Viral Tukang Pijat Keliling di Bali Meninggal, Tinggalkan Anak Usia 8 Tahun
ยทwaktu baca 3 menit

Kabar soal kematian seorang perempuan tanpa identitas di RSUD Wangaya, Kota Denpasar, Bali, viral di media sosial. Perempuan tersebut hanya didampingi anaknya yang masih berusia 8 tahun.
Warganet mencari keluarga perempuan dan anak tersebut. Humas RSUD Wangaya Danis mengatakan, jenazah perempuan tersebut telah diambil oleh Yayasan An-Nisa Rumah Peduli.
Hingga diambil oleh Yayasan, pihak RS masih mencari data kematian pasien tersebut.
"Jenazahnya sudah diambil yayasan. Saya belum mendapat data dari dokter yang menangani, mungkin bisa menghubungi yayasan," kata dia saat dikonfirmasi, Rabu (6/4).
Belakangan, Pendiri Yayasan An-Nisa Rumah Peduli bernama Siti Alifah berhasil mengetahui identitas perempuan tersebut. Ia adalah Lisa Tanti (48) dan anaknya berinisial SH (8). Tanti berasal dari Surabaya, Jawa Timur, dan bekerja sebagai tukang pijat keliling di Bali.
Alifah adalah sosok yang mengunggah kabar kematian Tanti ke media sosial untuk mencari keluarganya sekaligus yang merawat SH.
"Kita enggak menyangka peristiwa ini bakal viral karena kita mengurus jenazah itu sudah biasa. Hanya ini istimewa karena dia punya anak umur 8 tahun," kata Alifah saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia mengatakan, Tanti dilarikan ke IGD RSUD Wangaya karena sesak napas pada oleh tetangganya Senin (4/4) sekitar pukul 05.00 WITA lalu. Naas, Tanti ternyata telah dinyatakan meninggal saat dalam perjalanan.
Pada pukul 06.30 WITA, Alifah ditelepon oleh para tetangga untuk mengurus Tanti. Mereka tidak menemukan identitas seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) di kamar indekos Tanti yang berada di Kota Denpasar.
Mereka baru bertetangga selama satu bulan sehingga tak begitu mengenal asal dan keluarga Tanti, kecuali SH.
"Saya langsung ke bagian admisi, sebagai penanggung jawab. Yayasan kami legal. Kami biasa menebus (membayar biaya perobatan) pasien atau (mengurus pemakaman) jenazah yang tidak ada biaya," kata dia.
Setelah urusan administrasi di RSUD Wangaya selesai, Alifah memohon ke Yayasan Pemakaman Muslim (TPU) Wanasari Kota Denpasar untuk mengubur Tanti sesuai agama yang dianutnya, yakni Islam.
Pada saat proses pemakaman, seorang laki-laki bernama berinisial SP (48) datang ke TPU Wanasari. Ia mengaku sebagai mantan suami Tanti dan bapak SH. Ia memohon kepada Alifah agar bisa merawat SH di rumahnya yang terletak di Kabupaten Tabanan.
Alifah menyerahkan SH setelah SH membenarkan bahwa Supriyadi adalah bapak kandungnya. Dari pengamatannya, SH mengenal SP.
"Dari sosmed itu lah bapaknya tahu kalau mantan istrinya meninggal dan anaknya diambil sama bapaknya. Karena dia yang lebih berhak dan si anak memang mengakui itu bapaknya. Usia 8 tahun pasti sudah tahu yah, kenal bapaknya," kata dia.
Alifah mengatakan, dua hari setelah pemakaman atau pagi tadi, ia sempat dihubungi seseorang yang mengaku sebagai keluarga Tanti.
Alifah menginformasikan kematian dan lokasi pemakaman Tanti. Namun, hingga saat ini, belum ada kabar lebih lanjut dari seseorang yang mengaku selaku keluarga Tanti tersebut.
"Saya cuma bilang kalau mau mengambil surat kematian silakan ke kantor, surat kematian (Tanti) ada di sini," kata dia.
