Viral Istilah JakLingko Diganti Mikrotrans, Pemprov DKI Buka Suara
·waktu baca 2 menit

Viral di media sosial netizen menuding istilah transportasi JakLingko diganti menjadi Mikrotrans. Pemprov DKI saat ini diprotes karena dianggap mengganti istilah tersebut.
Sejumlah warganet menyatakan ketidaksetujuannya jika nama JakLingko diubah menjadi Mikrotrans. Sebab JakLingko diambil dari bahasa Manggarai-Flores yang berkaitan dengan integrasi.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengklarifikasi Mikrotrans adalah bagian dari sistem JakLingko. JakLingko adalah istilah bagi sistem integrasi di Jakarta, sementara Mikrotrans adalah angkutan umum yang menjadi bagian dari JakLingko.
Sehingga, tidak benar ada penghapusan JakLingko yang digantikan dengan Mikrotrans.
“Sesuai Pergub Nomor 68 Tahun 2021, pelaksanaan integrasi transportasi dilakukan pada moda MRT, LRT, layanan angkutan Transjakarta, layanan angkutan pengumpan atau feeder, layanan angkutan dan/atau pendukung lainnya sebagai pendukung sistem JakLingko,” ujar Syafrin dalam keterangannya, Kamis (27/7).
Sejak 2018, Mikrotrans menjadi salah satu varian armada Transjakarta yang ditransformasi Pemprov DKI Jakarta, agar terkoneksi dengan transportasi publik lainnya. Mikrotrans adalah sebutan untuk moda transportasi berupa mobil angkutan perkotaan (angkot).
Syafrin menerangkan, Mikrotrans melayani 83 rute dan membentang di sepanjang Jakarta. Mikrotrans hadir agar masyarakat semakin mudah menjangkau angkutan umum dari rumah atau kantor, sehingga dapat beralih menggunakan angkutan umum saat beraktivitas.
Sedangkan, berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 68 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Sistem Transportasi Terpadu dan Terintegrasi, JakLingko adalah sistem terpadu yang mendukung kebijakan peningkatan penggunaan angkutan umum massal dan pembatasan kendaraan bermotor perseorangan.
"JakLingko mewujudkan integrasi sistem operasional yang meliputi infrastruktur, layanan/rute, data dan informasi, serta tarif dan sistem pembayaran. Integrasi ini dihadirkan untuk menciptakan kemudahan dan kenyamanan masyarakat dalam bermobilitas," jelas keterangan Syafrin.
“Mikrotrans sebagai angkutan pengumpan atau feeder, terintegrasi dengan moda transportasi publik lainnya, seperti MRT, LRT, bus Transjakarta, dan KRL, sehingga masyarakat dapat melanjutkan perjalanan dengan mudah,” tandasnya.
