Vaksin Nusantara Pakai Sel Dendritik, Lebih Personalized dan Bisa untuk Komorbid

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Terawan Agus Putranto saat meninjau persiapan uji klinis fase II vaksin Nusantara di RSUP dr. Kariadi Semarang. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Terawan Agus Putranto saat meninjau persiapan uji klinis fase II vaksin Nusantara di RSUP dr. Kariadi Semarang. Foto: Dok. Istimewa

Vaksin Nusantara untuk menangkal COVID-19 yang digagas eks Menkes Terawan Agus Putranto kini segera memasuki uji klinis tahap II. Terawan meninjau perkembangan kandidat vaksin ini bersama sejumlah anggota DPR Komisi Kesehatan di RSUP Dr Kariadi pada Selasa (16/2).

Pengembangan kandidat vaksin menggunakan sel dendritik yang disebut penelitinya memiliki beberapa kelebihan, salah satunya bersifat personalized.

Vaksin ini merupakan kerja sama antara PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro (Undip), dan juga RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pengembangan vaksin ini digagas saat Terawan masih menjabat sebagai Menkes.

Anggota tim peneliti Vaksin Nusantara dr Yetty Movieta Nency mengatakan, penelitian dimulai pada September 2020. Uji klinis I dilakukan terhadap 27 relawan asal Semarang.

Kementerian Kesehatan RI RSUP dr Kariadi Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Lantas sebenarnya apa yang dimaksud sel dendritik? Apa benar vaksin ini aman bagi penderita komorbid?

"Sel dendritik karena komponen yang digunakan adalah komponen dari sel darah putih yang setiap orang punya," jelas Yetty di Semarang, Rabu (17/2).

Yetty kemudian menjelaskan pembuatan vaksin dengan sel dendritik tersebut dari awal hingga proses di lab.

"Prosedurnya dari subjek itu kita ambil sel darah putih kemudian kita ambil sel dendritik. Lalu di dalam lab kita kenalkan dia dari rekombinan virus SARS-CoV-2," jelasnya.

"Sel dendritik bisa mengenali, sudah tahu bagaimana mengantisipasi virus, kemudian dia kita suntikkan kembali," imbuh dia.

Terawan Agus Putranto, Kamis (27/8). Foto: Puspa Perwitasari/Antara Foto

Yetty menjelaskan sejumlah kelebihan pengembangan vaksin ini dengan metode lainnya. Salah satunya tidak ada komponen virus yang bisa masuk ke tubuh manusia karena yang disuntikkan kembali adalah sel dendritiknya yang sudah pintar.

Vaksin Nusantara 90 persen dibuat dengan bahan di Indonesia. Hanya antigen rekombinannya yang masih bekerja dengan Amerika Serikat, tapi pengelolaannya semua di dalam negeri.

Keunggulan lainnya, menurut Yetty, harganya juga murah. Diperkirakan di bawah Rp 200 ribu.

"Yang ketiga, aman. Karena memakai darah kita sendiri kemudian memicu tubuh untuk menimbulkan kekebalan. Tidak ada tambahan bahan-bahan ajuvan. Tidak ada komponen bagian dari binatang, jadi insyaallah halal. Karena tidak ada komponen benda-benda yang kita curigai," urai Yetty.

Dengan Vaksin Nusantara yang dipersonalisasi ini, mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) berat akan bisa menerima vaksin.

"Ini bisa jadi salah satu alternatif untuk orang-orang yang [saat ini] tidak masuk kriteria vaksin karena punya penyakit berat (komorbid), misalnya kanker, dia kemungkinan bisa mendapatkan vaksin COVID-19," kata Yetty.

instagram embed