Vian Ruma Aktivis Lingkungan di NTT Ditemukan Tewas dengan Leher Terikat
·waktu baca 3 menit

Seorang aktivis lingkungan di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rudolfus Oktavianus Ruma alias Vian Ruma (30 tahun), ditemukan tewas tergantung dengan leher terikat.
Vian ditemukan di sebuah gubuk bambu dekat pantai di Sikusama, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (5/9).
Vian diketahui berprofesi sebagai guru ASN sekaligus aktif di sejumlah organisasi sosial dan lingkungan. Kematiannya dinilai janggal oleh beberapa pihak.
Divisi Advokasi Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI), Efraim Mbomba Reda, menuturkan sebelum ditemukan tewas, Vian sempat meninggalkan rumah untuk menghadiri kegiatan Mbay Youth Day pada 2 September.
“Vian dalam perjalanan menuju lokasi kegiatan Mbay Youth Day. Vian menggunakan motor dan membawa tas. Jadi menurut kami, Vian dalam kondisi baik karena semangat untuk mengikuti kegiatan. Namun kemudian Vian ditemukan dalam posisi tergantung di lokasi menuju tempat kegiatan,” ujarnya, Rabu (10/9/2025).
Ia mengatakan koalisi KOPI sedang mengumpulkan data lapangan terkait kematian Vian.
“Pandangan kami, ada orang yang berencana untuk mengakhiri hidupnya dengan modus bunuh diri. Kita minta polisi mengusut tuntas kasus ini,” ujar dia.
Ia menambahkan saat ditemukan, korban dalam posisi tergantung dengan tali sepatu miliknya serta lutut korban yang menekuk dan telapak kaki menyentuh lantai.
Barang-barang pribadi seperti handphone, tas, sepatu, dan sandal ditemukan masih ada di sekitar jenazah korban. Sementara sepeda motor milik korban ditemukan di luar pondok di dekat lokasi kejadian.
Tanggapan Kapolres Nagekeo
Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmad Muchamad Salili, mengatakan saat ini polisi sedang mengusut penyebab kematian Vian Ruma.
“Kami masih pendalaman, kami masih belum memastikan (penyebab kematian korban),” katanya, Rabu (10/9).
Ia mengatakan sudah ada beberapa saksi yang telah dimintai keterangan oleh penyidik, di antaranya orang yang pertama kali menemukan jenazah korban, pihak kepala desa dan ketua RT di TKP, hingga pihak keluarga.
“Dan sekarang ini ada (tambahan) beberapa saksi lagi, ada beberapa pemeriksaan saksi-saksi tambahan,” ujar Rachmad.
Ia menyebut polisi akan melakukan koordinasi dengan pihak keluarga terkait rencana ekshumasi dan autopsi terhadap jenazah korban sehingga bisa diketahui secara pasti penyebab kematian.
Rachmad menyatakan masih belum berani menyebut penyebab kematian korban maupun dugaan-dugaan tentang kematian korban. Menurut dia, masih perlu pendalaman dengan pemeriksaan saksi-saksi maupun autopsi.
Selain itu, dari hasil visum luar juga belum bisa memastikan penyebab kematian korban. Pasalnya, saat ditemukan, jenazah sudah dalam proses pembusukan karena diduga korban meninggal empat hari sebelum ditemukan.
“Hasil visum itu tidak bisa memastikan sebab-sebab kematian karena jenazah yang ditemukan itu sudah lebam mayat, sudah membusuk, sudah bengkak karena diduga sudah empat hari baru ditemukan,” jelas Rachmad.
