Virus Corona dan Turunnya Kepercayaan Warga Korsel Terhadap Gereja

Virus corona membuat tingkat kepercayaan warga Korsel atas gereja menurun.
Sejak awal pandemi virus corona, gereja-gereja raksasa di Korsel telah menjadi klaster penyebaran virus corona.
Pada gelombang pertama, pandemi terkait erat dengan klaster Gereja Yesus Shincheonji. Pada Februari 2020, gereja itu adalah episenter corona.
Sementara, pada gelombang baru ini muncul klaster Gereja Sarang Jeil.
Munculnya klaster gereja di hampir setiap gelombang corona di Korsel, memicu merosotnya citra gereja di tengah masyarakat Negeri Ginseng. Sebelum corona muncul, beberapa pemimpin Kristen di Korsel mengakui terdapat penurunan populasi umat Kristen di Korsel.
Salah seorang penduduk Seoul, Lee Sun-woo, mengatakan, kondisi pandemi di Korsel semakin parah karena beberapa kelompok orang Kristen masih ke gereja, meski sudah dianjurkan ibadah di rumah.
"Mata pencaharian banyak orang sekarang kritis, tapi ada orang masih menghadiri kebaktian di gereja," ucap Lee seperti dikutip dari South China Morning Post.
"Orang-orang seperti ini berpikiran tertutup, tidak peduli apakah mereka akan menyakiti orang-orang sekitar mereka," sambung dia.
Beberapa gereja di Korsel memang punya sikap berlawanan dengan pemerintah terkait penanganan virus corona.
Pada 15 Agustus 2020, Gembala Sidang Gereja Sarang Jeil Jeon Kwang-hoon menjadi sorotan publik. Gembala Sidang adalah sebutan umat Kristiani untuk pemimpin suatu Gereja.
Jeon dan ratusan pengikutnya menggelar demo antipemerintah. Saat dites, Jeong dan pengikutnya positif terinfeksi corona.
Tindakan Jeon membuat Pemerintah Daerah Seoul naik pitam. Mereka menuntut Gereja membayar ganti rugi sebesar 15 miliar won atau Rp 186 miliar.
Faktor lain Turunnya Kepercayaan Warga Korea Selatan
Menurunnya jumlah umat Kristen di Korea Selatan sebenarnya sudah disadari jauh sebelum pandemi corona. Munculnya klaster gereja hanya satu dari berbagai faktor berkurangnya pengikut Yesus Kristus di Korea Selatan.
Kristen sudah lama menjadi salah satu agama terbesar di negara berpenduduk 51 juta itu. Bahkan pada era 1990-an umat Kristiani di Korsel sempat mencapai angka 10 juta orang.
Pendeta Jeong Jae-dong dari denominasi Presbiterian mengatakan, setelah mencapai angka 10 juta terdapat penurunan jemaat.
"Setiap tahun, sekitar tiga sampai lima persen meninggalkan gereja. Saat ini jemaat gereja di Korsel sekitar 6-8 juta," ucap Jeong.
"Angka kelahiran rendah adalah pendukung terbesar fenomena ini, tapi masalah sosial dan tak adanya gereja sehat jadi penyebab utama masalah ini," sambung dia.
Profesor pascasarjana Sekolah Teologi Graduate School of Practical Theology, Jo Sung-don, menyebut saat ini ada persepsi gereja sudah tidak relevan bagi anak muda. Hal ini terkait erat dengan berkembangnya masyarakat Korea.
"Gereja sempat menjadi mesin progresif saat wanita dan pemuda jadi inisiator aktivitas sosial di masa lalu," kata Jo.
"Namun, sudah sulit menemukan pemuda yang jadi pemimpin gereja, mayoritas pemimpin gereja berusia 60-an," sambung dia.
Dia juga menambahkan, pemuda Korea mulai merasa malu bila teridentifikasi sebagai pengikut gereja.
Sementara itu, Jo Miet-uem dari Baeunmedia mengatakan, keterlibatan gereja pada pemerintahan sayap kanan menambah citra buruk mereka.
Keadaan pun semakin diperparah ketika beberapa pemimpin gereja kerap masuk tajuk utama pemberitaan karena kasus-kasus kriminal seperti dugaan korupsi dan pelecehan seksual.
