kumparan
search-gray
News19 Mei 2019 4:35

Usai Solo, Kendaraan di Tol Semarang-Surabaya Bisa Dipacu Maksimal

Konten Redaksi kumparan
Kondisi Tol Semarang-Surabaya di Kawasan Bawen/Ungaran
Kondisi tol Semarang-Surabaya di kawasan Bawen/Ungaran. Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan
Usai menempuh rute Jakarta-Semarang, kumparan kembali melanjutkan perjalanan ke Surabaya via tol Solo-Surabaya. Kami berangkat dari Semarang, pada Jumat (17/5) pukul 11.38 WIB, melalui pintu tol Gayamsari.
ADVERTISEMENT
Perjalanan menuju Solo, merupakan perjalanan yang mudah. Pasalnya, kondisi jalan masih tergolong bagus, tak ada kerusakan bahkan tak ada antrean.
Meski jalan lengang, pengemudi harus waspada akan kontur jalan tol saat melalui KM 7 Semarang-Solo. Pasalnya, kawasan tersebut memiliki kontur yang naik turun. Waspada penggunaan rem, dan pengaturan kecepatan Anda.
Pengemudi akan mendapatkan bonus pemandangan indah di kiri-kanan perjalanan. Hamparan sawah di lembah Ungaran dengan latar belakang Gunung Ungaran menjadi bonus tersendiri.
Jalan tol ini bakal membelah lembah-lembah Ungaran, artinya, Anda juga akan melewati dinding-dinding tebing bekas perbukitan yang terbelah. Namun bisa dipastikan kawasan ini rawan longsor, pasalnya dinding tersebut telah ditembok untuk memperkuat struktur tanah.
Pada pukul 14.04 WIB, kami memasuki kota Solo. Kedatangan kami di Solo, masih disambut dengan hamparan sawah serta gunung Merapi-Merbabu di sisi kanan.
ADVERTISEMENT
Sampai di Solo, kami keluar dari tol untuk berburu kuliner di kawasan Nusukan, Solo, yang berjarak 3,7 kilometer dari Gerbang Tol Ngemplak. Selain itu, kami juga berburu batik khas Laweyan, yang ada di jantung kota.
Kondisi Tol Semarang-Solo di lembah Ungaran
Kondisi tol Semarang-Solo di lembah Ungaran. Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan
kumparan melanjutkan perjalanan ke Surabaya, pada pukul 17.38 WIB. Kami masuk lagi ke gerbang tol Ngemplak, menuju ke Surabaya, via tol Solo-Surabaya.
Dari Solo, kami menguji kelancaran jalan tol dengan memasang kecepatan sampai batas maksimal. Kebetulan, kondisi jalan juga tengah lengang. Tak nampak begitu banyak kendaraan berat atau logistik yang melintas.
Kami berhenti sekali saja di rest area KM 519 untuk berbuka puasa. Rest area pertama usai keluar dari Ngemplak tersebut lumayan lengkap, dengan fasilitas memadai seperti rumah makan, toilet, dan masjid.
ADVERTISEMENT
Usai berbuka, kami memacu kendaraan tanpa putus hingga ke Surabaya. Beberapa catatan wajib diketahui, pertama, di KM 539 hingga sekitar KM 560, kami menemui kabut tipis dari pembakaran limbah perkampungan di kanan kiri toilet. Asap kabut tersebut bergerak perlahan, akibat arus angin yang bergerak pelan hingga ke Jalan Tol.
Kedua, karena kita melewati persawahan, banyak serangga melintas yang menabrak kaca depan mobil. Meski tidak mengurangi jarak pandang, namun hal tersebut menganggu kenyamanan dalam mengemudi.
Ketiga, memasuki Surabaya, lebih tepatnya di kawasan Mojokerto, ada papan peringatan tanah longsor di samping kanan jalan.
Untuk rest area, ada beberapa yang masih dalam tahap penyelesaian yakni Rest Area 597, Rest Area 626 dan Rest Area 695. Sementara menjelang Surabaya, ada Rest Area 725 yang memilki fasilitas lengkap, dengan luas parkiran yang besar. Pada pukul 19.12 WIB, kami sudah sampai di Surabaya, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 30 menit.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, perjalanan menyusur Tol Trans Jawa usai. Kami mengawali perjalanan pada Kamis (16/5) pada pukul 06.00 WIB dan tiba di Surabaya pada Jumat (17/5), pada pukul 19.12 WIB. Perjalanan, memakan waktu dua hari karena kami sempat menginap di Semarang, serta berburu Kuliner di Cirebon, Tegal dan Solo.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white