UGM Ingin Manfaatkan Rumah Prof. Dr. Sardjito untuk Kegiatan Akademik dan Sosial
ยทwaktu baca 3 menit

Universitas Gadjah Mada (UGM) ingin memanfaatkan rumah Prof. Dr. Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, untuk kegiatan akademik dan sosial.
Rumah milik rektor pertama UGM dan Pahlawan Nasional itu hendak dijual oleh ahli waris Sardjito.
"UGM tengah berupaya untuk memanfaatkan rumah tersebut untuk kegiatan akademik dan sosial sehingga mampu merekognisi nilai sejarah atas rumah itu. Upaya-upaya tersebut sedang dilakukan dengan menggandeng KAGAMA," kata Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D dalam keterangannya, Selasa (19/5).
Ova mengatakan UGM memahami perhatian publik terkait pemberitaan rumah Sardjito tersebut.
"Perlu kami sampaikan bahwa rumah tersebut merupakan milik pribadi keluarga, sehingga terkait kepemilikan maupun keputusan atas rumah tersebut sepenuhnya menjadi ranah keluarga dan bukan kewenangan Universitas," katanya.
Lanjut Ova, UGM menghormati nilai sejarah dan jasa para pendiri serta tokoh yang telah berkontribusi bagi perjalanan institusi UGM.
"Pada saat yang sama, kami juga menghormati hak dan keputusan keluarga sebagai pemilik sah rumah tersebut," ujarnya.
Alasan Dijual
Kerabat Prof. Sardjito, Budhi Santoso, mengatakan rumah yang berstatus sertifikat hak milik (SHM) ini dijual atas kesepakatan ahli waris, yakni dua cucu Prof. Sardjito, Alita Poedjioetomo dan Dyani Poedjioetomo, yang kini tinggal di Jakarta.
"Namanya warisan sebaiknya segera dibagi menurut saya. Saya menyarankan dikembalikan (untuk dibeli) ke UGM aja. Daripada kalau tidak dirawat dengan baik sayang rumahnya. [Itu] Kalau saya. Dan sudah waktunyalah [dibagi]. Mereka (ahli waris) sudah usia 70-an (tahun)," kata Budhi ditemui di rumah almarhum Sardjito, Rabu (13/5).
Budhi merupakan adik kandung dari istri Pek Poedjioetomo, anak tunggal Prof. Dr. Sardjito dengan Soeko Emmi Sardjito.
Budhi sudah tinggal di rumah ini sejak 1980 menemani Soeko. Sementara Sardjito sudah meninggal dunia pada 1970.
Budhi punya pemikiran agar rumah ini bisa dirawat oleh UGM.
"Karena rumah ini adalah rumah bersejarah. Pak Karno, Sri Sultan Hamengkubuwono, Pak Hatta dan yang lain termasuk ayahnya Bapak Prabowo yang sekarang Presiden pernah ke sini. Buktinya ada," katanya.
Budhi tak membeberkan detail harga jual rumah ini. Namun dia membocorkan di angka miliaran rupiah.
Berarsitektur Jengki
Rumah Sardjito ini berada di jantung Kota Yogyakarta. Bangunannya berarsitektur jengki, yang menjadi tren di era kolonial. Mayoritas bentuk bangunan masih seperti aslinya.
Rumah ini tak jauh dari area UGM. Jaraknya dari UGM hanya 1 kilometer di sebelah utara rumah.
Sementara itu, bagian belakang rumah difungsikan sebagai kantor obat tradisional yang ditemukan Sardjito.
Di dalam rumah masih ada benda-benda bersejarah peninggalan Sardjito. Di antaranya mebel-mebel kayu seperti meja hingga lemari. Lemari itu berisi buku-buku peninggalan Sardjito seperti berjudul ...
Di ruang tamu berlantai tegel itu, di sudutnya terdapat lemari kaca yang berisi koleksi keris milik Prof. Sardjito.
Ketika menjabat Rektor UGM, rumah ini menjadi tempat Sardjito berdiskusi dengan tokoh-tokoh negara.
