Upaya Merawat Budaya Ondel-ondel dari Pinggiran Jakarta

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Taufik Hidayat dari Sanggar Ondel-ondel Mamit CS saat ditemui di Kramat Pulo, Jakarta Pusat, Kamis (29/5/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Taufik Hidayat dari Sanggar Ondel-ondel Mamit CS saat ditemui di Kramat Pulo, Jakarta Pusat, Kamis (29/5/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Kampung Ondel-ondel di Kramat Pulo, Jakarta Pusat, dikenal sebagai tempat bagi para penampil dan juga pengrajin ondel-ondel. Di sisi kanan dan kiri ruas jalan itu, terlihat boneka ondel-ondel dijajakan dengan rapi.

Wajah dan tingginya yang khas membuat beberapa anak yang melihatnya menangis ketakutan. Tapi, adapula anak-anak yang berani mendekat kemudian berfoto dengan boneka itu.

Suasana Kampung Ondel-ondel, Kramat Pulo, Jakarta Pusat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Boneka ondel-ondel merupakan bagian dari budaya Betawi yang sudah sejak lama diwariskan.

Warga Kampung Ondel-ondel, Taufik Hidayat, mengatakan ayahnya yang bernama Mamit merupakan orang pertama yang menyebarkan budaya ondel-ondel di kampung tersebut pada tahun 1984. Ketika itu, Mamit membuat sanggar ondel-ondel yang diberi nama Mamit Cinta Setia Kawan atau dikenal Mamit CS bersama tiga temannya.

"Beliau (Mamit) ikut sama temannya dulu tadinya, temannya punya barongan (ondel-ondel), dia ikut-ikut dulu terus buka sendiri lah," kata dia ketika ditemui pada Kamis (29/5).

Sanggar yang dibuat Mamit tak hanya sering tampil keluar masuk kampung, tapi juga membuat bonekanya. Seiring waktu, jumlah sanggar di Kampung Ondel-ondel bertambah dua lagi yakni Irama Betawi dan Alfatir. Tiga sanggar tersebut aktif tampil dan membuat ondel-ondel sampai sekarang.

"Itu yang aktif di daerah sini. Yang punya sanggar dan pembuat juga beliau-beliau," ucap dia.

Suasana Kampung Ondel-ondel, Kramat Pulo, Jakarta Pusat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Dijual Rp 3-6 Juta

Boneka ondel-ondel, kata Taufik, dibuat menggunakan bambu yang dibeli para pengrajin di wilayah Kemayoran. Bambu itu dibentuk sedemikian rupa dan disesuaikan dengan ukuran tubuh boneka. Sementara itu, kain untuk menutupi badan dijahit oleh penjahit yang sudah bekerja sama dengan warga Kampung Ondel-ondel.

"Kainnya dari bahan, kita beli juga terus dijahit. Dijahit juga bukan jahit sendiri, jadi ada temen. Kita itungannya kerja sama tukang jahit," ujar dia.

Adapun untuk bagian wajah, dibuat sendiri oleh para pengrajin. Menurut Taufik, membuat wajah boneka merupakan bagian yang tersulit karena memerlukan cahaya matahari untuk mengeringkan cat yang dioleskan di wajah ondel-ondel. Total, membutuhkan waktu selama sepakan untuk membuat sepasang boneka ondel-ondel dengan harga berkisar Rp 3 juta hingga Rp 6 juta.

Taufik Hidayat dari Sanggar Ondel-ondel Mamit CS saat ditemui di Kramat Pulo, Jakarta Pusat, Kamis (29/5/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Soal peminat, Taufik menyebut biasanya berasal dari kalangan pemerintahan. Namun, boneka ondel-ondel juga sudah dipasarkan hingga keluar negeri dan dapat dipesan lewat marketplace.

"Itu (bagian wajah) bukan bambu, fiber glass, bahan kimia. Itu susahnya. Kalau kita mau buat topeng itu kan kita mesti pakai sinar cahaya matahari, kalau awal lembab dia temponya lama, jadi pengerjaan kita gak sesuai," ujar dia.

Taufik mengaku pendapatan yang diperolehnya dari penjualan dan penampilan ondel-ondel tak menentu tiap bulan. Dia hanya menyebut dapat mengantongi uang berkisar Rp 70 ribu tiap harinya. Menurut dia, uang yang diperoleh dari hasil tampil, tak seluruhnya masuk ke kantong pribadi tapi ada yang disisihkan untuk kas.

Kini, Sanggar Mamit CS tak hanya tampil di sekitaran Jakarta tapi sudah merambah ke berbagai wilayah seperti Jawa Barat. Menurut dia, marak warga Betawi di sana yang memesan ondel-ondel untuk ditampilkan di hadapan anak-anaknya.

"Yang itu (uang hasil tampil) bukan buat mereka aja, tapi ada uang admin, jadi kalau ibaratnya kita sakit dipotong gitu. Kalau istri hamil dipotong dari situ," kata dia.

Ondel-ondel tampil saat Lebaran Betawi 2025 di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Sabtu (26/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Soal Larangan Ondel-ondel Dipakai Mengamen

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, kesenian Ondel-ondel yang menjadi ciri khas Betawi merupakan bagian dari kesenian dan kebudayaan, jangan dijadikan alat untuk mengamen.

Soal ini, Taufik mengatakan penampilan ondel-ondel sejak lama memang sudah identik dengan mengamen. Ondel-ondel dijadikan wadah untuk mencari nafkah. Ondel-ondel hanya dilarang untuk tampil di jalanan protokol dan hanya diperkenankan tampil keluar masuk kampung atau di acara hajatan.

"Dari dulu sampai sekarang barongan (Ondel-ondel) emang ngamen," katanya.

Ondel-ondel mengikuti Parade Budaya saat Car Free Day (CFD) di Kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (11/6/2023). Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Jika pun nantinya benar-benar dilarang, Taufik berharap agar pemerintah dapat menyediakan fasilitas bagi para pemain Ondel-ondel untuk tampil dan mencari nafkah.

Sejumlah tempat wisata yang tersebar di Jakarta dapat dijadikan lokasi bagi mereka tampil. Terpenting, kata dia, budaya ondel-ondel dapat terus dilestarikan.

"Kalau berhenti gak apa-apa cuma kan yang namanya budaya Betawi itu yang punya ondel-ondel di Jakarta itu mereka untuk melestarikan. Jadi, kita melestarikan lah itungannya, jadi ngamen itu bukan (sekadar) ngamen," ujar dia.