kumparan
10 Februari 2020 12:28

Wakapolda DIY: Pelaku Klitih Tak Punya Motif Spesifik

LIPSUS Klitih Yogya - Patroli keamanan di Yogyakarta
Patroli keamanan kepolisian Yogyakarta. Foto: Deshana/kumparan
Bagi warga Daerah Istimewa Yogyakarta, sejumlah ruas jalanan kini berubah mencekam setiap malam hari. Musababnya adalah rentetan peristiwa penyerangan acak yang menyasar pengguna jalan, atau biasa disebut klitih.
Kecemasan itu menggema hingga ke jagat media sosial twitter. Awal Februari lalu, tagar #DIYDaruratKlitih mendadak nangkring sebagai tagar paling banyak dibicarakan di Indonesia.
Keriuhan bermula ketika Enrico Kristanto menjadi korban pertama, Jumat (31/1). Pengemudi ojek online itu terkena sabetan senjata tajam pada wajah oleh orang tidak dikenal ketika melintas di Jalan Kabupaten, Gamping, Sleman.
Empat hari kemudian, Pendiyanto, seorang pengemudi ojol lain, juga menjadi korban penyerangan dengan senjata tajam di Sleman. Pada Januari 2020 saja, sudah ada lima insiden “klitih” di DIY. Semua terjadi pada malam hari.
Jumlah itu menambah panjang daftar kasus klitih yang saban tahun kerap terjadi di DIY. Di tahun 2019, misalnya, tercatat 35 kejadian klitih. Dua tahun sebelumnya, jumlahnya lebih besar lagi, 45 kasus pada 2018 dan 51 kasus di 2017.
Para pelaku “klitih”, menurut Wakapolda DIY Brigjen Pol. Karyoto, umumnya masih duduk di sekolah tingkat menengah. Tak ada motif spesifik yang melatari aksi mereka.
"Pelaku mengincar korbannya secara tidak jelas, jamnya tidak jelas juga," kata Karyoto kepada kumparan.
Karyoto menjelaskan, kepolisian dan sejumlah pemangku kepentingan daerah tengah berupaya mencegah “klitih” kembali terulang. Jumat (7/2) lalu, kumparan berkesempatan berbincang panjang lebar mengenai fenomena klitih di ruang kerjanya.
PTR- LIPSUS Klitih Yogya - Wakapolda DIY Karyoto
Wakapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Pol Karyoto. Foto: Deshana/kumparan
Karyoto mengungkapkan ketidaksetujuannya menggunakan istilah klitih untuk merujuk aksi kekerasan yang belakangan terjadi di wilayahnya. Berikut petikan perbincangan kami:
Bagaimana Polda DIY melihat fenomena klitih ini?
Kita ingin meluruskan ya istilah "klitih" dulu. Sekarang ini sudah masuk ke ranah pergeseran arti yang negatif. Klitih ini sebenarnya kalau Bahasa Jawa, istilahnya model jalan-jalan malam. Atau kalau bahasa sekarang model keluyuran. Tapi jalan-jalan untuk misalnya kongkow, nyari makanan, nyari teman, dan kumpul-kumpul. Itu klitih.
Nah, sekarang disalahartikan oleh masyarakat DIY, Klitih adalah semacam kejahatan jalanan. Di mana pelakunya sekelompok orang, naik sepeda motor. Dia dengan membawa senjata tajam, atau senjata apapun yang dibuat untuk melukai. Pakai kayu, melempar, atau pakai gir roda dikasih tali, diikat, dilempar atau diputar-putarkan.
Nah, ini menjadi marak karena bahwa dunia sekarang kan sudah transparan, medsos begitu cepatnya. Ada satu kejadian, bisa ditularkan, seolah-olah satu kejadian bisa menjadi seperti 1000 kejadian, karena 1000 orang membaca dan men-share.
Nah, kami Polda DIY, kebetulan setelah tahun baru kita menganalisa dan mengevaluasi apa yang kurang sempurna di tahun 2019. Nah, dalam keadaan apapun itu yang menjadi prioritas yang cukup penting untuk kita tanggulangi secara bersama.
LIPSUS Klitih Yogya - Ilustrasi kekerasan di jalanan
Ilustrasi geng motor. Foto: Reuters/Randall Hill
Apa motif para pelaku “klitih”?
Saya gambarkan satu kasus klitih yang pernah kita ungkap di tahun 2014 ya. Saya dulu pernah jadi direktur kriminal umum di Polda DIY. Dalam waktu satu minggu terungkap. Satu orang pelaku berboncengan dengan temannya,
Nah dalam salah satu TKP itu ada yang meninggal di tempat. Karena dia menggunakan senjata tajam pedang terus kemudian yang ditemui berpapasan, dia mengayunkan (senjata tajam).
Sehingga kalau arti negatifnya klitih tadi, dari jalan-jalan biasa menjadi kejahatan jalanan, yang lebih spesifik pada kejahatan tanpa motif. Kalau seseorang pelaku mengincar korbannya pasti ada motif. Entah Asmara, dendam, utang piutang, dan lain-lainnya.
