Update Haji 2025: Jemaah RI Sudah Tinggalkan Muzdalifah-Jalan Kaki 7 Km ke Mina

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jemaah haji di Muzdalifah. Foto: Moh Fajri/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jemaah haji di Muzdalifah. Foto: Moh Fajri/kumparan

Pemerintah Arab Saudi merilis data jemaah haji 2025. Total ada 1.673.230 orang
jemaah haji, data itu dilansir oleh Otoritas Umum Statistik Arab Saudi, bersumber dari Kementerian Dalam Negeri — kementerian yang dominan dalam pengelolaan data jemaah.

Puncak haji berlangsung 5-6 hari. Wukuf di Arafah pada Kamis (5/6) yang merupakan syarat sahnya haji telah berlangsung dengan lancar.

Setelah wukuf, jemaah bergerak menuju Muzdalifah, selanjutnya ke Mina. Inilah yang disebut fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).

Bagaimana sejauh ini pelaksanaan haji, berikut rangkumannya:

Wukuf Selesai, Operasional di Arafah Ditutup

Umat Islam memadati Jabal Rahmah saat melaksanakan Wukuf di Arafah, Makkah, Arab Saudi, Kamis (5/6/2025). Foto: Saudi Press Agency/Handout via REUTERS

Wukuf di Arafah pada puncak haji 2025 sudah selesai pada 9 Zulhijjah 1446 Hijriah atau 6 Juni 2025. Dari Arafah, para jemaah bergantian naik bus menuju Muzdalifah.

“Kami ingin sampaikan bahwa alhamdulilah pada hari ini tanggal 10 Zulhijjah 1446 Hijriah pukul 03.30 WAS (Waktu Arab Saudi), kami nyatakan bahwa seluruh jemaah haji Indonesia dari Arafah sudah terevakuasi Ke Muzdalifah dan juga ke Mina,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Hilman Latief, Jumat (6/6).

Hilman berharap proses perjalanan menuju Mina berjalan lancar, sehingga ibadah para jemaah haji bisa maksimal.

“Dengan ini kami nyatakan bahwa penyelenggaraan haji di Arafah kami tutup dan insyaallah jemaah haji Indonesia mendapatkan haji yang mabrur,” tutur Hilman.

Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini memang penuh dengan tantangan. Mulai keberangkatan dari Indonesia hingga pergerakan jemaah haji ke Arafah.

Nasaruddin menegaskan, PPIH Arab Saudi sudah bekerja maksimal dalam melayani jemaah haji. Berbagai kendala sudah ditangani dengan baik, meski masih dirasakan kekurangannya.

Seluruh Jemaah Haji RI sudah Tinggalkan Muzdalifah, Kini Bergerak Menuju Mina

Umat Islam memadati Jabal Rahmah saat melaksanakan Wukuf di Arafah, Makkah, Arab Saudi, Kamis (5/6/2025). Foto: Khaled Abdullah/REUTERS

Tahapan jemaah haji Indonesia untuk Mabit (menginap) di Muzdalifah dinyatakan selesai.

Kepala Bidang Pelindungan Jemaah yang juga Kepala Satuan Operasional Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Harun Al Rasyid, mengatakan seluruh jemaah haji Indonesia telah meninggalkan Muzdalifah.

Ratusan ribu jemaah haji Indonesia mengikuti Fase Armuzna. Setelah menyelesaikan prosesi Wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah, jemaah secara bertahap diberangkatkan menuju Muzdalifah usai masuk waktu Magrib. Setelah tengah malam, seluruh jemaah secara bertahap diberangkatkan menuju Mina.

“Hari ini, kami berada di Muzdalifah, tepatnya Jumat, 10 Zulhijjah 1446 H, telah dilaksanakan mabit seluruh jemaah haji Indonesia. Pagi ini, tepatnya pukul 09.40 WAS, Muzdalifah kami nyatakan clear,” tegas Harun Al Rasyid di Muzdalifah, Minggu (6/6).

“Jemaah haji Indonesia seluruhnya telah terdorong menuju Mina. Semoga keberkahan menyertai kita semua,” tambahnya.

Bus Tak Kunjung Datang, Jemaah Haji Terpaksa Jalan 7 Km dari Muzdalifah ke Mina

Jemaah haji, terutama asal Indonesia, terpaksa berjalan kaki sejauh 7 kilometer dari Muzdalifah ke Mina, Jumat pagi (6/6). Ini disebabkan bus yang tidak kunjung datang untuk membawa mereka.

