kumparan
23 Okt 2017 17:40 WIB

Ujung Teka-Teki Pembunuhan John F. Kennedy

Pesta pelantikan Kennedy sebagai presiden USA. (Foto: Reuters)
John Fitzgerald Kennedy baru berusia 43 tahun 236 hari ketika ia mulai menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Angka tersebut adalah yang termuda kedua di sepanjang sejarah AS --hanya kalah beberapa bulan oleh Theodore Roosevelt yang menjadi presiden usai William McKinley dibunuh memasuki periode kedua kepemimpinannya.
ADVERTISEMENT
Di pidato pelantikannya, Kennedy tak bertele-tele. Di antara semua hal lain yang ingin ia ubah ke depannya, satu hal ia tekankan benar-benar: kebebasan dan kemerdekaan.

Let every nation know, whether it wishes us well or ill, that we shall pay any price, bear any burden, meet any hardship, support any friend, oppose any foe to assure the survival and the success of liberty.

- John Fitzgerald Kennedy

Di dalam negeri, ia bercita-cita mewujudkan program New Frontier --sebuah proyek ambisius yang ia harap mencipta batas baru bagi capaian kemanusiaan.
Dalam program tersebut, ia berencana memberikan anggaran pendidikan dari sumber federal; memberikan jaminan medis bagi warga lanjut usia; bantuan ekonomi bagi daerah-daerah terpencil; rangkaian kebijakan untuk menahan laju resesi ekonomi; dan --tentu saja-- rencana untuk mengakhiri diskriminasi ras dengan memberikan akses pendidikan, kesehatan, dan politik yang sama bagi mereka yang bukan kulit putih.
ADVERTISEMENT
Namun, jalan yang ditempuh Kennedy adalah rute berjurang dan tebing terjal. Kebanyakan proposal legislatifnya mentok di Capitol Hill. Sampai akhir hayatnya, hanya sedikit cita-citanya menjadi kenyataan. Justru, kebijakan macam Civil Rights Act yang melarang diskriminasi karena ras, agama, dan suku bangsa baru disahkan di masa Lyndon B. Johnson, presiden penerus Kennedy setelah ia tewas.
Video
Tantangan yang lebih besar menanti Kennedy di luar negeri. Yang utama, jelas, hantu komunisme yang mewujud lewat rudal-rudal Soviet dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan AS di negara komunis Amerika Latin.
Dan tak ayal, terpilih di puncak ketegangan Perang Dingin, Kennedy sudah harus menghadapi Kuba hanya tiga bulan setelah ia dilantik. Saat itu, Kuba telah jatuh ke dalam kuasa rezim komunis Fidel Castro, yang menjadi penguasa sejak Revolusi Kuba di tahun 1959.
ADVERTISEMENT
Sejak Revolusi Kuba, hubungan Kuba dan Soviet menjadi semakin erat. Padahal, sebelum 1959, AS dan negara yang hanya sekali berlayar dari Miami, Florida itu cukup dekat dengan AS.
Saat itu, AS punya Jenderal Fulgencio Batista, penguasa dari kelompok serdadu yang mengkudeta Presiden Carlos Prio di tahun 1952. Dapat ditebak, kekuasaan Batista dari 1952 ke 1959 erat dengan dukungan pemerintah AS.
Pasca Batista naik ke tampuk kepresidenan, keadaan payah yang membuat Prio harus mengasingkan diri ke Miami, Florida justru memunculkan gerakan di masyarakat Kuba sendiri. Muncullah nama Che Guevara dan Fidel Castro, di mana yang terakhir berhasil ganti menjadi presiden Kuba setelah Batista turun takhta.
Fidel Castro dan Che Guevara (Foto: Wikimedia Commons)
Pada awal kepemimpinannya, Castro sebenarnya masih lumayan netral. Ia bahkan sempat mengunjungi AS untuk bertemu dengan Eisenhower guna menjajaki kerjasama ekonomi lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
Namun, Februari 1960, Eisenhower justru menolak menemui Castro. Ini disebabkan oleh langkah Kuba yang menasionalisasi aset-aset ekonomi asing di Kuba --macam bisnis perbankan, pengilangan minyak, hingga kebun gula dan kopi-- yang memang menjadi kebijakan nasional Castro setelah Revolusi Kuba.
Soviet, yang menemukan Castro dipermalukan oleh AS, melonjak kegirangan. Berbagai permintaan negara kecil tersebut --macam usaha menjual gula hasil petani mereka-- dipenuhi dengan enteng. Soviet juga memasok secara langsung bahan bakar minyak ke Kuba. Alhasil, Khrushchev dan Castro makin mesra.
