kumparan
5 Oktober 2019 7:27

Ulama Syiah Tuntut Pemerintahan Irak Mundur

Seorang pemrotes ketika kendaraan polisi anti huru hara membakar di belakangnya selama bentrokan di tengah-tengah demonstrasi di ibukota Irak, Lapangan Tayeran di pusat kota Baghdad pada 3 Oktober 2019. Foto: AFP/AHMAD AL-RUBAYE
Ulama terkemuka Irak, Moqtada Sadr, meminta pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi mengundurkan diri. Seruan tersebut merupakan buntut memburuknya kondisi Irak akibat dihantam demo besar.
ADVERTISEMENT
Mantan pemimpin milisi Syiah tersebut suaranya sangat berpengaruh di Irak. Ia juga pemimpin dari kelompok politik terbesar di parlemen Irak.
Sadr menegaskan, pengunduran pemerintahan adalah hal yang perlu dilakukan saat ini demi mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak lagi.
Suasana demo di Baghdad, Irak 2 Oktober 2019. Foto: REUTERS/Khalid al-Mousily
"Pemerintahan harus mundur dan pemilu mesti dipercepat di bawah pengawasan PBB," Sadr, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (5/10).
"Saya tidak bisa diam melihat pertumpahan darah di Irak," sambung dia.
Sampai Jumat (4/10) lalu, demo telah di Irak telah berlangsung selama empat hari. Unjuk rasa digelar demi memprotes korupsi dan tingkat pengangguran tinggi.
Seorang pemrotes Irak saat demonstrasi menentang korupsi negara, gagal layanan publik dan pengangguran di lapangan Tayaran di Baghdad pada 2 Oktober 2019. Foto: AFP/AHMAD AL-RUBAYE
Laporan Komisioner HAM Irak, selama empat hari demo, sebanyak 60 warga Irak, terdiri dari polisi dan sipil, kehilangan nyawa.
ADVERTISEMENT
Di samping korban tewas, lebih dari 1.600 warga Irak lainnya menderita cedera.
Aparat keamanan Irak menolak disalahkan atas tewasnya warga sipil. Mereka berdalih ada penembak jitu dari pihak tak bertanggung jawab yang melepaskan tembakan ke arah demonstran.
Hingga Jumat (4/10) lalu, kondisi Irak semakin memburuk. Suara senapan mesin bahkan terdengar di hampir seluruh penjuru Irak.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan