Wamen Stella Khawatir Banyak Prodi tapi Lulusan Tak Terserap, Singgung Dampak AI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wamendiktisaintek Stella Christie menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (15/1). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wamendiktisaintek Stella Christie menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (15/1). Foto: Zamachsyari/kumparan

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan pemerintah tidak ingin perguruan tinggi hanya menghasilkan banyak lulusan tanpa memastikan mereka dapat terserap di dunia kerja.

Stella mengatakan, fokus pemerintah bukan semata-mata pada jumlah atau banyaknya program studi (prodi) di perguruan tinggi. Menurutnya, hal yang lebih penting ialah memastikan lulusan memiliki kemampuan yang dibutuhkan sehingga dapat memperoleh pekerjaan yang baik.

“Sebenarnya kita bukan fokus kepada prodinya, tapi kita harus memastikan bahwa kita menyiapkan lulusan yang bisa mendapatkan pekerjaan, dan pekerjaan yang bagus. Karena yang paling tidak kita semua inginkan—baik dari mahasiswa, orang tua, masyarakat, dan kita juga yang dipekerjakan masyarakat—adalah lulusan kita pengangguran. Itu yang paling tidak kita inginkan,” kata Stella di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/10).

Karena itu, Stella mengatakan berbagai penyesuaian dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas lulusan.

“Dan kalau peningkatan itu ada perlu penambahan, ataupun pengurangan, atau pemfokusan, itu adalah berbagai jalan yang kita tempuh. Kembali lagi untuk kualitas lulusan kita supaya terserap di pekerjaan,” ucapnya.

Hal itu disampaikan Stella menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto yang meminta rektor tidak membuat terlalu banyak prodi.

Brian sebelumnya mendorong perguruan tinggi mempertimbangkan penggabungan prodi yang memiliki rumpun keilmuan serupa.

Stella menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti pemerintah semata-mata ingin mempersempit jumlah prodi yang tersedia di perguruan tinggi.

“Ya. Kembali lagi, bukan pengerucutan prodi-nya, tetapi metode apa yang paling efisien untuk memastikan bahwa lulusan kita ini memang bisa terserap di tenaga kerjaan,” jelasnya.

Ia menilai banyaknya prodi tidak otomatis menjadi hal yang baik apabila lulusan dari prodi tersebut justru kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Kalau kita banyak-banyak prodi, tapi ternyata lulusan kita tidak terserap, kan ini justru yang paling mengkhawatirkan kita semua. Jadi cara apa yang paling bagus untuk bisa mempersiapkan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Stella mengatakan pemerintah juga dapat mempertimbangkan penambahan prodi apabila bidang tersebut memang dibutuhkan dunia kerja. Kebutuhan itu, kata dia, dapat berubah mengikuti perkembangan dunia.

“Jadi sebenarnya bukan pengerucutannya atau, atau pengembangannya, tapi metode yang paling efisien agar kita menjamin lulusan kita itu bisa mendapatkan pekerjaan yang paling baik,” ungkapnya.

Stella juga menegaskan penyesuaian terhadap prodi bukan sesuatu yang hanya dilakukan sekali. Menurutnya, perguruan tinggi harus terus beradaptasi karena kebutuhan dunia kerja berkembang dengan cepat.

“Kita sangat khawatir kalau kita lihat data, dan ini sesuatu yang betul, bahwa AI itu paling banyak mengkikis untuk pekerjaan bagi lulusan baru,” kata Stella.

“Nah, ini adalah suatu yang tidak bisa kita pungkiri. Kita harus antisipasi dan bagaimana kita menghadapi dengan sebaik-baiknya,” sambung dia.

Menurut Stella, berbagai hal tersebut masih dalam kajian.

“Tapi adaptasi adalah kunci nomor satu. The only constant is change,” pungkas dia.