Uskup Armenia Ditangkap karena Tuduhan Dalang Upaya Kudeta

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas Keamanan Nasional Armenia menangkap Uskup Agung Gereja Apostolik Armenia Bagrat Galstanyan, yang didakwa berupaya menggulingkan pemerintah dan mengganggu stabilitas negara, di Yerevan, Armenia, Rabu (25/6/2025). Foto:  Melik Baghdasaryan/Photolure via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Keamanan Nasional Armenia menangkap Uskup Agung Gereja Apostolik Armenia Bagrat Galstanyan, yang didakwa berupaya menggulingkan pemerintah dan mengganggu stabilitas negara, di Yerevan, Armenia, Rabu (25/6/2025). Foto: Melik Baghdasaryan/Photolure via REUTERS

Otoritas keamanan Armenia menangkap tokoh agama ternama di Armenia, Uskup Agung Bagrat Galstanyan. Dia diduga akan merencanakan upaya kudeta kepada pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Nikol Pashinyan.

Komite Investigasi Armenia, menyatakan ia dan kolaboratornya telah memiliki cara dan alat untuk melakukan aksi terorisme dan merebut kekuasaan.

Bagrat diduga telah merekrut lebih dari seribu orang, kebanyakan eks militer dan kepolisian untuk memulai kudeta. Komite tersebut memegang bukti rekaman Bagrat merencanakan kudeta itu.

Melalui Telegram, Pashinyan menyebut rencana para pelaku sebagai upaya jahat yang dilakukan oleh oligarki keagamaan.

"Rencana besar dan jahat oleh ‘pendeta kriminal-oligarki,’” tutur Pashinyanmengutip Reuters, Rabu (25/6).

Dalam satu bulan terakhir sudah dua tokoh keagamaan yang ditangkap Armenia. Pemerintah negara pecahan Uni Soviet itu memandang sejumlah tokoh keagamaan sebagai oposisi.

Selain pemuka agama aparat Armenia menangkap miliarder properti ternama keturunan Rusia Samvel Karapetyan. Pria itu ditangkap karena tuduhan mencoba merebut kekuasaan.

Petugas Keamanan Nasional Armenia menangkap Uskup Agung Gereja Apostolik Armenia Bagrat Galstanyan, yang didakwa berupaya menggulingkan pemerintah dan mengganggu stabilitas negara, di Yerevan, Armenia, Rabu (25/6/2025). Foto: Melik Baghdasaryan/Photolure via REUTERS

Gejolak kudeta di Armenia

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan. Foto: AFP/JOHN MACDOUGALL

Nikol Pashinyan, naik ke tampuk kekuasaan lewat gelombang protes jalanan pada 2018. Namun, ia mendapat tekanan domestik setelah Armenia mengalami kekalahan besar dari Azerbaijan dalam perang singkat pada 2020.

Situasi memburuk usai wilayah sengketa Nagorno-Karabakh direbut sepenuhnya oleh Azerbaijan. Nagorno-Karabakh adalah kawasan pegunungan yang selama puluhan tahun diberikan otonomi khusus oleh Armenia.

Memanfaatkan kekecewaan dan kemarahan, Uskup Bagrat dan para pendukungnya pun menggalang aksi protes jalanan untuk menuntut pengunduran diri Pashinyan.

Adapun terkait ketegangan dengan Azerbaijan, Pashinyan tengah bergerak ke arah penandatanganan perjanjian damai, meskipun dalam perjalanannya upaya itu beberapa kali tercoreng usai kontak senjata yang masih terjadi di tengah-tengah suasana perundingan.