UNY Buka Suara soal Dugaan Keterlibatan Alumni dalam Pemalsuan Riset di Denmark
·waktu baca 3 menit

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) buka suara terkait adanya dugaan keterlibatan dua alumninya dalam kasus dugaan pemalsuan riset untuk mengikuti konferensi ilmiah di Copenhagen, Denmark.
Pihak kampus mengaku tengah mendalami identitas dua nama yang ramai dibicarakan sebagai alumni UNY di media sosial, yaitu Rifaldy Fajar dan Prihantini.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, mengatakan pihaknya menemukan dua nama tersebut dalam basis data alumni. Namun, ia belum bisa memastikan bahwa keduanya adalah benar alumni UNY.
“Kalau di database kami, ada dua nama yang sama dengan dua orang yang sedang viral tersebut. Ini masih kami dalami karena data yang digunakan saat publikasi berganti-ganti dan tidak ada nama departemen atau prodi tersebut di UNY,” kata Nur kepada kumparan, Rabu (27/5).
Pihaknya saat ini masih menelusuri dan mencoba menghubungi dua alumni yang namanya dikaitkan dalam polemik tersebut.
“Saat ini kami meminta teman-teman dosen dari FMIPA untuk reach out dua nama alumni yang ada di database kami. Karena memang sosmed beliau berdua sepertinya tidak bisa dikontak juga,” ujarnya.
Nur mengatakan, salah satu nama yang disebut, yakni Prihantini, sudah berhasil dihubungi pihak kampus. Menurutnya, Prihantini akan melakukan klarifikasi di media sosial pribadinya. Sementara Rifaldy masih belum bisa dikontak.
“Ini Rifaldy yang ada di database kami belum bisa kami kontak,” kata Nur.
“Kami berhasil menghubungi Prihantini, responsnya nggih akan ada klarifikasi di sosmed. Sepertinya nomor hp-nya dibanjiri pesan juga,” lanjut dia.
Nur juga menjelaskan dua nama yang ada dalam basis data berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
“Kalau yang ada di kami demikian (dari FMIPA),” katanya.
Ia menjelaskan, nama Rifaldy tercatat sebagai angkatan 2014 dan lulus pada 2017. Sedangkan nama Prihantini tercatat sebagai angkatan 2015 yang lulus tahun 2018.
“Sudah benar yang ini. Atas nama R angkatan 2014 dan P angkatan 2015,” ujar Nur.
Apabila keduanya terbukti merupakan alumni yang terlibat dalam dugaan pemalsuan riset tersebut, Nur menyebut pihak kampus akan berdiskusi terkait sanksi atau langkah etik yang akan diberikan.
“Mengenai hal ini [sanksi], perlu kami bicarakan dengan pimpinan dan komite etik sepertinya. Supaya tidak menyalahi aturanߙ,” ujar Nur.
“Intinya, jika benar keduanya alumni, perlu kami diskusikan dengan pimpinan, komite etik dan pihak terkait untuk mengambil langkah selanjutnya,” pungkasnya.
Sebelumnya, sekelompok periset Indonesia diduga memalsukan riset untuk mengikuti konferensi ilmiah yang diselenggarakan di Copenhagen, Denmark. Dugaan skandal pemalsuan riset ini viral setelah diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5). Masalah ini menjadi perbincangan di media sosial di Indonesia kemudian.
Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.
ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.
Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).
