Viral Toko Kelontong di Sleman Ditutup karena Persoalan Jarak 300 Meter

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi warung sembako Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi warung sembako Foto: Dok. Istimewa

Sebuah toko kelontong di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), viral setelah ditutup oleh sejumlah orang.

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (3/11/2026). Penutupan diduga dipicu persoalan jarak antara dua warung yang sebelumnya disepakati minimal 300 meter oleh paguyuban.

"Iya, antara warung dengan warung. Infonya karena melanggar jarak 300 meter itu antara konflik antara satu kelompok warga dengan satu kelompok warga yang lain. Satu paguyuban (yang berkonflik ini) dari suatu daerah," kata Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro, Kamis (5/11/2026).

Menurut Argo, salah satu warung diduga kembali beroperasi meski jaraknya belum memenuhi kesepakatan minimal 300 meter yang dibuat paguyuban.

"Katanya tidak sampai 300 meter sudah membuka warung lagi," ujarnya.

Argo memastikan tidak ada perusakan dalam peristiwa tersebut. Sejumlah orang hanya menutup warung yang dipersoalkan.

"Oh tidak (perusakan). Hanya menutup aja," jelasnya.

Dimediasi Polisi

Argo mengatakan, persoalan tersebut telah dimediasi di Polresta Sleman. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

"Sudah dimediasi di Polresta Sleman. Sudah diselesaikan secara kekeluargaan," kata Argo.

Salah satu warung juga telah ditutup secara sukarela setelah mediasi dilakukan.

"Salah satu warung menutup. Sukarela," katanya.

Argo mengimbau para pemilik usaha warung untuk mengedepankan komunikasi dan musyawarah apabila terjadi persoalan. Ia meminta masyarakat menghindari kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

"Kami mengimbau kepada masyarakat yang memiliki usaha warung agar mengedepankan persuasif, jadi saling bicara, musyawarah agar tidak terjadi keributan ke depan. Jadi lebih baik soft dalam menyelesaikan masalah, jangan mengedepankan kekerasan," pungkasnya.