UGM Bicara Adaptasi Kehidupan Baru Setelah Pandemi COVID-19 Berlalu
ยทwaktu baca 3 menit

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi UGM menggelar Hybrid Winter Course 2022 on Interprofessional Education-Post Pandemic Life: Lesson Learnt and Future Direction pada 24 Januari-4 Februari 2022.
Dalam kegiatan yang diikuti oleh 13 mahasiswa dari Malaysia, Myanmar dan Pakistan serta 139 mahasiswa dari Indonesia ini, salah satu tema yang diangkat adalah kultur kesehatan baru berdampingan dengan COVID-19.
"Topik-topiknya tadi sudah disampaikan, disesuaikan dengan keadaan yang relevan saat ini. Kemudian kita mungkin kalau COVID-19 sudah hampir tiga tahun kita ngomongnya akhirnya post pandemic, jadi apa yang bisa kita sesuaikan tadi ada budaya baru dan sebagainya, kan tentunya kita tidak mungkin lagi tidak berjalan kan, roda kehidupan ekonomi kan tetap harus berjalan," kata Chairman Winter Course 2022 UGM dr Gunadi ditemui di kampusnya, Senin (24/1).
Gunadi menjelaskan dalam acara ini, pihaknya mencoba memahami bagaimana pemerintah menyeimbangkan antara kesehatan sebagai prioritas, tetapi ekonomi juga harus berjalan.
"Sehingga kita ada acara ingin melihat langsung ke daerah langsung terdampak yaitu pusat sentra batik di Lendah, Kulon Progo itu, salah satu yang terdampak. Selama pandemi betul-betul kehilangan pekerjaan, sumber penghasilan, tapi kemudian selama 2 tahun akhirnya mereka bisa pulih dengan segala adaptasi baru," katanya.
Adaptasi baru ini, dicontohkan Gunadi adalah pemakaian masker dan rajin cuci tangan. Kini, masker jadi budaya baru yang entah sampai kapan akan terus digunakan.
"Dengan COVID-19 ini, jadi semua orang cuci tangan kembali. Yang perlu ditambahkan bahwa kalau virus juga evolusi kira juga bisa berevolusi. Kita berevolusi dengan promosi prevensi kesehatan dengan pakai masker. Mungkin ini adalah sesuatu yang akan kita lakukan entah sampai kapan tidak tahu tapi inilah budaya baru kita," katanya.
Masker menjadi budaya ini juga telah terasa saat ini. Gunadi mencontohkan bagaimana anak-anak saat ini begitu tertib menggunakan masker ketika keluar rumah. Begitu pun dengan orang dewasa kerap merasa ada yang janggal ketika belum mengenakan masker saat keluar rumah.
"Jadi anak-anak juga tahu apa protokol kesehatan yang baru sehingga ya kalau kita kan sama-sama pakai masker kan ya sudah kita anggap saja ini sebagai kebiasaan baru dan sekarang kalau keluar tidak pakai masker kadang bingung ada yang ketinggalan kayaknya. Dulu ketinggalan dompet sekarang masker (bingung)," katanya.
Gunadi menjelaskan bahwa acara ini berkonsep interprofesional health education yaitu pendidikan yang mengedepankan interprofesional kolaborasi antar tidak hanya tenaga kesehatan sebetulnya jadi interprofesional jadi entah itu ahli ekonomi, ahli sosial, kebudayaan dan sebagainya.
Sementara itu, Dekan FKKMK UGM Prof Ova Emilia mengatakan bahwa problem kesehatan saat ini adalah soal life style. Hal itu pula yang turut jadi pembahasan dalam acara ini.
"Problem kesehatan di Indonesia banyak berawal dari life style. Entah obesitas ke hipertensi atau jantung," kata Ova.
Ova mengatakan bahwa COVID-19 ini mengingatkan kita bahwa sudah tidak boleh lagi cuek pada diri sendiri. Setiap orang harus peduli pada kesehatannya masing-masing.
Saat ini, sudah waktunya seluruh elemen masyarakat mempersiapkan diri dengan baik untuk memasuki masa transisi dari pandemi menuju endemi COVID-19, agar mampu hidup berdampingan dengan budaya kesehatan baru.
"Menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan, mensukseskan program vaksinasi, membatasi mobilitas, menerapkan gaya hidup sehat, mengatur gizi dan asupan nutrisi tubuh, hingga membudayakan kejujuran menjadi bisa menjadi beberapa poin prioritas budaya baru dalam menghadapi masa transisi menuju endemi COVID-19," jelasnya.