AS tentu saja tak menyukai makin tak terkontrolnya Kuba ini. Gertakan AS yang tak menerima Castro justru bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Soviet. AS juga tahu bahwa Castro dan Che adalah dua sosok karismatik yang ulung. Keduanya bisa saja menyebarkan komunisme ke negara-negara sekitarnya. Mau tak mau, harus ada sebuah muslihat untuk menahan laju komunisme di negara Amerika Latin lainnya.
Dwight Eisenhower (Foto: Wikimedia Commons)
Keadaan genting ini dihadapi Eisenhower dengan menggelontorkan dana 13,6 juta dolar AS pada CIA. CIA pimpinan Allen Dulles dituntut melaksanakan misi yang bertujuan untuk menggulingkan kuasa Castro dari politik Kuba.
ADVERTISEMENT
CIA kemudian bergerak menyusun operasi dengan mengikutsertakan angkatan kontra-revolusi Kuba. Sejak April 1960, Brigade 2506 dilatihnya di Guatemala dan pulau Ussepa. Materi pelatihan meliputi taktik serangan amfibi, perang gerilya, pelatihan senjata dan infanteri, taktik unit, serta navigasi matra laut dan darat.
Meski begitu, keputusan akhir apakah pasukan tersebut jadi dikirim ke Kuba atau tidak baru diputuskan satu tahun setelahnya. Dan ketika itu, Eisenhower tak lagi berkuasa. Celaka bagi Kennedy, ia harus melaksanakan apa yang telah direncanakan oleh presiden sebelumnya.
Maret 1961, Kennedy baru tiga bulan menjabat sebagai presiden. Melihat perkembangan komunisme di negara yang amat dekat dengan AS, Kennedy lantas menyetujui pemberangkatan pasukan buatan CIA itu untuk menginvasi Kuba. Kennedy tak menyangka keputusannya ini akan mempengaruhi kepemimpinannya (dan hidupnya) selama beberapa tahun ke depan.
ADVERTISEMENT
Langkah pertama, CIA memfasilitasi para eksil Kuba di Miami untuk membentuk Cuban Revolutionary Council (CRC). CRC dipimpin oleh Jose Miro Cardona, mantan perdana menteri Kuba sebelum Castro naik takhta. Nantinya, Cardona diproyeksikan akan memimpin Kuba setelah Castro disingkirkan oleh invasi yang sudah dirancang CIA.
Maksud AS di sini adalah untuk mengatur agar serangan dan kudeta terhadap Castro benar-benar dilakukan oleh rakyat Kuba sendiri. Dus, peran CRC amat penting untuk menjadi simbol politik di balik serangan Brigade 2506 --supaya AS tak dituding sebagai dalang dari penggulingan Castro nantinya.
Padahal, jelas Kennedy menyetujui rencana CIA ini. Serangan ke Kuba itu akan diikuti oleh 1.400 personel militer yang dibagi menjadi lima batalion infanteri dan sebuah batalion penerjun payung. AS juga akan mendukung gerak pasukan tersebut dengan serangan udara menggunakan pesawat B-26 bomber.
ADVERTISEMENT
Bahkan, Kennedy juga sempat mengubah titik mula serangan dari daerah Trinidad ke Bahia de Chohinos atau Teluk Babi (Bay of Pigs), yang kemudian menjadi julukan invasi tersebut: Bay of Pigs Invasion.
Brigade 2506 yang ditangkap setelah invasi gagal (Foto: MIGUEL VINAS/AFP)
Namun apa daya, invasi tersebut gagal secara prematur. Brigade 2506 menemui perlawanan sengit dari militer Kuba pimpinan Jose Ramon Fernandez dan Castro sendiri. Campur tangan AS pun tercium oleh dunia internasional pada hari kedua. Kennedy, yang berteriak-teriak soal freedom dan liberty pada saat pelantikannya sebagai presiden, ketahuan intervensi dan coba menggulingkan presiden di negara tetangganya. Keadaan runyam saat itu.
Gara-gara itu, Kennedy menghentikan pasokan militer AS di tengah-tengah invasi. AS yang seharusnya memberikan dukungan laut dan udara, tiba-tiba tak mau lagi campur tangan. Ini menjadi sikap keras Kennedy yang tak mau terlihat intervensionis pada negara lain.
ADVERTISEMENT
Hasilnya pun mudah ditebak. Invasi Teluk Babi gagal total. Pada hari ketiga, Brigade 2506 sudah menyerah. Proyek besar CIA hancur lebur. Justru, Kennedy seakan lepas tangan terhadap misi penggulingan Castro tersebut dan melimpahkan tanggung jawabnya ke CIA.
Bahkan, menurut laporan New York Times yang terbit tiga tahun setelah kematian Kennedy, sang Presiden sempat ingin membubarkan CIA.

And President Kennedy, as the enormity of the Bay of Pigs disaster came home to him, said to one of the highest officials of his Administration that he “wanted to splinter the C.I.A. in a thousand pieces and scatter it to the winds.”

