Virus Corona Omicron Tipe Baru Terdeteksi di AS

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi virus corona Omicron.
 Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus corona Omicron. Foto: Shutterstock

Sub-varian virus corona varian Omicron yang disebut BA.2 saat ini tengah menyebar di sejumlah negara, salah satunya di Amerika Serikat. Dikutip dari USAToday, spesialis penyakit menular di RS Umum Massachusetts, Boston, Jacob Lemieux, mengatakan varian Omicron BA.2 diperkirakan tetap memiliki gejala ringan seperti BA.1 atau varian Omicron awal.

Menurut Lemieux, saat ini kasus BA.2 mengalami peningkatan di beberapa negara yakni di Filipina, India, Denmark, Afrika Selatan, dan juga beberapa negara bagian di wilayah Amerika Serikat. Meski demikian, Lemieux belum mengetahui apakah BA.2 mendorong keluar varian Omicron asli, yang saat ini disebut sebagai BA.2.

Ia pun mencontohkan kenaikan kasus BA.2 di Denmark akan datang saat kasus BA.1 mengalami penurunan. Namun, ia juga belum mengetahui varian mana yang menyebabkan terjadinya lonjakan kasus, karena saat ini penyebarannya terbagi sekitar 50:50.

Sementara di Afrika Selatan, kasus telah turun secara dramatis sejak lonjakan besar pada Hari Pengucapan Syukur (Thanksgiving) pada November 2021.

“BA.2 sekarang lebih umum daripada BA.1,” ungkapnya, Rabu (26/1).

embed from external kumparan

Sementara Profesor Kedokteran Molekuler, Biokimia, dan Farmakologi Molekuler UMass Medical School, Jeremy Luban, mengatakan sampai saat ini belum diketahui apakah efek dari sub-varian Omicron BA.2 dapat masuk ke tubuh manusia yang telah menerima vaksinasi.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah BA.2 akan lolos dari perlindungan yang diberikan oleh vaksin atau obat yang ada,” kata Luban.

“BA.2 juga memiliki mutasi yang tidak ditemukan pada BA.1, yang dapat membatasi efektivitas antibodi monoklonal,” tambahnya.

Di sisi lain, Direktur Institut Ragon MGH, MIT, dan Harvard sekaligus peneliti imunologi, Bruce Walker, menyebut dengan adanya sub-varian BA.2, sel T masih efektif untuk melawan dan mencegah terjadinya gejala berat.

"Sel T-lah yang mungkin memiliki pengaruh besar pada perjalanan penyakit begitu seseorang terinfeksi," kata Bruce.

"Ini menggembirakan bahwa setidaknya dari sisi sel T, mereka mungkin tidak terlindungi dari infeksi tetapi [vaksin] harus membantu mengurangi penyakit,” pungkasnya.