Tutup 2022, Korea Utara Tembakkan 3 Rudal Balistik, Apa Maknanya?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dan putrinya menghadiri sesi foto dengan para ilmuwan, insinyur, dan pejabat militer dalam uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17, dalam foto tak bertanggal yang rilis pada Minggu (27/11/2022). Foto: KCNA/via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dan putrinya menghadiri sesi foto dengan para ilmuwan, insinyur, dan pejabat militer dalam uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17, dalam foto tak bertanggal yang rilis pada Minggu (27/11/2022). Foto: KCNA/via REUTERS

Korea Utara menembakkan tiga rudal balistik jarak pendek pada Sabtu (31/12), menambah tembakan serentak terakhir pada tahun ini. Hal ini dipastikan pihak militer Korea Selatan.

Ketegangan militer di semenanjung Korea telah meningkat tajam pada 2022 karena Korea Utara melakukan uji senjata penghancur hampir setiap bulan, termasuk menembakkan rudal balistik antarbenua tercanggih yang pernah ada.

Peluncuran pada Sabtu terjadi sehari setelah Korea Selatan berhasil menguji kendaraan peluncuran luar angkasa berbahan bakar padat, dan mengikuti serbuan lima pesawat tak berawak Korea Utara ke wilayah udara selatan awal pekan ini.

Militer Korea Selatan telah mendeteksi "tiga rudal balistik jarak pendek yang diluncurkan oleh Korea Utara ke Laut Timur dari wilayah Chunghwa, Provinsi Hwanghae Utara, sekitar pukul 08.00 (2300 GMT)", mengacu Laut Jepang. Rudal itu terbang sekitar 350 kilometer (217 mil) sebelum jatuh.

"Militer kami mempertahankan postur kesiapan penuh sambil bekerja sama erat dengan AS dan memperkuat pengawasan dan kewaspadaan," kata pihak Kantor Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, dikutip dari AFP.

Sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM) diluncurkan dalam foto tak bertanggal ini yang dirilis pada 19 November 2022 oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) Korea Utara. Foto: KCNA via REUTERS

Serbuan pesawat tak berawak Korea Utara pada Senin (26/12) lalu adalah insiden pertama dalam lima tahun, mendorong permintaan maaf dari Menteri Pertahanan Korea Selatan setelah militer gagal menembak jatuh satu pesawat tak berawak, meskipun jet Korea Selatan berebut menembak jatuh, selama operasi lima jam.

Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol menyebut insiden itu "tidak dapat ditolerir" dan menambahkan Korea Selatan harus memastikan bahwa Korea Utara menyadari "provokasi selalu menemui konsekuensi yang keras".

Militer Korea Selatan menggelar latihan pada Kamis yang menurut petinggi negara, itu akan meningkatkan pertahanannya terhadap setiap provokasi drone di masa depan.

Dan pada Jumat, Korea Selatan berhasil menguji kendaraan peluncuran ruang angkasa baru sebagai bagian dari upayanya untuk memperkuat kemampuan pengintaian dan pengawasan berbasis ruang angkasa, kata Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, bersama putrinya, berjalan menjauh dari rudal balistik antarbenua (ICBM) dalam foto tak bertanggal ini yang dirilis pada 19 November 2022 oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) Korea Utara. Foto: KCNA via REUTERS

Korea Utara pada awal bulan ini telah melakukan tes "tahap akhir yang penting" untuk pengembangan satelit pengintaian dan mengeklaim telah mengembangkan teknologi canggih untuk mengambil gambar dari luar angkasa.

Yang Moo-jin, seorang profesor di Universitas Studi Korea Utara di Seoul, kepada AFP, menjelaskan tujuan peluncuran rudal Korea Utara hari ini untuk menanggapi kendaraan peluncuran ruang angkasa berbahan bakar padat Seoul.

"Pyongyang tampaknya menganggap ini sebagai kompetisi,” jelasnya.

Rapat Akhir Tahun Partai Besar Korea Utara, Bahas Kebijakan 2023

Korea Utara saat ini mengadakan pertemuan partai besar di Pyongyang. Kim Jong Un dan pejabat senior partai lainnya menguraikan tujuan kebijakan mereka untuk 2023 di bidang-bidang utama, termasuk diplomasi, keamanan, dan ekonomi.

Awal tahun ini, Kim ingin negaranya memiliki kekuatan nuklir paling kuat di dunia dan menyatakan Korea Utara sebagai negara nuklir yang "tidak dapat diubah".

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dan putrinya menghadiri sesi foto dengan para ilmuwan, insinyur, dan pejabat militer dalam uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17, dalam foto tak bertanggal yang rilis pada Minggu (27/11/2022). Foto: KCNA/via REUTERS

Media pemerintah Korea Utara melaporkan, Kim pada Rabu lalu menetapkan "tujuan utama baru" untuk militer negara itu.

Rapat pleno akhir tahun Korea Utara biasanya digunakan rezim untuk mengungkap prioritas kebijakan dalam dan luar negeri negara itu untuk tahun depan. Rincian lengkap dari sesi saat ini diharapkan dapat diumumkan setelah selesai.

Sementara Kim fokus pada ekonomi pada pleno 2021, analis secara luas mengharapkan perubahan pada tahun ini untuk menyoroti militer, sehubungan dengan peluncuran rudal baru-baru ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kim telah menyampaikan pidato setiap 1 Januari, tetapi dia baru-baru ini meninggalkan tradisi tersebut dan memilih untuk membuat pengumuman pada rapat pleno akhir tahun.

Peluncuran Rudal sebagai Hadiah untuk Rakyat Korea Utara

Sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM) diluncurkan dalam foto tak bertanggal ini yang dirilis pada Minggu (19/11/2022). Foto: KCNA via REUTERS

Menurut ahli studi Korea Utara, Ahn Chan, peluncuran rudal hari ini dapat dilihat sebagai "hadiah" dari Kim Jong Un kepada rakyat.

"Menandai akhir tahun dengan peluncuran rudal yang memecahkan rekor, sambil mengucapkan selamat kepada rapat pleno Partai Buruh Korea," ujarnya kepada AFP.

"Kim sedang mencoba mengirim pesan bahwa rakyat harus merasa aman, karena negara mereka jelas merupakan kekuatan militer, meskipun mungkin menderita secara ekonomi," imbuhnya

Amerika Serikat dan Korea Selatan telah memperingatkan selama berbulan-bulan bahwa Korea Utara sedang bersiap untuk melakukan uji coba nuklir ketujuh.

Korea Utara berada di bawah berbagai sanksi Dewan Keamanan PBB atas aktivitas nuklir dan misilnya sejak 2006.