Wagub DKI soal Penanganan Corona: Ganjil Genap Dievaluasi - Corona di Bioskop

DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus positif corona tertinggi di Indonesia. Per 5 September 2020 kasus positif COVID-19 di Jakarta ada sebanyak 45.446 kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.277 pasien meninggal dunia, sementara pasien sembuh sebanyak 33.991.
Dengan kondisi tersebut, kebijakan Pemprov DKI terkait pencegahan penularan virus corona di Ibu Kota pun tak pernah luput dari perhatian Satgas COVID-19 maupun masyarakat. Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria angkat suara.
Riza memberikan tanggapan sejumlah pertanyaan terkait penanganan corona di Jakarta. Di antaranya tentang kebijakan aturan ganjil genap yang diminta Satgas COVID-19 untuk dievaluasi. Lalu ada pula penggunaan peti mati untuk kampanye bahaya corona. Hingga rencana pemerintah membuka bioskop di tengah pandemi.
Seperti apa pernyataan Riza? berikut kumparan rangkum:
Tanggapi Permintaan Evaluasi Ganjil Genap
Kebijakan ganjil genap untuk mobil di sejumlah jalan di Jakarta kerap dikritik oleh Satgas COVID-19. Kebijakan itu dinilai tidak menekan mobilitas warga, namun justru mengalihkan masyrakat dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
Terkait hal itu Riza mengatakan pihaknya terus mengevaluasi penerapan ganjil genap bersama Dinas Perhubungan dan Polda Metro Jaya. Menurut dia, program itu memang bertujuan untuk membatasi pergerakan warga.
"Apa yang jadi perhatian Pak Doni (Ketua Satgas COVID-19) akan kita perhatikan, kita tindaklanjuti, kita akan terus evaluasi dengan Dishub dan juga Polda Metro Jaya. Prinsipnya semua kebijakan yang diambil selalu kita diskusikan dan menjadi perhatian kita juga apa yang menjadi masukan dari Pak Doni," kata Riza kepada wartawan, Sabtu (5/9).
Riza mengatakan peningkatan volume penumpang di angkutan umum bisa jadi karena mobilitas warga yang kembali tinggi berbeda saat PSBB pertama diberlakukan.
"Terkait dengan meningkatnya 3,5 persen orang yang beralih ke umum kita cek. Apakah betul karena gage (ganjil genap) karena kalau mau jujur kan yang naik kendaraan kan berkurang karena tidak bekerja, WFH, kita tahu kan yang kerja berkurang disebabkan PHK, bekerja dari rumah, enggak keluar. Bisa saja ada peningkatan karena ada yang kembali kerja, ada keperluan, kita cek apakah ada korelasinya," jelasnya.
Selain itu juga bisa karena faktor ekonomi. Di tengah kondisi pandemi ini ada kemungkinan masyrakat menganggap menggunakan transportasi umum lebih murah dibanding kendaraan pribadi. Semua faktor tersebut akan diperiksa dan dibicarakan oleh sejumlah pihak yang terkait.
Akui Tak Mudah Tarik Rem Darurat Corona di Jakarta
Data terakhir positivity rate mingguan Jakarta menembus angka 13 persen. Angka ini jauh di atas batas aman WHO, yakni di angka 5 persen.
Meski kasus di Jakarta terus naik, Riza mengatakan saat ini sulit bagi Pemprov untuk menarik rem darurat dengan cara mengembalikan PSBB ke tahap pertama.
"Memang pilihan kita tidak mudah, kalau kita kembali ke PSBB sebelumnya semua tiba-tiba aktivitas berhenti, kita khawatir pelayanan berhenti. Maka kita upayakan cari jalan terbaik dengan terus memperpanjang masa PSBB transisi," kata Riza.
Sejauh ini Pemprov DKI, kata Riza, berupaya membendung penularan corona lewat tracing dan testing. Sehingga warga yang positif bisa segera diisolasi dan tak menularkan ke lebih banyak orang.
"Kita meningkatkan tracing dan testing yang paling penting bagaimana kita bisa membangun masyarakat. Termasuk adanya peti mati yang banyak itu kita minta masyarakat lebih peduli, hati-hati, sebagai peringatan," ujarnya.
Tepis Isu Kristenisasi Peti Mati untuk Jenazah Corona
Penggunaan peti mati dalam pemulasaran jenazah pasien COVID-19 juga tidak dari perhatian masyrakat. Ada yang menyebutnya hal itu sebagai kristenisasi. Namun, Riza membantahnya.
"Enggak ada hubungannya orang di peti mati sama kristenisasi. Orang yang perang juga masuk ke peti mati," kata Riza kepada wartawan, Sabtu (5/9).
Ia menjelaskan protokol itu tak lain untuk memastikan virus corona tak menular dari jenazah. Maka disusun protokol, salah satunya harus menggunakan peti agar bisa dilapisi plastik dengan rapi dan aman.
Menurutnya secara Islam juga tak masalah untuk menguburkan jenazah dengan cara tertentu jika memang situasinya mengharuskan, demi keselamatan umat yang lebih besar.
Belum Berencana Terapkan Jam Malam
Riza mengatakan Pemprov DKI Jakarta hingga saat ini belum akan menerapkan aturan jam malam seperti yang diberlakukan di Depok, Jawa Barat. Meski begitu pihaknya akan melihat dan mempertimbangkan efektifitas aturan tersebut di kota tetangga Jakarta itu.
"Kami menghormati, menghargai teman dari provinsi lain mengambil kebijakan. Untuk DKI Jakarta kita belum sampai ke situ, tapi ini jadi masukan apakah perlu atau tidak," kata Riza kepada wartawan, Sabtu (5/9).
Riza mengatakan, meski tidak ada jam malam, namun jam buka restoran hingga mal di Jakarta sudah ada pengaturannya. Sehingga menurut dia secara tak langsung sudah ada pembatasan.
Penularan Corona di Bioskop
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menilai tingkat penularan virus di bioskop lebih rendah. Ia membandingkannya dengan risiko penularan di pesawat, kantor, atau bahkan restoran. Sebab, di dalam bioskop warga cenderung tak berinteraksi banyak.
"Justru dari empat (pesawat, restoran, kantor, bioskop), bioskop lebih aman dibandingkan empat ini. Bioskop orang ngadep ke layar satu arah, protokol jalan, berjarak, hand sanitizer, thermal gun orang pakai masker, enggak bicara, enggak boleh diskusi dan enggak boleh ngobrol, tapi itu pun kita belum buka sampai hari ini belum kita buka," kata Riza kepada wartawan, Sabtu (5/9).
Ia menyebut ruang gerak di pesawat lebih sempit sehingga membuat risiko penularan juga bertambah. Begitu juga restoran dan kantor yang kebanyakan protokol penggunaan masker dilanggar karena menganggap kenal dengan lawan bicaranya, yang padahal tetap saja berisiko.
"Lebih aman di mal daripada di kantor. Ruangnya terbatasi ada AC, sesama teman di kantor rentan karena teman sejawat ngobrol diskusi berhadapan. Dekat, masker dibuka," kata dia.
Namun meski demikian, perihal pembukaan bioskop, Riza menyebut hal itu dalam tahap penyempurnaan regulasi dan protokol kesehatannya.
