Utusan Khusus Belanda Dorong Indonesia Pimpin Toleransi Beragama Dunia

Duta Besar Belanda untuk Tahta Suci sekaligus Utusan Khusus Belanda untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Paul Bekkers, mendorong Indonesia mengambil peran lebih besar dalam memimpin upaya mempromosikan toleransi beragama di tingkat global.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal kuat sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar yang mampu menjaga kehidupan antarumat beragama secara damai.
"Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, pada saat yang sama, Indonesia juga menunjukkan penghormatan terhadap semua agama dan keyakinan lain. Menurut saya, itu adalah contoh yang sangat baik bagi dunia," kata Bekkers saat memberikan keterangan di Jakarta, Rabu (8/7).
Bekkers menilai, pengalaman Indonesia dalam menjaga keberagaman dapat menjadi inspirasi bagi negara lain.
Ia berharap Indonesia tidak hanya menjadi contoh, tetapi bisa tampil lebih aktif memimpin diskusi global mengenai kebebasan beragama dan hidup berdampingan secara damai.
"Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar lagi. Saya pikir dunia membutuhkan lebih banyak suara seperti Indonesia dalam mempromosikan toleransi dan kebebasan beragama," ujarnya.
Apresiasi Istiqlal-Katedral
Dalam kunjungannya ke Jakarta, Bekkers mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.
Ia mengaku terkesan dengan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan kedua rumah ibadah tersebut.
"Saya pikir itu adalah simbol yang sangat kuat. Bukan hanya karena kedua bangunan itu berdiri berdampingan, tetapi juga karena ada upaya nyata untuk membangun hubungan antarkomunitas," katanya.
Menurut Bekkers, simbol tersebut menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak harus menjadi sumber perpecahan, melainkan dapat menjadi fondasi kerja sama dan saling menghormati.
Ia juga menilai Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan melalui pendekatan yang mengaitkan nilai-nilai agama dengan isu global, termasuk perlindungan lingkungan hidup.
Kebebasan Beragama Perlu Terus Dijaga
Meski memuji Indonesia, Bekkers menegaskan tidak ada negara yang sepenuhnya bebas dari tantangan dalam menjaga kebebasan beragama.
"Tidak ada negara yang sempurna. Yang terpenting adalah terus berdialog, belajar satu sama lain, dan bersama-sama memperkuat kebebasan beragama serta toleransi," ujarnya.
"Kebebasan beragama bukan hanya soal hukum. Ini tentang bagaimana masyarakat saling menghormati dan memastikan setiap orang bisa hidup sesuai keyakinannya," lanjutnya.
Bekkers berada di Indonesia pada 4–11 Juli 2026. Selama kunjungannya, ia bertemu sejumlah pejabat pemerintah, tokoh lintas agama, dan organisasi masyarakat sipil.
Ia juga mengunjungi Masjid Istiqlal, Gereja Katedral Jakarta, serta Vihara Amurva Bhumi, sebelum melanjutkan lawatannya ke Ambon untuk berdialog mengenai kebebasan beragama dan kerja sama lintas agama.
