USU Klarifikasi, Rektor Tak ke LN saat Mahasiswa Demo UKT, Perjalanan Terjadwal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa USU menggelar aksi demo terkait kenaikan dan penggolongan UKT yang dinilai ngawur pada Rabu (8/5/2024). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa USU menggelar aksi demo terkait kenaikan dan penggolongan UKT yang dinilai ngawur pada Rabu (8/5/2024). Foto: Dok. Istimewa

Universitas Sumatera Utara (USU) membantah bahwa Rektor USU Muryanto Amin pergi ke luar negeri mendadak untuk menghindari aksi demo mahasiswa terkait UKT.

Kepala Humas USU Amalia Meutia mengatakan keberangkatan Muryanto sudah dijadwalkan sejak pertengahan April 2024 lalu.

“Kepergian rektor (untuk) dinas keluar negeri sudah dijadwalkan di pertengahan April 2024. Surat permohonan izin perjalanan dinas luar negeri dari USU ke Kementerian ditandatangani di tanggal 22 April 2024,” kata Meutia saat dikonfirmasi pada Rabu (8/5).

Untuk itu, kata Meutia, kepergian Muryanto tidak mendadak seperti apa yang disampaikan oleh mahasiswa.

“Jadi tidak benar jika dikatakan kepergian rektor melakukan perjalanan dinas keluar negeri mendadak, apalagi dengan alasan menghindari aspirasi mahasiswa,” jelasnya.

Soal kabar kepergian mendadak ini disampaikan oleh Ketua BEM FISIP USU Mahogra Yuda Muyyasar. Ogra dan mahasiswa lainnya menduga kepergian rektor untuk menghindari aksi demo di Gedung Rektorat hari ini.

Mahasiswa USU menggelar aksi demo terkait kenaikan dan penggolongan UKT yang dinilai ngawur pada Rabu (8/5/2024). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa USU menggelar aksi demo terkait kenaikan dan penggolongan UKT yang dinilai ngawur pada Rabu (8/5/2024). Foto: Dok. Istimewa

“Nah tapi di saat kami menggaungkan ada seruan aksi, kami dapat info mendadak bahwasanya rektor mendadak ke luar negeri. Tidak di sini,” kata Ogra.

“Dan bener-bener h-1 tuh. Kemarin tuh dia pergi kabarnya berangkat jam 4 sore, itu yang kami sesalkan. Makanya itulah memuncak dari tiap mahasiswa ( seruan turunkan UKT atau rektor yang turun). Iya (merasa rektor menghindar dari kami yang sampaikan aspirasi),” jelasnya.

Ogra mengatakan aksi demo ini dilatarbelakangi karena adanya keluhan dari mahasiswa baru. Mahasiswa menilai ada ketidaksesuaian data penghasilan orang tua dengan golongan UKT.

Contoh yang diberikan dia adalah ketika orang tua mahasiswa berpenghasilan Rp 3 juta tetapi dikenakan UKT golongan Rp 6 hingga 8 juta.

“Jadi banyak keluhan hampir 80 persen maba ragu untuk daftar ulang karena mereka merasa setelah mereka isi kok dapat UKT enggak sesuai dengan isian,” kata dia.