Jemaah haji mulai menumpuk di Muzdalifah selepas magrib, Kamis (5/6). Pada Jumat dini hari, sudah ada yang mengantre untuk dijemput naik bus.

Pada saat itu, beberapa bus datang dan jemaah langsung berbaris di pintu keluar untuk menuju bus. Yang terjadi kemudian adalah mereka berdesak-desakan, bahkan ada jemaah yang tergencet karena ada jemaah yang dari samping menerobos masuk ke barisan depan.

Sekitar pukul 03.00 WAS (Waktu Arab Saudi), bus masih ada tapi lama datangnya. "Setelah itu bus sudah enggak datang lagi," kata seorang jemaah haji kepada kumparan.

Ada bus dari negara lain, itu pun mandek alias enggak jalan.

Pukul 05.00 WIB, suasana sudah mulai tidak kondusif apalagi yang telah mengantre di pintu keluar.

Matahari mulai muncul, tapi bus tak kunjung ada. Pilihannya, tetap menunggu bus atau jalan kaki?" ujar jemaah ini.

Ia bercerita, para jemaah mempertimbangkan untuk berjalan kaki mumpung masih pagi, pukul 07.00 WAS mungkin belum terlalu panas, ketimbang kalau menunggu bus sampai siang tapi enggak datang-datang lalu baru mulai jalan kaki, pasti akan sangat panas.

Para jemaah pun memutuskan untuk berjalan kaki pukul 07.00 WAS. "Jalanan jadi ramai. Apalagi ada jemaah negara lain juga yang datang," ujarnya.

"Di sepanjang jalan, keluhan-keluhan jemaah juga ada, mulai yang ketinggalan rombongannya, ada yang bingung nyari tenda, ada pula yang menangis," kata dia.

Di Mina, terpantau ada sejumlah jemaah haji yang masih mencari-cari lokasi tendanya. "Ada juga yang baru di-share location sama ketuanya," katanya.

Timwas Haji DPR: Antisipasi Krisis Tenda & Makanan Akibat Dibatalkannya Tanazul

Jemaah haji Indonesia usai turun dari bus Shalawat di Terminal Syib Amir, Rabu (14/5/2025). Foto: Moh Fajri/kumparan

Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Selly Andriany Gantina mendesak agar Tim Kesehatan Haji Indonesia bekerja secara maksimal selama fase puncak haji di Mina, menyusul pembatalan program tanazul bagi 37.000 jemaah oleh otoritas Arab Saudi.

Menurut Selly, pembatalan program tanazul—yang seharusnya menjadi solusi pengurangan kepadatan di Mina—menyebabkan lonjakan jumlah jemaah yang harus tetap berada di tenda-tenda Mina. Akibatnya, baik jemaah reguler maupun yang sedianya mengikuti tanazul kini harus berebut ruang tenda yang terbatas.

“Tim Kesehatan harus betul-betul maksimal selama di Mina karena banyak jemaah yang tidak kebagian tenda. Mereka sudah kelelahan berjalan dari Muzdalifah ke Mina, tapi sampai di Mina tidak ada tempat istirahat yang layak,” kata Selly di Makkah, Jumat (6/6/2025).

Anggota Komisi VIII DPR dari PDIP Selly Andriany Gantina. Foto: Youtube/ TVR Parlemen

Program tanazul adalah fasilitas yang memungkinkan jemaah tertentu—khususnya lansia dan jemaah risiko tinggi—untuk kembali lebih awal ke hotel di Makkah setelah selesai melempar jumrah Aqabah, tanpa harus menginap penuh di Mina. Program ini biasanya membantu mengurangi kepadatan, namun tahun ini dibatalkan secara sepihak oleh otoritas Saudi.

Dampaknya, bukan hanya masalah tempat beristirahat, tetapi juga distribusi logistik seperti makanan menjadi terganggu.

“Seharusnya makanan untuk 37.000 jemaah yang tanazul disiapkan di hotel, tapi sekarang harus ditambah di Mina. Kalau tidak diantisipasi, mereka bisa kelaparan. Ini bahaya, apalagi kondisi fisik jemaah sudah menurun,” kata Selly.

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu menambahkan, Tim Kesehatan harus bersiaga penuh mengingat beban fisik dan psikologis jemaah akan semakin berat di Mina, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas.