Vladimir Putin: Dari Mata-mata ke “Tsar Baru” Rusia

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pidato Vladimir Putin (Foto: Wikipedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pidato Vladimir Putin (Foto: Wikipedia Commons)

Rusia bersiap memasuki babak baru pemilihan presiden pada Maret 2018 mendatang. Anggota Parlemen Rusia pun telah mendeklarasikan masa kampanye pemilihan presiden sejak senin (18/12).

Vladimir Vladimirovich Putin memastikan bahwa ia akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden Rusia periode 2018-2024 pada 6 Desember 2017 lalu.

Sebetulnya, pada pilpres nanti dianggap banyak pihak sebagai formalisasi terpilihnya Putin saja. Ia hampir pasti menang. Dan kemenangan ini akan membuatnya memimpin Rusia selama 24 tahun lamanya.

Putin menjabat sebagai orang nomor satu negeri Beruang Merah sejak 12 Mei 2012. Sebelumnya, ia pernah menjadi Perdana Menteri dari tahun 1999 hingga 2000, menjadi presiden di dua periode pada 2000 hingga 2008, dan kembali menjadi Perdana Menteri pada 2008 hingga 2012.

Siapa sangka, jabang bayi laki-laki kurus dilahirkan di Leningrad (sekarang Saint Petersburg) pada 7 Oktober 1952 silam itu, mampu memegang tambuk kekuasaan dalam waktu paling lama sepanjang sejarah Rusia.

Hingga pengaruh terbesarnya yang menjadikan Putin disebut-sebut sebagai sosok “Tsar Baru” abad 21.

Siapakah sebenarnya Vladimir Putin? Bagaimana perjalanannya mencapai kedudukan sekarang ini?

Vladimir Putin saat masa kecil. (Foto: Dok. East News)
zoom-in-whitePerbesar
Vladimir Putin saat masa kecil. (Foto: Dok. East News)

Putin tidak lahir murni dari darah politikus. Ia lahir dari rahim seorang buruh pabrik, Maria Ivanovna Putina (1911-1998) dan seorang ayah yang bekerja di militer Uni Soviet bernama Vladimir Spiridonovich Putin (1911-1999).

Putin kecil bersekolah di Gang Baskov pada tahun 1 September 1960. Sekitar tujuh tahun setelahnya, Putin mendalami Sambo dan Judo. Kemahirannya di seni bela diri itu menambah sosok kuat dan macho dirinya.

Hal ini terdokumentasi dengan jelas lewat berbagai kegiatan olahraganya dan seperti saat ia merilis DVD tutorial “Let’s Learn Judo with Vladimir Putin” untuk merayakan ulang tahunnya ke-56.

Menjajaki SMA, Putin juga giat belajar bahasa Jerman di SMA Saint Petersburg 281 --yang berguna saat ia menjadi mata-mata KGB menjelang runtuhnya Rusia 20 tahun kemudian. Selepas SMA, Putin yang berusia 18 tahun menjejakkan kakinya di bangku kuliah, tepatnya di jurusan Hukum di St Petersburg State University.

Sewaktu kuliah, Putin sempat diwajibkan bergabung dengan Partai Komunis Uni Soviet. Namun, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti-lah (KGB) yang kemudian menjadi karir pertama Putin.

Tak kurang dari 16 tahun, Putin mendedikasikan hidupnya di dunia intelijen. Memulai debutnya di bagian Kepala Direktorat Kedua (kontra-intelijen), ia menjadi Kepala Direktorat Pertama yang memantau para pejabat konsuler Saint Petersburg.

Dari 1986 ia bertugas di Dresden Jerman Timur yang membuatnya menyaksikan peristiwa penghancuran Tembok Berlin 9 November 1989. Putin baru mengundurkan diri pada 20 Agustus 1991 dengan pangkat Letnan Kolonel.

Vladimir Putin, Presiden Rusia. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Vladimir Putin, Presiden Rusia. (Foto: Wikimedia Commons)

Putin juga menempuh pasang surut dunia politik yang tidak singkat sebelum akhirnya menjadi orang nomor satu Rusia.

Di bidang politik, Putin mengawali perjalanannya dengan menjadi penasihat urusan internasional untuk wali kota Saint Petersburg Anatoly Sobchak (1990-1996). Perjalanannya berlanjut ke Deputi Departemen Manajemen Properti Presidensial di Moskow (1996-1999),  hingga menjadi Kepala Deputi Pertama Staf Presidensial untuk kewilayahan di tahun 1999.

Capaian politiknya terus meningkat. Pada 1999, ia ditunjuk Boris Yeltsin sebagai Perdana Menteri. Pada tanggal 16 Agustus, Putin semakin bersinar dengan pelantikannya sebagai Perdana Menteri Rusia kelima dengan perolehan setuju sebanyak 233 suara (84 menentang dan 17 abstain).

