Umat Katolik Nikaragua Tetap Gelar Misa Meski Dilarang Pemerintah
·waktu baca 2 menit

Umat Katolik di Nikaragua menghadiri ibadah misa skala besar meski dilarang pemerintah. Ibadah yang digelar di ibu kota Managua itu dikelilingi oleh kehadiran polisi bersenjata lengkap.
Sebelum misa massal pada Sabtu (13/8) digelar, pertikaian antara gereja dan pemerintah Nikaragua makin memuncak. Permasalahan dipicu investigasi berujung penahanan seorang pastor yang juga kritikus vokal Presiden Daniel Ortega, Rolando Alvarez.
Akibat penahanan itu kepolisian setempat melarang pelaksanaan misa massal. Masalah keamanan internal jadi alasan pelarangan tersebut.
Tidak peduli dengan larangan polisi, pemimpin Gereja Katolik memerintahkan umat tetap menghadiri misa di Managua.
"Kalian datang dengan kegembiraan serta banyak kesedihan," ujar salah seorang pemimpin gereja saat misa, Kardinal Leopoldo Brenes seperti dikutip dari Al-Jazeera.
"Ampuni mereka Tuhan karena mereka tidak tahu apa yang diperbuat," sambung dia.
Situasi di Nikaragua mendapat perhatian tajam dari Vatikan. Salah satu pejabat Vatikan Juan Antonio Cruz meminta agar pertikaian antara Gereja dan pemerintah Nikaragua segera diselesaikan.
"Kami menyerukan agar segera dicari jalur saling pengertian didasari saling hormat dan percaya," ujar Cruz.
Presiden Ortega telah lama melihat Gereja Katolik sebagai ancaman terhadap kekuasaannya. Ia menduga Gereja dan kekuatan asing sengaja bersekongkol demi melakukan kudeta pemerintahan.
Pemerintah kemudian menuduh Alvarez sebagai salah satu kekacauan di Nikaragua. Alvarez bahkan dituduh sebagai pemicu tindakan kekerasan serta menyebar kebencian. Alvarez bahkan sempat ditahan di Sebaco. Sebelum akhirnya beberapa hari lalu dilepaskan.
