Viral Kisah Perempuan 18 Tahun Jadi Tukang Tambal Ban di Palopo, Sulsel
ยทwaktu baca 3 menit

Seorang perempuan berusia 18 tahun di Kota Palopo, Sulawesi Selatan bernama Hasmiani menarik perhatian publik. Di usianya yang masih remaja, Hasmiani memilih menjadi tukang tambal ban.
Kisah Hasmiati viral di media sosial. Warganet kagum dan simpati dengan gadis berjilbab itu karena profesi yang umumnya dilakoni oleh laki-laki ini, justru menjadi pekerjaan yang dilakukannya sehari-hari.
Hasmiani rela berkotor-kotor dan berlumuran oli kendaraan demi mencari sesuap nasi. Dia bekerja di bengkelnya yang berlokasi di jalan poros Trans Sulawesi, Kelurahan Buntu Datu, Kecamatan Bara, Kota Palopo, Sulsel.
Hasmiani yang baru lulus SMA itu baru merintis usahanya sejak dua minggu lalu.
"Besok, baru ada dua Minggu. Jadi baru," kata Hasmiani kepada kumparan, Jumat (6/8).
Dia menceritakan, awalnya dia ingin membuka usaha dagangan kebutuhan hari-hari, namun karena tempat sewa usahanya bekas bengkel akhirnya dia banting setir melanjutkan usaha bengkel tersebut.
"Jadi yang punya tempat bilang, lanjutkan saja ini bengkel. Jadi begitu awalnya," ucapnya.
Di awal merintis usahanya ini, Hasmiani menyewa lokasi tersebut selama setahun ke depan dengan biaya Rp 8 juta. Karena bekas bengkel, jadi dia hanya membenahinya sedikit.
Hasmiani merupakan lulusan SMA jurusan IPS. Ia tidak memiliki pengalaman di dunia otomotif. Apalagi tambal ban dan servis ataupun ganti oli. Sehingga, dia pun mempekerjakan satu orang pria yang ahli dalam tambal ban tersebut.
"Sudah tamat SMA, tidak kuliah. Dulunya, saya jurusan IPS waktu SMA," bebernya.
Karena memiliki semangat untuk bekerja dan bercita-cita jadi pengusaha sukses, gadis yang lahir di Morowali Utara, Sulut, itu tak tinggal diam. Dia kerap memperhatikan anggotanya saat menambal ban, sehingga sedikit demi sedikit mempelajarinya dan akhirnya bisa.
"Kalau kerja motor, kayak hobi saya juga, bongkar-bongkar. Tapi pintarnya press ban. Saya melihat teman-teman kerja. Jadi mintaka diajar satu kali. Jadi saya pun diajar dan pintar," katanya.
Setelah bisa, Hasmiani memberanikan dirinya untuk mengotak-atik ban. Misalnya saja saat ada sepeda motor yang perlu diservis dan pekerjanya belum datang, dia yang turun langsung menangani motor tersebut. Meski jari-jari kecilnya belepotan oli dan kotor, tapi Hasmiani tetap mengerjakannya.
"Ada anak-anak kerja di sini kak. Sesekali saya kak, itu kalau malam atau pagi. Atau anak yang kerja belum datang, dan ketika ada motor masuk, baru saya kerja," ujarnya.
Merantau di Kota Palopo
Orang tua Hasmiani merupakan warga asal asli Sengkang, Kabupaten Wajo. Tetapi, mereka merantau ke Morowali Utara, Sulut. Hasmiani lahir dan sekolah di sana. Dia ke Palopo, Sulsel ikut dengan kakaknya.
"Kami asli Sengkang Wajo. Orang tua ku sekarang merantau ke Morowali, sudah lama. Saya pun lahir di Morowali. Saya ikut kakak ke Palopo dan awalnya hanya untuk temani menjual, karena tidak ada kukerja juga di Morowali,"ungkapnya.
Namun belakangan, sang kakak mencoba mendukung Hasmiani untuk membuka usaha juga. Sehingga, kakaknya memberikan modal. Dan Hasmiani pun memanfaatkannya untuk membuka bengkel.
"Saya di modali kakak. Dan lumayan, bisa dapat Rp 100 hingga Rp 200 ribu setiap hari," katanya.
