Waka Komisi I Kecam Israel Culik Jurnalis Republika, Desak PBB Bantu Bebaskan
·waktu baca 3 menit

Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengecam tindakan Israel yang disebut menangkap sekitar 100 aktivis dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza, termasuk dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody).
Ia mendorong pemerintah Indonesia agar lebih tegas mendesak Dewan Keamanan PBB dan Amerika Serikat untuk membantu membebaskan para aktivis dan jurnalis tersebut.
Sukamta mengatakan penangkapan terhadap para aktivis dan jurnalis itu terjadi setelah Israel mencegat armada bantuan kemanusiaan yang tengah menuju Gaza di perairan internasional. Menurut dia, tindakan tersebut tidak sejalan dengan upaya berbagai pihak yang tengah mendorong perdamaian di Timur Tengah.
“Saya mengecam ulah Israel ini. Saya mendukung pemerintah RI lebih tegas untuk mendesak DK PBB dan AS melobi Israel agar membebaskan para aktivis dan jurnalis Republika tersebut,” kata Sukamta dalam keterangannya, Senin (18/5).
Sukamta menilai Israel seharusnya menghormati berbagai proses diplomasi yang tengah diupayakan untuk meredam konflik di kawasan.
Menurut dia, langkah Israel mencegat armada bantuan kemanusiaan justru menjadi manuver yang kontraproduktif terhadap upaya perdamaian.
“Israel memang memiliki track record yang buruk soal kepatuhan terhadap perjanjian dan hukum internasional. Tapi dengan adanya Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Presiden Trump, seharusnya sikap Israel juga setidaknya sejalan dengan upaya BoP untuk mewujudkan perdamaian di Palestina,” ujar Sukamta.
Sukamta juga menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik dan misi kemanusiaan seharusnya tetap mendapat perlindungan hukum internasional, bahkan dalam situasi perang maupun konflik bersenjata.
“Instrumen hukum internasional yang ada seharusnya sudah cukup untuk mendesak Israel membebaskan para aktivis dan jurnalis serta membuka blokade bantuan kemanusiaan” tegas dia.
Sebelumnya, pelayaran kapal-kapal kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) kembali mendapat rintangan. Kali ini, ada dua kapal GSF yang dicegat, yakni kapal Borales dan Osgurluk.
Di kapal itu, ada sejumlah WNI. Dua di antaranya adalah jurnalis Republika Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody). Republika pun sudah memuat berita “Laporan Terakhir Jurnalis Republika Sebelum Diculik IDF”.
“Jadi sejak sekitar pukul tiga dini hari sampai jam empat, karena pada saat itu baik Abeng maupun Ody bilang, oke kita sudah di perairan bebas, di perairan internasional. Jadi dari tim Global Sumud Flotilla internasionalnya bilang kalau sudah di perairan internasional di Laut Mediterania, itu besar kemungkinan kapal Israel bisa intercept (cegat) lebih cepat,” kata Wakil Pimpinan Redaksi Republika, Stevy Maradona, Senin (18/5).
Pihak Republika lalu memantau keberadaan kapal jurnalisnya itu. Sekitar pukul 11.oo WIB, kapal yang ditumpangi Abeng memunculkan peringatan adanya kapal perang yang melintas di dekat mereka.
Lalu, pada pukul 14.00 WIB, Abeng mengirimkan video SOS. Video ini berisi narasi bahwa ia ada dalam posisi ditahan otoritas Zionis Israel, dan meminta pemerintah untuk membebaskannya.