Tak lama berselang, Putin melebarkan sayap politiknya dengan menjadi Pelaksana Jabatan Presiden (1999-2000). Ketika itu, Yeltsin secara tiba-tiba mengundurkan diri yang berdampak pada pengangkatan Putin sebagai Pelaksana Jabatan Presiden Federasi Rusia sampai pemilihan umum tiga bulan setelahnya.

Meski sempat tersandung kasus tuduhan kasus ekspor metal tahun 1992 yang terjadi saat ia bekerja di St Petersburg, Putin tetap memenangkan putaran pertama dengan 53% suara.  

Pelantikan pertama Putin (2000-2004) sebagai presiden diselenggarakan pada 7 Mei 2000. Selang tiga tahun kepemimpinannya, Putin menghasilkan referendum penting tentang Republik Chechnya yang bergabung dalam wilayah Rusia.

Walaupun diwarnai dengan pemberontakan-pemberontakan di utara Kaukasus, Putin berhasil menjadikan Chechnya secara bertahap membentuk pemerintahan regional di bawah panji pemerintahan Rusia.

Perang Chenchen (Foto: Wikipedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Perang Chenchen (Foto: Wikipedia Commons)

Selanjutnya, Putin kembali berjaya dengan sebagai presiden dari 2004 sampai 2008. Ia menang telak dengan perolehan 71 persen suara pada pemilu 14 Maret 2004. Ini sedikit banyak diraihnya dengan penanganan kasus penyanderaan di Teater Moskow 2002, yang menewaskan 130 sandera.

Saat itu, respons Putin yang tegas dan cepat menuai banyak pujian. Beberapa kritik memang datang, seperti mengapa pemerintah menolak menyebutkan zat kimia apa yang digunakan dalam operasi.

Meski begitu, respons Putin tak hanya berhenti di kejadian. Ia juga bertindak keras terhadap kelompok teror Chechnya di daerah asalnya. Dalam dua hari setelah kejadian, 30 teroris tewas di tangan petugas keamanan Rusia. Selain itu, rencana penarikan 80 ribu tentara Rusia dari Republik Chechnya juga ditunda.

Karena penanganannya itu, survei menunjukkan tingkat penerimaan masyarakat Rusia naik menjadi 83 persen --naik sekitar 10 persen dari 2001.

Hanya konstitusi yang menghindarkan Putin dari melenggang menjadi presiden untuk ketiga kalinya di periode 2008-2012. Meski begitu, Putin malah setuju diangkat menjadi Perdana Menteri untuk kedua kalinya (2008-2012), dengan kursi presiden diduduki oleh Dmitry Medvedev.

Usai empat tahun Medvedev berkuasa, tepatnya pada 4 Maret 2012, Putin kembali memenangkan pemilu Rusia dengan 63.6% suara pada putaran pertama. Walau demikian, kemenangannya itu tak lepas dari tuduhan kecurangan sistematis yang dilakukan Putin dengan menggelembungkan suara.

Upaya transparansi proses pemilihan pun digalakkan, seperti pemasangan CCTV di tempat-tempat pemungutan suara. Namun, berbagai bentuk kritik hingga unjuk rasa anti-Putin tetap tidak bisa dibendung di Moskwa di sepanjang 2012.  

Kendati diselimuti beragam gelombang penolakan dan kontroversi, Putin tetap mampu melaju hingga masa penghabisannya di 2017 ini. Bahkan, Putin sudah berancang-ancang untuk sukses di periode mendatang dan diprediksi akan memenanginya dengan mudah.

Tak terelakkan lagi, julukan “Tsar Baru” cukup pantas disematkan pada Putin.

Ilustrasi Vladimir Putin (Foto: vborodinova /Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Vladimir Putin (Foto: vborodinova /Pixabay)

Barangkali memang itulah pertanyaan yang seringkali terpikirkan tentang sosok Putin yang begitu kontroversial sekaligus fenomenal: Tsar Baru Rusia.

Kuatnya pengaruh Putin sudah diakui sejak bertahun-tahun lalu. Salah satu pembuktiannya adalah gelar Man of the Year oleh majalah TIME pada 2007. Saat itu, Putin dianggap memberikan stabilitas dan mengembalikan status negara adidaya negaranya yang sempat hancur bersama runtuhnya Uni Soviet di 1991.

Seperti yang disebut Reuters, Putin mampu memanfaatkan naiknya harga minyak dunia sebagai modal memperbaiki tingkat hidup masyarakatnya --dan menggunakannya sebagai modal untuk memperkecil dampak yang diterima perekonomian negaranya saat krisis global 2008.

The Economist dalam Rusia under Vladimir Putin A Tsar is Born mengatakan, setelah 17 sejak pertama kali Putin menjadi pemimpin politik, Rusia dinilai tumbuh lebih kuat.

Negara Barat bahkan setuju dengan anggapan bahwa Putin adalah pemimpin Rusia dengan pengaruh terbesar sejak Stalin.

Putin dikatakan berhasil menyelamatkan Rusia dari kekacauan tahun 1990-an dan mampu menjadikan Rusia kembali diperhitungkan di kancah internasional.

