Waduk Pluit, Riwayatmu Kini...

Lantaran sudah tak laik melaut, Fluitschip Het Witte Paert disandarkan di timur muara Kali Angke. Kehadiran kapal layar berlunas ramping itu membantu skuat pertahanan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Benteng Vijhoek --benteng kecil luar Batavia, menghadapi serangan pasukan bersenjata Kesultanan Banten. Kubu pertahanan di area kapal lantas dikenal dengan sebutan De Fluit.
Hingga kini, orang mengenal kawasan di utara Jakarta itu sebagai 'Pluit'. Kisah di baliknya, Pluit pernah menjadi salah satu benteng pertahanan VOC di luar wilayah Batavia sekitar abad ke-16.
Pluit kala itu adalah rawa. Banjir besar yang melanda Jakarta sekitar tahun 1960-an membuat pemerintah berencana menjadikan 100 hektare kawasan Pluit menjadi polder (kubangan buatan) untuk dikeruk: membangun tanggul laut, waduk, pompa, saluran, jalan-jalan masuk, jembatan, hingga sejumlah galian agar air hujan bisa ditampung.
Sementara 450 hektare lainnya dipakai untuk rumah penduduk. Pembangunan yang memakan biaya sekitar 38 juta gulden itu memakai dana pinjaman dari Belanda.
Namun, sekitar tahun 1980-1990-an, Waduk Pluit mengalami pendangkalan. Lebih dari 20 hektare pinggiran waduk beralih fungsi menjadi perumahan. Warga berebut tanah di pinggir waduk yang seharusnya menjadi milik negara.
Tahun 2013, Pemprov DKI di bawah pimpinan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama menertibkan perumahan yang merangsek ke waduk. Ruang terbuka hijau (RTH) atau taman kota dibangun di sekelilingnya. Disediakan Jalan inspeksi yang menghubungkan sisi Pluit Utara, mulai Jalan Raya Pluit samping Polsek Penjaringan hingga Kedung Panjang, Jakarta Utara.
Belasan ribu warga yang tinggal di area waduk lalu direlokasi. Hal ini dilakukan sebagai penataan waduk Pluit.
Dalam momen itu, para warga di bantaran waduk dipindahkan ke rumah susun yang agak jauh dari pinggir Waduk Pluit.
Kini, Waduk Pluit kembali membutuhkan perhatian.
Pantauan kumparan, Jumat (26/4) lalu, tumpukan tanaman eceng gondok yang berpotensi menjadi hama itu tumbuh dan menutupi bagian pintu air waduk. Akibatnya, sedimen sulit diekskavasi.
Belum lagi sampah limbah masyarakat yang kian menambah beban petugas UPK Badan Air Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Dalam sehari, hasil pengerukan bisa mencapai sepuluh truk.

Apalagi, kondisi Waduk Pluit saat ini kembali mengalami pendangkalan. Lumpur mengendap cukup tebal, aroma tidak sedap tercium hingga ke area taman rekreasi yang mengitarinya.
Sampah-sampah menumpuk di sudut-sudut waduk. Jika dilihat dari lokasi penumpukannya, diprediksi sampah-sampah tersebut adalah buangan dari saluran-saluran limbah rumah tangga yang bermuara ke waduk Pluit.
Salah-seorang warga yang masih tinggal di pinggiran Waduk Pluit, Maman (39), mengatakan, Waduk Pluit jadi bau dan kotor karena aktivitas pengerukan yang dilakukan petugas kebersihan di dalam waduk.
“Kalau enggak digaruk (dikeruk oleh petugas kebersihan), air ini enggak bau. Coba saja pas lebaran ke sini, pas ada dua mingguan nggak digaruk, airnya jernih itu, saya berani minum. Kalau sekarang nggak berani, hitam begitu,” ungkap Maman.
Sementara terkait sampah yang banyak menumpuk di dalam waduk, Maman menyebut itu seluruhnya bukan karena ulah warga yang tinggal di bantaran waduk. “Memang masih ada yang belum sadar, ada yang diam-diam buang sampah ke waduk. Tapi sebenarnya sampah itu hanyut dari kali-kali dan got-got yang mengarah ke sini,” ungkapnya.
