Wamendikdasmen: Generasi Muda Hanya Tertarik Jadi Petani bila Modern
·waktu baca 3 menit

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyatakan bahwa ketahanan pangan Indonesia tidak lagi bisa dipandang dengan pendekatan masa lalu.
Ia menegaskan bahwa konsep ketahanan pangan kini meliputi kecukupan produksi, kekuatan rantai pasok, hingga kualitas sumber daya manusia yang mengelola sektor tersebut.
“Setidaknya ada lima perubahan besar yang akan mendefinisikan masa depan sektor pangan Indonesia,” kata Atip pada Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang ketahanan Pangan di Millenium Hotel, Jakarta Pusat, Senin (8/12)
Menurut dia, Presiden Prabowo berkali-kali menekankan bahwa ukuran keberhasilan pemerintahan adalah adanya jaminan ketersediaan pangan. “Tidak ada negara yang makmur, negara maju, akan tetapi tidak memiliki ketersediaan pangan yang cukup,” ujarnya.
Atip kemudian memaparkan lima perubahan tersebut.
Pertama, pangan akan semakin berbasis data dan teknologi. Seluruh sektor—pertanian, perikanan, peternakan, hingga pengolahan—akan mengandalkan internet of things, sensor air, tanah dan cuaca, otomasi produksi, distribusi, serta pemanfaatan data supply dan demand.
“Tenaga kerja pangan masa depan bukan lagi sekadar pekerja fisik, tetapi operator teknologi, teknisi cerdas, dan analis proses,” katanya.
Kedua, sistem pangan bergerak menuju keberlanjutan. Ia menyebut efisiensi air dan energi, pengurangan limbah, circular economy, dan praktik ramah lingkungan.
“Sehingga green jobs di sektor pangan akan tumbuh pesat,” ucap Atip.
Ketiga, rantai pasok pangan akan semakin pendek dan berbasis lokal. Krisis global, kata Atip, mengajarkan bahwa rantai pasok panjang membuat negara rentan.
“Ke depan, akan tumbuh produksi pangan berbasis wilayah, pengolahan dekat sumber bahan baku, serta penguatan UMKM pangan lokal. Dalam hal ini, SMK harus menjadi simpul penting,” ujarnya.
Keempat, regenerasi pelaku sektor pangan menjadi isu krusial. Menurut Atip, sebagian besar pelaku pangan tradisional akan memasuki usia non-produktif, sementara minat generasi muda rendah akibat stereotip bahwa sektor pangan tradisional dan tidak menjanjikan.
“Generasi muda hanya akan tertarik apabila sektor pangan tampil modern. Ini harus menjadi perhatian kita bersama. Karena kan ada pandangan stereotip ya selama ini. Untuk sektor pangan, pertanian sangat tradisional sekali, sehingga doa orang tua itu semoga anaknya tidak menjadi petani katanya,” ungkapnya.
Kelima, pangan bernilai ekonomi tinggi menjadi bagian ketahanan nasional. Produk pangan masa depan, kata dia, adalah makanan olahan bernilai tambah, pangan fungsional, produk sehat dan aman, berbasis standar global, serta kemandirian pangan. “Ini semua membuka peluang besar bagi wirausaha muda lulusan SMK,” ujar Atip.
Ia menekankan bahwa untuk menjawab lima perubahan tersebut, SMK pangan harus melakukan transformasi kompetensi, memperkuat teknologi, membangun pembelajaran berbasis masalah nyata dan proyek produksi, memperkuat green skills, serta menyesuaikan keahlian dengan potensi pangan lokal.
“Tidak semua SMK harus sama. SMK pangan harus tumbuh dari potensi lokal, komoditas unggulan daerah, dan kebutuhan nyata ekosistem setempat,” tutup Atip.
