kumplus- Pendeta Cabul di Bogor- Coverstory

Video: Skandal Pendeta Lecehkan Jemaat

6 September 2022 23:51
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
“Kalau kamu tidak mau dikuduskan, kamu tidak akan dapat jodoh, tidak dapat pekerjaan bagus, dan tidak diberkati.”
“Enggak apa-apa. Berkat dan jodoh di tangan Tuhan.”
“Kalau kamu berubah pikiran, telepon saya.”
“Saya enggak akan berubah pikiran.”
“Kalau kamu enggak berubah pikiran, Tuhan bilang kamu tidak taat.”
“Terserah Tuhan menilai saya taat atau tidak.”
“Kamu sih enggak taat sama Tuhan, makanya lamaran pekerjaan kamu semua ditolak.”
“Enggak apa-apa, nanti ada waktunya Tuhan kasih yang lebih baik.”
“Keluarin tuh uang kamu, kasih ke saya untuk memuliakan Tuhan karena saya hamba Tuhan.”
“Boleh, tapi kalau saya mau jajan atau ke salon, saya minta lagi duit saya.”
***
Perang kata-kata ini terjadi antara seorang jemaat perempuan dengan pendetanya di persekutuan doa GPdI Yeshua Hamashiah Bogor. Sang pendeta, YB, berulang kali memintanya untuk menjalani ritual pengkudusan, dan ia terus-menerus menolak.
Keputusan jemaat perempuan itu di kemudian hari terbukti benar, karena pengkudusan yang dimaksud YB tak lain adalah bertelanjang, berciuman, dan bersedia diraba-raba. Ritual kudus palsu ini sekadar akal bulus YB untuk memuaskan hasratnya.
Celakanya, tanpa ia tahu, YB juga mendekati dan mengintimidasi ibunya untuk dikuduskan.

Tuhan Maha Galak?

“Tuhan bicara sama saya, Ibu harus dikuduskan di bagian-bagian sensitif.”
“Maksudnya? Memang saya kenapa?”
“Pokoknya, Tuhan bilang Ibu enggak kudus.”
“Kalau memang harus, harus disertai ibu atau istri Bapak.”
“Enggak bisa, nanti reputasi Ibu turun di mata istri saya. Harus antara saya, Ibu, dan Tuhan, karena Tuhan yang suruh.”
“Enggak, deh.”
“Ibu tahu enggak kalau Tuhan itu marah sama Ibu?”
“Kenapa?”
“Ibu harus dikuduskan. Kalau Ibu enggak taat, anak-anak Ibu tidak dapat pekerjaan bagus, tidak dapat berkat, tidak dapat jodoh. Itu karena Ibu tidak mau ikut perintah Tuhan. Itu salah Ibu. Terserah.”
***
Ulah YB yang menebar ancaman atas nama Tuhan membuat S, seorang ibu yang menjadi jemaatnya itu, terheran-heran. Ia tak mengerti mengapa Tuhan berubah wajah menjadi sedemikian garang.
“Kok Tuhan jadi galak?” pikirnya kebingungan.
Ketika itu ia belum tahu bahwa amarah Tuhan yang didengungkan YB hanyalah kedok untuk pelecehan seksual yang hendak ia lancarkan.

Tuhan Maha Menuntut?

S juga merasa janggal dengan ajaran YB yang meminta jemaat untuk memberikan 20% pendapatan kepada Tuhan, bukannya 10% seperti diajarkan dalam Alkitab.
“Kok ajarannya berbeda? Kok bukan perpuluhan yang 10% pendapatan? Kok dia minta 20%?” ujarnya dalam hati.
Perpuluhan atau persepuluhan ialah tindakan memberikan 10% penghasilan kepada Tuhan melalui gereja. Pada masa lampau, persepuluhan diberikan dalam bentuk hasil pertanian. Kini, agar lebih praktis, persepuluhan dapat berupa uang tunai, baik kertas maupun digital.
Menurut S, YB berpesan kepada jemaatnya agar menggunakan uang untuk memuliakan Tuhan ketimbang mempercantik diri. Ini pula yang membuat YB berkata pada putri S: “Kasih ke saya tuh uang kamu, karena saya hamba Tuhan.”
Batin S bergolak. “Tuhan kok jadi benar-benar galak. Tidak bisa ini itu. Enggak boleh ke salon, enggak boleh menghias kuku, enggak boleh mempercantik diri. Kenapa segitunya? Tuhan kan enggak miskin. Apa memuliakan Tuhan harus pakai uang?”
Ilustrasi: VGstockstudio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: VGstockstudio/Shutterstock
Mengelabui jemaat sudah YB lakukan sejak masih magang sebagai calon pendeta di GPdI Tiberias Bogor pada 2012.
Tak sedikit yang menjadi korban ritual bejat YB. Mereka jatuh dalam perangkap YB yang menebar ancaman atas nama Tuhan: “Kalau tidak taat, tidak dapat berkat.”
Kurang ajarnya lagi, YB juga melecehkan secara verbal. Kepada salah seorang jemaat remajanya, ia berkirim pesan singkat: “Papa horny lihat body kamu.”
Apakah orang semacam ini layak dibiarkan berkeliaran menggembala jemaat?
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten