Viral Jebakan Pungli Jembatan Pantai Carita yang 19 Tahun Tak Ada Perubahan
·waktu baca 3 menit

Di Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, terdapat jebakan pungutan liar (pungli) yang kerap meresahkan wisatawan. Jebakan itu berbentuk kayu yang dijadikan "jembatan" di atas selokan pasir (muara sungai—drain).
Tidak ada satu pun petunjuk. Wisatawan yang menginjak atau menggunakan jembatan tersebut akan langsung dihampiri pemuda.
Pemuda itu akan bilang, jembatan tersebut adalah miliknya dan per orang harus bayar Rp 5.000 per sekali lewat. Bila wisatawan tidak mau bayar, maka pemuda itu akan mengejar terus sampai ia dibayar.
Wisatawan Mengeluh
Seorang wisatawan asal Depok, Oki Setiawan, mengeluhkan adanya pungli itu, ia merasa dijebak.
"Jadi hari Minggu (2/7) saya berwisata ke Carita karena saya tinggal di Depok. Saya habis berenang di pantai, mau bilas, mau mandi sama istri, dan saya lewat jembatan itu, istri lewat yang sebelah kanan, saya yang kiri," kata Oki saat dihubungi kumparan, Senin (3/7).
"Istri saya disamperin seorang pria, katanya lewat jembatan ini harus bayar karena jembatan pribadi, minta Rp 5.000 satu kali lewat untuk satu orang," kata Oki.
Menurut Oki, orang pasti akan menginjak atau menggunakan jembatan tersebut karena muara sungai nampak kotor, apalagi bila orang itu mengenakan sepatu atau celana panjang.
Oki berharap pihak-pihak terkait menertibkan pelaku pungli yang dapat membuat citra buruk terhadap objek wisata Pantai Carita.
Setidaknya Sudah Berlangsung 19 Tahun
Dadan Romdona, warga Kecamatan Menes, mengatakan jebakan pungli itu sudah menjadi rahasia umum.
Kendati sudah 19 tahun tidak ke Pantai Carita, Dadan tidak kaget lagi saat jebakan pungli ini viral.
"Aduh sudah lama itu mah, orang-orang (Menes dan sekitarnya) juga pada tahu. Pas saya SMA kelas 1 tahun 2004 itu pernah juga kena, pas lewat eh tiba-tiba diminta uang," kata Dadan.
Kades Berjanji Tak Ada Lagi Jebakan Pungli Itu
Kepala Desa Sukajadi, Sandy Wyasa, tak menampik adanya jebakan pungli itu, tapi ia mengklaim sudah menindaklanjutinya bersama polisi. Sandy berjanji akan terus memantau.
"Kami baru tahu kalau ada hal seperti itu, tapi tadi sudah (ditindak) bersama pihak kepolisian, kita akan tertibkan. Saya janji ini yang pertama dan terakhir. Kita akan pantau bersama Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan), kita akan koordinasi sehingga tidak akan ada lagi yang seperti ini," kata Sandy.
"Biasanya mereka adanya itu di hari-hari Lebaran, kalau hari biasa tidak ada. Jadi pas momen-momen ramai saja. Kalau hari ini tadi dicek tidak ada," lanjutnya.
Sandy mengatakan jembatan tersebut bermanfaat bagi para pengunjung, namun ia tetap tidak membenarkan cara-cara yang digunakan oleh para pelaku.
"Sebetulnya jembatan itu ada manfaatnya bagi warga yang menggunakan sepatu, celana panjang agar tidak basah, tapi memang ada kesalahan karena tidak ada plang atau pemberitahuan, dan juga terlalu mahal tarifnya," kata Sandy.
