Untuk Pertama Kali, PM Israel Menginjakkan Kaki di Uni Emirat Arab

13 Desember 2021 10:58 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
PM Israel Naftali Bennett. Foto: Ronen Zvulun/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
PM Israel Naftali Bennett. Foto: Ronen Zvulun/REUTERS
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett pada Minggu (12/12/2021) menginjakkan kaki di Uni Emirat Arab (UEA).
ADVERTISEMENT
Kunjungan Bennett di UEA sangat bersejarah. Ia menjadi pemimpin Israel pertama yang melawat resmi ke UEA.
Lawatan itu terlaksana usai Israel menormalisasi hubungan dengan beberapa negara Muslim, salah satunya UEA, pada 2020 lalu.
Keterangan kantor PM Israel, setibanya di Abu Dhabi Bennett disambut Menlu UEA Abdullah Zayed Al-Nahyan. Sambutan itu diapresiasi Bennett sebagai bentuk "keramahan yang begitu hangat."
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett. Foto: Ronen Zvulun/REUTERS
"Saya sangat senang berada di sini sebagai kunjungan pertama pemimpin dari Israel," ujar Bennett seperti dikutip dari AFP.
"Kami menantikan untuk memperkuat hubungan ini," sambung dia.
Pada Senin (13/12/2021) Bennett dijadwalkan bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi, Pangeran Mohammed bin Zayed (MBZ). Kedua pemimpin akan membicarakan penguatan di bidang ekonomi dan permasalahan di kawasan.
Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan Foto: Reuters/Adnan Abidi
Sebelum berangkat ke UEA, dalam video yang dirilis kantor PM, Bennett mengatakan hubungan Israel dan UEA sangat baik dan luas. Dia menginginkan, hubungan tersebut terus terpelihara dan perdamaian antara kedua rakyat bisa tercipta serta hangat seperti relasi dua pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini, Pemerintah UEA belum mengeluarkan pernyataan mengenai kunjungan Bennett.
Pada 2020 UEA, Bahrain, dan Maroko jadi tiga negara mayoritas Muslim yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sudan juga sudah memulai pembukaan namun belum berjalan penuh.
Keputusan sejumlah negara Muslim membuat Palestina kecewa. Sebab, Palestina masih terus berjuang melawan pendudukan Israel di wilayahnya.