Tapi, ini enggak ada motif. Pelaku naik motor keliling-keliling kena korban. Sehingga ini kita juga bingung kapan kejadiannya, di mana tempatnya kan kita tidak akan tahu, tidak bisa memprediksi. Mereka mengincar korbannya tidak jelas, jamnya tidak jelas juga.
Klitih, Dulu dan Kini
Klitih, Dulu dan Kini. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
Kenapa mereka memilih target acak?
Beberapa kejadian yang membuat orang berani itu minuman dan obat-obat yang namanya seperti pil anjing gila, obat sapi juga, pil koplo. Itu yang membuat orang jadi berani kepada siapapun.
Dan kami ya mau enggak mau harus rutin merazia ini. Dan sekaran unit narkoba jadi prioritas juga cari ini barang ini. Karena itu barang relatif murah. Ekstasi kan mahal satu pil bisa 200-300 ribu. Itu mungkin puluhan ribu aja.
Kapan para pelaku biasanya beraksi?
Kejadian klitih itu biasanya bukan sekitar jam 9 malam. Biasanya di atas jam 11 malam Bahkan ada yang pernah kejadian menjelang subuh.
Bagaimana latar belakang para pelaku?
Satu hal yang sedikit menarik dari para pelaku klitih ini, yang pertama kalau ditinjau dari sisi profesi kebanyakan pelajar. Yang kedua dari sisi usia sangat belia. Bahkan kemarin kita menangkap beberapa kali ya pelaku-pelaku itu. Ada yang masih duduk di kelas 2 SMP, yang kelas 2 SMA, bahkan ada yang ikut juga anak kelas 6 SD.
Dan ada satu hal lagi memang, latar belakang dari orang-orang ini, beberapa ya, kembali dia kebanyakan orang-orang yang justru kurang mampu. Beberapa dari mereka keluarganya mengalami permasalahan, seperti orang tuanya cerai, dia hidup dengan kakek dan neneknya.
Kembali pada pengawasan orangtua yang kurang. Kalau dia hidup dengan kakek neneknya mungkin kakek nenek dalam kondisi yang sudah sepuh, pengawasan kurang, kakek neneknya tidur, dia keluar.
LIPSUS Klitih Yogya - Aksi stop Klitih
Ratusan anggota organisasi masyarakat (Ormas) melakukan aksi di halaman Polda DIY, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (3/2/2020). Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Lalu langkah apa yang dilakukan Polda DIY untuk menanggulangi permasalahan ini?
Kita selalu menurunkan patroli sampai saat ini. Polres yang menjadi prioritas itu Sleman, Bantul, dengan Polresta. Kalau Gunungkidul kan jalannya sedikit dan kotanya relatif kalau di situ sepi. Begitu kalau mau main klitih bisa ditangkap warga. Kalau di Bantul banyak jalan, Sleman juga banyak jalan, polresta juga banyak jalan.
Masyarakat juga sudah mulai aware, kita bahu membahu, sekolah-sekolah juga sudah mulai aware mendeteksi geng-geng yang ada. Kalau ada geng kita selidiki siapa pentolannya sampai tahu, nah baru kita tindak. Tindak itu dengan cara mungkin konseling dulu, panggil. Kalau enggak ya kita incar saja. Awasi orang itu kalau dia melakukan ya dengan segera kita bisa menangkap.
Tentunya yang paling bagus adalah kesadaran dari warga masyarakat untuk meningkatkan siskamling. Itu yang paling bagus.
Bagaimana pelibatan sekolah untuk memberantas klitih?
Kita dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga proaktif mengumpulkan semua kepala sekolah. Kita samakan persepsi. Mereka (petinggi sekolah) juga (bilang) sebenarnya mereka tidak mau sekolahnya dicap buruk. Tapi saya bilang bahwa anak-anak ini lebih banyak hidup di mana? Di sekolah atau di rumah? Jam di sekolah. Jam 4 sore baru pulang, sekitar 9 jam dia di sekolah.
Secara proaktif sudah kita lakukan langkah penanggulangan di berbagai lini. Lini cipta kondisi dengan melakukan kegiatan preemptif kita lakukan dengan masuk ke sekolah. Kita ini juga sering jadi irup-irup (instruktur upacara) di sekolah-sekolah dan memberikan imbauan yang sifatnya general statement kepada peserta didik terutama kelas 2, kelas 3.
Kita juga bersurat juga bagaimana sih membuat misalnya anak biar jera melakukan itu, apakah dari sekolahnya memberikan hukuman atau hal lain. Itu sedang dicarikan solusinya.
Dan kita juga minta sekolah untuk memberikan informasi secara proaktif soal keberadaan geng-geng di masing-masing sekolah.
Setelah itu kita turunkan intelijen kita untuk mencari sebenarnya apakah ini murni kenakalan anak remaja atau ada semacam yang tadi dibilang suatu kegiatan yang sudah menjadi pola geng-geng sekolah untuk melakukan aksinya.
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan