Wali Kota Yogya Kecam Perusakan Makam Mertua Mendiang Djaduk

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (30/4/2026). Foto: Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (30/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengecam perusakan makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di pemakaman umum di daerah Pakuncen, Kota Yogyakarta. Diduga pelaku merupakan juru kunci makam tersebut.

"Sekali lagi saya membenci perusakan-perusakan yang dilakukan di makam, ya siapa pun yang melakukan (perusakan itu)," kata Hasto ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (12/8).

Hasto mengaku belum mendapatkan informasi soal perusakan ini. Hasto pun langsung memerintahkan Sekda dan Asekda Kota Yogyakarta untuk menelusuri kasus ini.

"Saya cek kalau seandainya sampai ada kejadian seperti itu (perusakan dan pemerasan), pemerintah wajiblah untuk hadir di sana. Dan akan segera hari ini. Nanti segera turun tangan lah Pak Sekda," katanya.

Kasus perusakan makam ini bukan yang pertama kalinya terjadi di Yogya. Dahulu, ada kasus perusakan makam di Kotagede yang dilakukan orang dengan gangguan kejiwaan. Hasto mengatakan dia membenci kasus perusakan makam seperti ini.

"Jangan terjadi lagi. Itu kan beberapa waktu lalu terjadi di Kotagede, ya. Saya sangat apa ya, membenci lah, kejadian-kejadian yang sangat sensitif tapi selalu terjadi berulang. Maka Jogja harus kita tegakkan sebagai City of Tolerance yang terus-menerus kita jaga bersama," katanya.

"Saya kira itu. Komitmen kita akan secepatnya kita selesaikan, ya," ujarnya.

Menurut Hasto, retribusi makam umum hanya saat bedah bumi atau pemakaman saja. Menurutnya, tidak boleh juru kunci serta merta meminta uang.

"Ada bedah bumi aja. Ada aturannya kan, ada aturannya. Jadi tidak bisa serta-merta begitu. Kalau paling pas bedah buminya aja tapi. Nanti kita cek. Kalau memang ada laporan yang meminta atau pungutan yang tidak sesuai, akan segera kita tindak," pungkasnya.

Cerita Perusakan

Makam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto di sebuah makam umum di daerah Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Diduga pelaku merupakan juru kunci makam tersebut. Foto: Dok. Petra

Istri Djaduk, Petra Ferianto, mengatakan ayahnya dimakamkan di Kuncen sejak 1971. Baru kali ini peristiwa perusakan terjadi.

Perusakan ini diketahui Petra saat ia datang untuk nyekar. Saat itu, Petra kesusahan mencari makam ayahnya. Ternyata nisan makam sudah dipotong.

"Terus ada orang saya tanya, juru kuncinya mana? 'Bentar lagi otw' katanya gitu. Kok otw?," kata Petra melalui sambungan telepon, Selasa (11/8).

Saat itu, Petra juga bertanya ke orang yang biasa bersih-bersih di makam. Orang tersebut mengatakan juru kuncinya sedang tidak ke makam.

"Saya minta nomor Hp-nya juga dia bilang nggak bisa, gitu kan. Terus saya ke kelurahan, ternyata itu bukan bagiannya kelurahan," katanya.

Petra lalu ke kantor polisi melaporkan kejadian ini. Petugas kemudian mendatangi lokasi. Selang beberapa saat Petra diminta kembali ke lokasi karena juru kuncinya sudah ketemu.

Juru kunci tersebut, menurut Petra, berkata nisan sengaja dipotong alasannya agar Petra mencari dirinya. Diduga hal itu karena masalah uang.

Petra bilang selama ini dia kerap nyekar di makam. Ketika ada sejumlah tukang bersih-bersih makam, dia selalu memberikan uang masing-masing Rp 10 ribu.

Namun, beberapa waktu terakhir dia tak menjumpai orang di makam tersebut, sehingga bingung harus memberikan uang ke mana.

"Saya selalu meninggalkan bunga, sebagai cara memberi tahu bahwa ada yang miliki loh makam ini. Dengan ada bunga. Nah, ternyata itu tadi dia mancing, 'Iki pancen tak aku pegel, nek orang ini kan tentu ora nggoleki aku' (kalau tidak dipotong, tidak mencariku) gitu loh juru kuncinya itu gitu," katanya.

"Jadi singkat kata saya bilang, 'Ya wis kalau itu dianggap aku masih punya utang, utangku piro (berapa)?' Kayak gitu, selama saya datang ke situ tidak ada orang," katanya.

Kedua, Petra minta agar makam ini dikembalikan seperti semula. Petra bahkan menawarkan untuk berlangganan saja, sehingga ketemu atau tidak, juru kunci tetap dapat uang.

"Padahal di situ ada 5 atau 6 polisi di situ. Terus, dia (juru kunci) menyetujui itu," katanya.

Bahkan juru kunci disebut sempat mengancam makam akan dibongkar jika ada jenazah lain yang hendak pakai lantaran Petra tidak memberikan uang.

Dugaan Pemerasan

Makam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto di sebuah makam umum di daerah Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Diduga pelaku merupakan juru kunci makam tersebut. Foto: Dok. Petra

Petra mengeluarkan uang Rp 500 ribu untuk juru kunci tersebut.

"Yang saya anggap utang itu tak transfer ke dia. Saya ngasihnya Rp 500 ribu. Harusnya sudah terlalu banyak sebetulnya. Kalau ngasih upah kan paling ya Rp 5.000 sampai Rp 20 ribuan, kan," katanya.

Soal perbaikan makam, juru kunci itu bahkan disebut sempat minta uang Rp 50 ribu ke Petra.

"Kok aku jadi keluar biaya untuk (yang) kamu rusak," katanya.

"Jadi kaya memeras gitu ya, pemerasan," katanya.

Selain itu juga ada uang bulanan Rp 100 ribu per bulan.

"Dia sempat bilang sesasi (sebulan) Rp 100 ribu, sehari berapa gitu," ujarnya.

Terkait kasus ini, Petra sudah melapor ke kepolisian karena ada perusakan. Namun, karena pelaku mengakui, disarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

"Cuma harapan saya kan tidak bukan dengan kasus saya toh, tidak berhenti di sini. Harus ada efek jera," katanya.

Petra khawatir kasus serupa justru menimpa makam-makam lainnya.