Di sisi lain, petugas kebersihan UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Iyus (35), menampik logika yang dipakai Maman. Ia bahkan mengatakan bahwa salah-satu rintangan untuk mewujudkan Waduk Pluit yang bersih adalah kurangnya kesadaran warga sekitar waduk.
“Ya, namanya kita membersihkan. Itu 'kan sampah mereka kita bersihkan. Lihat tuh, sampah mereka semua ini. Kalau enggak ada sampah, limbah rumah-rumah itu, ini bersih, dong, airnya,” tutur Iyus saat ditemui di sela-sela kesibukannya mengangkut timbunan eceng gondok bercampur sampah dari Waduk Pluit.
Katanya, setiap hari ia dan timnya membersihkan permukaan waduk dari sampah dan tanaman eceng gondok yang tumbuh begitu liar. “Kalau lagi diawasi, ya, mereka enggak buang sampah kan. Tapi coba saja pas kita sudah pergi, malam-malam, numpuk lagi sampah,” imbuh Iyus.
“Kalau di kali-kali yang mengalir ke waduk ini, memang ada yang membandel. Tetapi kita jaga itu di kali-kali, kita awasi terus agar orang enggak sembarangan. Jadi enggak kali aja, yang parah itu limbah pembuangan rumah-rumah di sini,” imbuhnya lagi.
Maman kemudian berbicara soal pendangkalan waduk. Menurutnya, hal itu disebabkan kombinasi antara sampah dengan tanah pinggiran waduk yang strukturnya mudah longsor.
Lalu karena tanah terus longsor --yang kemudian bercampur dengan sampah, waduk menjadi kian dangkal. Ketika waduk sudah begitu dangkal, eceng gondok tumbuh liar tak terkendali sehingga menutupi permukaan waduk.
“Eceng gondok ini setiap hari tumbuh terus, beranak-pinak. Sore kita bersihkan, besok pagi ramai lagi,” tuturnya.
“Tanah pinggir-pinggir itu kalau hujan, ya, longsor, jadi pendangkalan, ya, di sana eceng gondok jadi ramai, kan,” sambungnya lagi.
Iyus tak menampik pendangkalan waduk menghambat kerja pembersihan yang ia lakukan bersama para petugas UPK Badan Air DKI Jakarta. Pasalnya, jika sudah begitu dangkal, alat berat tidak bisa lagi bekerja. Imbasnya, tak ada penanganan yang bisa dilakukan.
Lima tahun berlalu, namun belum semua warga bantaran waduk dapat menempati rumah susun. Mereka yang belum mendapat jatah di rumah saat ini menetap di bantaran waduk, yang dulu direncanakan akan digunakan sebagai jalan.
“Dulu katanya pinggiran ini (area permukiman) akan dijadiin jalan. Enggak tahu sekarang bagaimana ya, Pak Anies (Gubernur DKI Anies Baswedan) gimana programnya. Setiap orang kan beda-beda prioritasnya ya,” tutup Iyus.
Berbeda dengan kondisi waduk, Taman Kota yang membentang di sekitar Waduk Pluit terlihat bersih dan terawat baik. Beberapa pengunjung tampak tengah bersantai di sela-sela pepohonan yang rindang atau di bangku-bangku taman.
Bagi warga Jakarta yang hendak bersantai akhir pekan sembari menikmati hawa sejuk dan pemandangan rindang, taman Taman Kota Waduk Pluit bisa dijadikan pilihan.
Hanya saja, jika berkunjung ke sini, pengunjung mungkin sedikit terganggu dengan aroma kurang sedap yang menyeruak dari Waduk Pluit.
Rujukan:
Gagalnya sistem kanal: pengendalian banjir Jakarta dari masa ke masa. Restu Gunawan. 2010. Penerbit Kompas
BATAVIA 1740 – Menyisir Jejak Betawi. Windoro Adi. 2010. Penerbit Gramedia.
https://jakarta.go.id/artikel/konten/3799/pluit
http://www.jakarta-propertindo.com/id/id/waduk-pluit/
