Waketum IDI: Varian Delta Sangat Infeksius, Kata Ahli 2 Lapis Masker Bisa Tembus

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi virus Corona. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus Corona. Foto: Shutter Stock

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr Slamet Budiarto berpendapat Indonesia tengah dilanda gelombang ketiga lonjakan kasus COVID-19. Menurutnya, gelombang sebelumnya terjadi pasca Lebaran pada 2020 dan libur Nataru.

"Jadi kesimpulannya menurut kami sudah 3 kali serangan. Pertama Maret-April 2020, Desember-Januari, dan ini serangan ketiga," kata Slamet dalam diskusi virtual, Selasa (29/6).

Lebih lanjut, Slamet menerangkan kalau lonjakan kasus COVID-19 saat ini besar dipengaruhi oleh varian baru corona B1617 asal India (Delta). Hal ini kemudian diperparah oleh menurunnya prokes masyarakat saat libur Lebaran, termasuk mudik.

"Kan dulu ya kita harus mulai dari penyebab. Varian Delta dari luar negeri ini [masuk ke RI]. Kemudian yang pulang kampung itu juga memperbanyak penyebaran varian Delta di Indonesia," papar dia.

"Waktu meledak pertama kali saya mendapat bahwa ada beberapa WNI yang kerja di India menggunakan kapal masuk ke Kudus, itu mungkin salah satu penyebab. Infeksi per hari ini hanya butuh waktu 3 minggu [melonjak] ke 20 ribu," imbuhnya.

Mengingat data penambahan kasus COVID-19 per harinya di RI, Slamet mengingatkan kalau lonjakan kasus saat ini lebih berbahaya dari gelombang sebelumnya. Sehingga ia menyayangkan kalau masyarakat masih ada yang abai protokol kesehatan.

embed from external kumparan

"Artinya tidak usah menggunakan penelitian pun kita bisa melakukan penelitian simple kalau virus varian ini sangat infeksius. Bahkan ada pakar yang mengatakan dua lapis masker itu tembus," jelas dia.

"Ada keluhan nakes yang terinfeksi. Di sisi lain masyarakat banyak yang tidak peduli, makan buka masker di pinggir jalan tuh biasa saja," tambahnya.

Oleh sebab itu, ia mengingatkan masyarakat untuk membatasi mobilitas dan lebih taat prokes. Sementara pemerintah diimbau untuk lebih ketat membatasi akses keluar masuk RI.

"Jadi varian Delta ini infeksius sekali, masyarakat perlu stay at home.

Kalau pemerintah tidak memutuskan PSBB ketat seperti di awal pandemi ya sudah kita PSBB sendiri per keluarga," pesan dia.

"Kami harap pemerintah memperketat orang keluar masuk Indonesia. Jangan sampai nanti ada varian Delta plus. Kita sudah bisa mengendalikan Delta, masuk lagi Delta plus," tandasnya.