Ulama Berbagai Negara Populerkan Kembali Metode Tahfidz Lauh di Indonesia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta Daurah Al-Qur'an Nasional Mempraktikkan Metode Hafalan Lauh di Pesantren Az-Zikra, Sentul, Bogor, Sabtu (4/5/2024). Foto: Az-Zikra
zoom-in-whitePerbesar
Peserta Daurah Al-Qur'an Nasional Mempraktikkan Metode Hafalan Lauh di Pesantren Az-Zikra, Sentul, Bogor, Sabtu (4/5/2024). Foto: Az-Zikra

Pakar Al-Qur'an dan ulama dari berbagai negara menggelar pelatihan (daurah) Al-Quran di Pesantren Az-Zikra, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Sabtu (4/5).

Menariknya, pelatihan ini membahas mengenai metode tertua dalam menghafal Al-Quran yang disebut lauh.

Metode Lauh adalah cara menghafal Al-Qur'an yang digunakan oleh Muslim Maroko, Aljazair dan Sudan sejak ratusan tahun lalu. Metode ini mewajibkan untuk menulis ayat saat menambah hafalan baru. Selain itu, metode ini juga menggunakan mushaf untuk menghafal ayat, lalu menulisnya dan menghafal dengan suara lantang.

Peserta Daurah Al-Qur'an Nasional Mempraktikkan Metode Hafalan Lauh di Pesantren Az-Zikra, Sentul, Bogor, Sabtu (4/5/2024). Foto: Az-Zikra
zoom-in-whitePerbesar
Peserta Daurah Al-Qur'an Nasional Mempraktikkan Metode Hafalan Lauh di Pesantren Az-Zikra, Sentul, Bogor, Sabtu (4/5/2024). Foto: Az-Zikra

Ketua Badan Kerjasama Tahfidz Qur’an (Baktiqu) Arfatul Hidayat menjelaskan bahwa, metode lauh ini belum populer di Indonesia. Sebab, selama ini santri-santri menghafal kitab sebanyak 6.236 ayat ini dengan metode membaca, dan mendengar.

“Nah, banyak metode yang sudah kita ketahui bersama, tapi metode lauh ini menjadi metode terbaik karena menyatukan semua fungsi dalam tubuh kita atau dalam anggota tubuh kita ini untuk menghafal Al-Qur’an,”

kata Arfatul kepada kumparan, Rabu (8/4).

Peserta Daurah Al-Qur'an Nasional mempraktikkan metode hafalan lauh di Pesantren Az-Zikra, Sentul, Bogor, Sabtu (4/5/2024). Foto: Az-Zikra

Selama ini banyak santri sulit menjaga hafalan setelah mempelajari Al-Quran. Hal ini menjadi masalah utama usai menyelesaikan hafalan 30 juz.

“Masalah berikutnya banyaknya orang -orang yang tidak berkompeten atau belum berkompeten dalam bidang pendidikan Al -Qur'an,” ujarnya.

Sebanyak ratusan peserta hadir dalam kegiatan ini. Mulai dari pimpinan pesantren, dosen, hingga pakar Al-Qur’an dari Al-Jazair, dan Malaysia. Sementara itu peserta lainnya berasal dari Kalimantan, Lombok, hingga Lampung.

“Jadi kalau mungkin mau di total antara peserta daftar, kemudian yang hadir sekitar 500 [peserta] undangan. Bahkan panitia sendiri adalah para pimpinan pesantren. Itu kemungkinan besar mencapai di angka 700 peserta semuanya secara menyeluruh,” imbuh Arfatul.

Pemimpin salah satu pesantren di Depok ini turut mengakui bahwa perkembangan pembelajaran Al-Qur’an telah berkembang pesat. Ia berharap kegiatan semacam ini akan meningkatkan pemahaman kepada para penghafal Al-Qur’an di Indonesia.

“Jangan fokus untuk mendidik santri tetapi lupa untuk mengembangkan diri kita sendiri. Maka kita ajak untuk hadir di sini untuk sama -sama menyadari bahwa kita harus terus untuk belajar, belajar dan belajar memperdalam ilmu al -Quran yang kita miliki,” pungkasnya.

Shaikh Dr. Abdul Karim Muhammad Laamat Asy Shinqity (kiri), Suaikh Sufyan Nur Marbu Abdullah Thayyib Al-Banjari Al-Makky (tengah), dan peserta daurah Al-Qur'an Nasional saat mengajar di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor, Sabtu (4/5/2024). Foto: Az-Zikra

Beberapa tokoh yang hadir dalam acara ini yaitu Pengajar Studi Islam dan Bahasa Arab dari Suriah Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Khatib Asysyami Azabydi, Dosen Imam Mohammad Ibn Saud Islamic University (Lipia) Dr. Muhammad Laamat Asy Syinqithi.

Berikutnya, Praktisi Metode Lauh Dr. Abdul Karim Muhammad Khalili Qassul Al Jazairy, lalu Praktisi dan Pengajar Al-Qur’an pemilik sanad Qiraah Ashim riwayat Hafs, Syaikh Sufyan Nur Marbu Abdullah Thayyib Al-Banjari Al-Maliki, dan Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia, Syaikh Dr. Muhammad Dhau’ As Sudani.