UGM Minta Korban Pelecehan Peneliti Swinger Melapor ke Kampus

3 Agustus 2020 11:20 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kabag Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani saat ditemui, Kamis (8/11). 
 Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kabag Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani saat ditemui, Kamis (8/11). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Akun Bams Utara membuat pengakuan secara tertulis dan video soal dirinya melakukan pelecehan seksual. Dalam video tersebut pria yang bernama asli Bambang Arianto membeberkan fantasinya akan seks swinger dengan modus penelitian.
ADVERTISEMENT
Bambang yang disebut-sebut sebagai dosen di UNU Yogya ini ternyata bukan dosen dan hanya sekadar bantu-bantu di UNU. Bambang sendiri menyebut bahwa korbannya ada yang dari UGM, meski dia tidak merinci posisi apa korban di UGM.
Terkait kasus ini, Kabag Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani menjelaskan pihaknya masih terus mempelajari kasus ini. Di sisi lain, pihaknya menyayangkan adanya kasus ini.
"Saat ini pihak UGM sedang mengkaji permasalahannya. Kita sedang mempelajari untuk langkah-langkah pengambilan langkah yang tepat bagi pimpinan," kata Iva dikonfirmasi kumparan, Senin (3/8).
"Tapi secara umum UGM sangat menyayangkan kejadian tersebut dan jika memang berhubungan dengan sivitas UGM, maka dipastikan akan diambil tindakan tegas," ujarnya.
Di sisi lain, lantaran pelaku menyebut korban ada dari UGM, Iva mempersilakan sivitas akademika yang jadi korban untuk melapor. Nantinya UGM akan memberikan pendampingan.
ADVERTISEMENT
"(Ketika ada yang jadi korban) bisa ke layanan pencegahan kekerasan seksual ult.ugm.ac.id. UGM siap support sivitas akademika yang menjadi korban dan memerlukan layanan pendampingan," ujarnya.
Soal informasi bahwa Bambang adalah alumni UGM, Iva masih mengecek kebenarannya.
"Ini saya cek sebentar memastikan," katanya.
Sebelumnya, Wakil Rektor I UNU Abdul Ghoffar menegaskan bahwa Bambang bukan merupakan dosen UNU. Yang bersangkutan hanya terobsesi menjadi dosen UNU tetapi tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.
"Jadi saya perlu memberi penjelasan, Bambang itu secara formal bukan dosen dan bukan karyawan. Kalau dosen dia belum S2 untuk menjadi dosen tidak mungkin. Memang dia berkeinginan jadi dosen UNU maka melanjutkan studi S2 akuntansi lagi," ujar Ghoffar dihubungi kumparan, Senin (3/8).
ADVERTISEMENT
Ghoffar menjelaskan Bambang ini memang lulusan S2 Fisipol UGM akan tetapi di UNU tidak ada prodi tersebut. Sehingga dia melanjutkan kuliah kembali pada jurusan akuntansi.
"Jadi dia memang nggak ngantor karena nggak punya kantor bukan staf kita. Kalau sering datang membantu kalau di UNU kan terbuka untuk semua orang," ujarnya.
"Mas Bambang itu belum ada secarik kertas yang menyatakan dia staf UNU. Dosen kan syarat S2, background dia S1 akuntansi. Dia setahun ini jarang ke UNU bahkan nggak pernah," katanya.
Lanjutnya, Bambang ini juga bukan dosen tamu atau tidak tetap lantaran tidak pernah mengajar secara akademi. Kegiatannya hanya sekadar bantu-bantu di UNU apabila ada seminar dan diskusi.
"Ya bukan dosen tamu, bukan dosen lepas karena nggak ada SK. Kalau dosen luar biasa mau mengajukan ke prodi dan harus qualified. Hanya sekadar bantu-bantu (dia) misal ada seminar akuntansi," katanya.
ADVERTISEMENT
"Bambang beberapa kali terlibat kegiatan tapi bukan akademik. Kalau ngaku dosen salah besar," ujar dia.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)