Untuk Pertama Kali Iran Eksekusi Gantung Demonstran Mahsa Amini

8 Desember 2022 17:07 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi hukuman mati. Foto: Dariush M/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hukuman mati. Foto: Dariush M/shutterstock
ADVERTISEMENT
Iran mengeksekusi seorang pria atas keterlibatannya dalam protes yang dipicu kematian Mahsa Zhina Amini pada Kamis (8/12).
ADVERTISEMENT
Ini merupakan eksekusi pertama terkait unjuk rasa tersebut. Hukuman gantung dijatuhkan terhadap Mohsen Shekari yang ditangkap lantaran memblokir jalan dan menusuk bahu anggota pasukan Basij. Cedera akibat pisau itu membutuhkan 13 jahitan.
Menurut pengadilan, Shekari dinyatakan bersalah karena menggunakan senjata 'dengan niat membunuh, menyebabkan teror, dan mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat'.
Dia dihukum atas 'moharebeh' atau mengobarkan 'perang melawan Tuhan' pada 1 November. Shekari mengajukan banding atas putusan ini, tetapi Mahkamah Agung menguatkannya pada 20 November.
"Mohsen Shekari, seorang perusuh yang memblokir Jalan Sattar Khan di Teheran pada 25 September dan melukai salah satu penjaga keamanan dengan parang, dieksekusi pagi ini," jelas pengadilan, dikutip dari AFP, Kamis (8/12)
Basij adalah cabang relawan paramiliter dari angkatan bersenjata Pengawal Revolusi Iran (IRGC). Pengadilan Iran turut menjatuhkan hukuman mati bagi lima orang lainnya dengan cara digantung karena membunuh seorang anggota Basij pada Selasa (6/12).
ADVERTISEMENT
Jumlah orang yang dijatuhi hukuman mati sehubungan dengan protes tersebut lantas menjadi sebelas orang. Organisasi HAM, Amnesty International, menyebutnya sebagai pengadilan palsu.
Para demonstran Iran turun ke jalan-jalan di ibukota Teheran selama protes untuk Mahsa Amini, beberapa hari setelah dia meninggal dalam tahanan polisi. Foto: AFP
Protes nasional telah melanda Iran selama hampir tiga bulan sejak Amini meninggal dunia dalam keadaan koma pada 16 September.
Perempuan etnis Kurdi berusia 22 tahun itu ditangkap lantaran melanggar aturan ketat berpakaian Iran. Sebab, sedikit rambutnya terlihat saat dia melakukan perjalanan ke Teheran. Amini diduga mengalami penyiksaan saat ditahan unit polisi moral Iran.
Para perempuan lantas memimpin demonstrasi. Mereka melepas dan membakar hijab, serta meneriakkan slogan anti-pemerintah.
Iran menggambarkan aksi mereka sebagai 'kerusuhan' yang dipicu musuh bebuyutannya dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Israel.
Kelompok HAM, Iran Human Rights (IHR), melaporkan pasukan keamanan telah membalas protes dengan tindakan keras.
ADVERTISEMENT
Alhasil, sedikitnya 458 orang—termasuk 63 anak-anak—tewas dalam gerakan yang telah menyebar ke seluruh Iran itu per Rabu (7/12).
Otoritas turut menangkap ribuan orang dari akademisi, jurnalis, dan pengacara. Tindakan keras ini menuai kecaman internasional. Dewan HAM PBB (UNHRC) memutuskan untuk meluncurkan penyelidikan tingkat tinggi atas kekerasan tersebut pada 24 November.