- The New York Times, 25 April 1966

Kalimat rencana pembubaran CIA oleh Kennedy tersebut memang agak kurang bisa dibuktikan. Di antara semua media, hanya New York Times yang pernah menuliskan bahwa Kennedy pernah mengutarakan kalimat serupa. Meski begitu, kematian Kennedy yang tiba-tiba dan penuh misteri mau tak mau membawa banyak cerita ke dalam berbagai analisis konspiratif: siapa yang membunuh Kennedy? Mengapa Kennedy dibunuh?
John F. Kennedy beberapa saat sebelum ditembak (Foto: Wikimedia Commons)
Cerita kematian Kennedy memang mau tak mau menimbulkan banyak pertanyaan. Kennedy ditembak dari jarak jauh ketika berada di iring-iringan mobil kepresidenan di Dallas, Texas pada 22 November 1963. Lee Harvey Oswald, yang dinyatakan sebagai pembunuh tunggal oleh hasil investigasi Warren Commission, pada awalnya ditangkap bukan untuk kasus pembunuhan Kennedy, namun karena pembunuhan seorang polisi Dallas bernama J.D. Tippit.
ADVERTISEMENT
Oswald pun menolak telah membunuh keduanya. Ia mengaku bahwa ia telah dimanfaatkan oleh pihak lain. “I am only a patsy. You are wasting your time. I don't know anything about what you are accusing me.” Baginya, keputusan petugas keamanan menjadikannya tersangka hanya didasarkan pada fakta bahwa ia pernah tinggal di Uni Soviet, tak lebih.
Video
Oswald pun tak sempat diadili. Dua hari setelah tewasnya Kennedy, Oswald ditembak oleh Jack Ruby, pemilik sebuah kelab malam di Dallas, Texas. Ruby mengaku, keputusannya menembak Oswald didasari pada rasa putus asa melihat presidennya tewas oleh Oswald. Dengan membunuh Oswald, Ruby menilai telah menghindarkan “...Nyonya Kennedy dari ketidaknyamanan harus menghadiri pengadilan-pengadilan terkait pembunuhan suaminya.”
Untuk menginvestigasi pembunuhan Kennedy tersebut, Presiden Johnson membentuk The President's Commission on the Assassination of President Kennedy, yang juga dikenal dengan nama Warren Commission. Dalam laporannya sepanjang 888 halaman, Warren Commission menentukan bahwa Oswald merupakan pembunuh tunggal dari Kennedy. Pun begitu Jack Ruby, yang bertindak sendiri dalam membunuh Oswald.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, kesimpulan oleh Warren Commission ini banyak ditentang oleh publik. Beberapa teka-teki seperti apa yang dilakukan dilakukan Oswald beberapa minggu sebelum pembunuhan Kennedy di kedutaan besar Soviet di Meksiko juga tak dijelaskan dalam laporan Warren Commission itu.
Jack Ruby saat menembak Lee Harvey Oswald (Foto: Robert Jackson/Dallas Times Herald via Flickr)
Dave Perry telah meneliti soal pembunuhan Kennedy sejak 1976. Menurutnya, banyak teori konspirasi yang beredar tak lebih masuk akal ketimbang hasil penyelidikan resmi yang diketahui publik sampai saat ini. “Orang-orang memanggilku sang anti-konspirasi,” ucapnya kepada CNN.
Misalnya saja, soal teori bahwa Lyndon B. Johnson sendiri yang berada di balik pembunuhan Kennedy. Teori ini didasarkan pada pernyataan Madeleine Brown, yang mengaku pernah punya hubungan gelap dengan Johnson.
Brown mengatakan bahwa mantan wapres Nixon, direktur FBI Edgar Hoover, dan Johnson pernah bertemu dalam sebuah pesta beberapa malam sebelum Kennedy dibunuh. Di situ, Brown mengaku bahwa Johnson sempat berbisik padanya, “Setelah besok, Kennedy-Kennedy itu tak akan bisa mempermalukanku lagi. Ini bukan ancaman, ini adalah janji.” Kennedy lain yang dimaksud tentu merujuk pada Robert Kennedy yang menjadi Jaksa Agung AS, dan Ted Kennedy yang menjadi senator sejak 1962.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, Perry tak mempercayai teori ini. “Ini jelas-jelas tidak benar,” ucap Perry, yang menemukan bahwa Johnson tak ada di pesta yang dimaksud. Banyak orang Texas yang tak suka pada Johnson --mereka berpikir Johnson ini seorang kriminal-- yang membuat banyak cerita beredar menuduh Johnson berada di balik pembunuhan Kennedy. Tapi tak ada bukti sama sekali.”
Lyndon B Johnson disumpah menjadi presiden AS (Foto: Wikimedia Commons)
