masalah Lingkungan
Meski telah menjadi mata pencaharian turun-temurun, ada bahaya yang mengintip dari aktivitas tersebut. Khususnya masalah lingkungan yang bermunculan dari limbah cangkang kerang yang menumpuk tinggi, bahkan lebih tinggi dari tanggul penahan ombak di pesisir utara Jakarta.
Limbah yang tak dikelola dengan baik itu menumpuk di area pesisir, pasar, hingga lokasi pengolahan, menciptakan potensi bahaya yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Praktisi kesehatan masyarakat lulusan Universitas Indonesia, dr. Ngabila Salama, menjelaskan limbah cangkang kerang yang dibiarkan bertumpuk, dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan.
Cangkang yang dibiarkan membusuk dapat menghasilkan bau menyengat akibat gas amonia dan hidrogen sulfida. Gas tersebut, menurutnya, dapat memicu sakit kepala, iritasi, mual, bahkan sesak napas.
Tak hanya itu, tumpukan cangkang menjadi magnet bagi vektor penyakit seperti lalat, tikus, dan kecoa, yang membawa risiko penularan penyakit. Serpihan cangkang yang tajam juga dapat menyebabkan luka sayat bagi warga yang beraktivitas di sekitar lokasi.
Jika limbah dibuang sembarangan ke sungai atau laut, kualitas air dapat menurun dan meningkatkan risiko diare atau infeksi kulit.