Sosiolog terkemuka Rusia, Gudkov, dalam laporannya pada TIME bahkan menyebut, Putin adalah pemimpin yang mampu mengembalikan harga diri dan membayar rasa sakit masa lampau Rusia.

“Rasa frustasi dan penghinaan mereda (pada masa kepemimpinan Putin - red),” kata Gudkov.

Vladimir Putin, Presiden Rusia. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Vladimir Putin, Presiden Rusia. (Foto: Wikimedia Commons)

“Tsar Vladimir Vladimirovich Putin”

Menurut sejarah Rusia, ada dua karakter penting yang mendefinisikan kualitas seorang Tsar. Mereka adalah batiushka dan grozny.

Batiushka secara harfiah berarti "ayah kecil", sebuah istilah yang lekat dengan makna kasih sayang dan perlindungan. Maka, Tsar bagi masyarakat Rusia sudah sepantasnya mampu menjadi sosok “ayah” yang mengekspresikan kepedulian terhadap kesejahteraan dan persoalan bangsanya.

Sedangkan, grozny paling dekat diartikan dengan kata “terrible”, seperti yang menjadi predikat Ivan the Terrible --Sang Tsar Rusia yang pertama. Meski begitu, kata “terrible” tersebut tidak diartikan sebagai menakutkan, mengerikan, atau keburukan yang amat sangat. Justru, “terrible” di sini lebih dekat maknanya dengan dahsyat dan mengagumkan,

Dari situ, beberapa kalangan menilai gelar Tsar pantas dimiliki oleh Vladimir Putin. Pasalnya, Putin memiliki dua karakter kuno batiushka dan grozny tadi.

Vladimir Putin (Foto: Doc.Kremlin)
zoom-in-whitePerbesar
Vladimir Putin (Foto: Doc.Kremlin)

Perwujudan batiushka pada Putin, dinilai dari kesediaannya mendengarkan suara masyarakat Rusia. Misalnya saja, pada Putin the problem-solver: Russian leader's annual TV phone-in marathon yang dilaporkan The Guardian, Putin sengaja menyediakan waktu khusus selama 4 jam penuh untuk menjawab pertanyaan masyarakat Rusia --baik seputar isu pemerintahan, kebijakan publik dan sebagainya.

Putin juga digambarkan berkarakter grozny yang mengesankan sekaligus menakjubkan. Putin terkenal sebagai pemimpin yang tangguh dan berani.

Di antara yang banyak disorot adalah caranya memaksimalkan kesan tangguh dan macho-nya, seperti: foto telanjang dadanya di padang rumput Rusia, aksinya bergulat dengan beruang penuh resiko, hingga beragam hobinya yang luar biasa menantang.

Vladimir Putin ketika liburan (Foto: Sputnik/Alexei Nikolsky/Kremlin via REUTERS)
zoom-in-whitePerbesar
Vladimir Putin ketika liburan (Foto: Sputnik/Alexei Nikolsky/Kremlin via REUTERS)

Namun tetap saja, pengaruh Tsar Putin itu tak bisa lepas dari berbagai kecaman.

Misalnya: represi dan konflik militer yang ia gencarkan menuai berbagai dampak di sektor kehidupan. Dan ia tak pandang bulu: dari tradisi dan agama Orthodox, hingga penekanan oposisi politik dan kaum liberal sosial --termasuk feminis, LSM dan gay yang ada di Rusia.

Putin juga mengambil kendali dan aktif melakukan propaganda media. Dailymail menyebut, Rusia Times --sebagai salah satu corong penting pemerintah Rusia-- didanai Kremlin sebesar 200 juta poundsterling (sekitar Rp 3,6 triliun) pertahun untuk menyiarkan kampanye melawan subjek yang dianggap Moskow sebagai musuh.

Gelombang protes terhadap kepemimpinan Putin juga terjadi pada kisaran tahun 2012 atas korupsi kelas kakap Rusia.

Demonstrasi yang terjadi di seluruh Rusia itu menargetkan banyak hal, seperti: kepemilikan real estate besar milik Perdana Menteri Dmitri Medvedev; gaya hidup para birokrat dan pengusaha yang memanfaatkan layanan khusus negara; hingga berbagai penyalahgunaan properti negara lain demi kepentingan golongan.  

Setidaknya terdapat lebih dari 120 ribu warga yang berdemo pada 4 Desember 2012 mengungkapkan kekecewaannya pada Putin.

“Di bawah Putin, begitu banyak pencuri yang berkuasa,” kata Ivan Frolov, 28, insinyur di Rusia, seperti dikutip dari The Guardian.

“Pihak berwenang benar-benar tertutup, mereka tidak berbicara dengan masyarakat. Kami ingin memilih pemimpin yang mendengarkan kami dan kami tidak ingin menyembah satu orang,” lanjutnya.

Satu orang itu, tentu saja adalah Putin. Dan bersiap saja, Rusia masih akan punya Tuhan yang sama dalam enam tahun ke depan.

=============== Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!