Meski begitu, ada satu teori yang sampai saat ini tak bisa ia buktikan ketidakbenarannya --bahwa CIA yang ada di belakang pembunuhan Kennedy. Teori ini mengacu pada keinginan Kennedy untuk membubarkan CIA karena kekacauan yang disebabkan badan intelijen tersebut.
Intervensi dan invasi gagal di Kuba yang jelas mencoreng nama baik Kennedy di dunia internasional juga menjadi penguat teori ini. Terlebih, dengan fakta bahwa Allen Dules --mantan direktur CIA-- menjadi anggota Komisi Warren memperkuat teori ini. Apalagi, Oswald adalah pendukung Kuba yang didukung Soviet.
ADVERTISEMENT
“Kita tahu bahwa Oswald pernah berada di Kedubes Soviet di Meksiko,” ucap Perry. “Kita bahkan tahu dia berbincang dengan siapa, tapi kita tidak tahu apa yang ia bicarakan. Dan beberapa minggu setelahnya, ia menembak Kennedy.”
“Mungkin ada keterlibatan dia dengan Rusia. Atau mungkin, CIA-lah yang memperkerjakan Oswald. Atau mungkin juga dia double agent,” ucap Perry. Meski begitu, ia mengecilkan kemungkinan bahwa Soviet yang menyuruh Oswald untuk membunuh Kennedy.
Menurutnya, dengan kedekatan Oswald yang pernah tinggal di Soviet akan membuat Soviet sangat kentara apabila mendorong Oswald untuk membunuh Kennedy. “Ini akan menjadi aksi pemicu perang dan akan mengundang perang nuklir antara kedua negara.”
“Kita perlu tahu apa yang terjadi di Mexico City,” ucap Perry. Dan jawabannya, mungkin, ada di dokumen-dokumen rahasia CIA yang dijadwalkan dibuka Kamis (26/10) nanti.
Badan Intelijen AS, CIA (Foto: AP Photo)
Lalu, Sabtu (21/10) kemarin, ganti presiden AS yang penuh kontroversi, Donald Trump, berencana membiarkan agar dokumen-dokumen rahasia terkait pembunuhan mantan presiden John F. Kennedy diungkap ke publik.
ADVERTISEMENT
Rencananya, Kamis (26/10) nanti, sebanyak 3.000 dokumen yang belum pernah disentuh publik sama sekali dan 30 ribu dokumen lain yang telah dikeluarkan dengan pengurangan isi dokumen di sana-sini, akan digelontorkan seluruhnya oleh National Archives Amerika Serikat.
Keputusan untuk mempublikasikan dokumen tersebut dikeluarkan oleh Kongres AS pada tahun 1992, yang menyebut bahwa dokumen terkait pembunuhan Kennedy harus dibuka dalam 25 tahun mendatang. Dan batas tanggal publikasi jatuh pada 26 Oktober 2017.
Memang, hal ini bisa urung terjadi apabila ada lembaga keamanan nasional --misalnya saja, CIA-- mampu meyakinkan Trump untuk tetap membuat dokumen-dokumen tersebut rahasia.
Biasanya, ini dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa keterbukaan dokumen-dokumen tersebut dapat membawa pengaruh buruk ke pertahanan AS, operasi intelijen yang tengah berlangsung, maupun kepentingan AS di dunia internasional.
ADVERTISEMENT
Bahkan seperti dilansir Washington Post, Roger Stone (seorang konsultan politik dan orang kepercayaan Trump) mengatakan pada website pribadinya bahwa Direktur CIA telah meminta Trump menunda dibukanya dokumen tersebut setidaknya untuk 25 tahun ke depan.
Pun demikian menurut salah seorang anggota Dewan Keamanan Nasional (NSC) AS yang tak mau disebutkan namanya. “Sudah pasti akan ada permintaan kepada Presiden untuk tak membuka dokumen-dokumen tersebut, sudah pasti,” ucapnya seperti dikutip dari berita yang sama. “Akan ada dokumen-dokumen yang berkaitan dengan metode kerja badan-badan keamanan itu,” tambahnya.
Meski begitu, para ahli pembunuhan Kennedy meyakini bahwa terbukanya dokumen-dokumen tersebut tak akan berpengaruh banyak pada kesimpulan pembunuhan Kennedy.
Namun, tetap saja, terbukanya dokumen-dokumen rahasia tadi tak akan hanya memberikan pengetahuan tambahan soal apa yang terjadi di Meksiko, namun juga akan memenuhi hak masyarakat untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada presiden kesayangan mereka.
ADVERTISEMENT
Dan Amerika Serikat, untuk kali ini, berharap sepenuhnya pada Trump.
=============== Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!
Donald Trump (Foto: Youtube)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan