Wamendikti Stella Christie Ungkap Ada 4 Risiko AI, tapi Solusinya Juga AI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie memberikan keynote speech pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Christie, menyebut ada empat risiko besar dari kecerdasan buatan (AI) yang perlu diwaspadai.

Empat risiko itu adalah peningkatan pengangguran, penurunan keamanan internet, maraknya hoaks dan disinformasi, serta peningkatan kesenjangan.

Menurut Stella, empat hal itu nyata terjadi. Bahkan, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling rentan terhadap serangan siber di kawasan ASEAN. Namun di sisi lain, dia menyebut AI juga solusi atas keempat risiko itu.

“Kabar baiknya AI adalah jawaban untuk semua masalah ini. AI bisa menggantikan pekerjaan, tapi juga bisa menciptakan pekerjaan. AI bisa menurunkan keamanan, tapi juga bisa mendeteksi ancaman lebih akurat,” ucap Stella dalam acara kumparan AI for Indonesia di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10).

“Kita bisa gunakan AI untuk memeriksa reliabilitas informasi. Di Indonesia bisa menggunakan AI sama seperti negara maju karena AI adalah penyeimbang,” sambungnya.

Stella menambahkan, AI memiliki dua sisi—baik dan buruk—yang bergantung pada bagaimana manusia mengelolanya.

“AI ada bagusnya, ada jeleknya. Semua bisa terjadi. Kalau kita tidak berbuat apa-apa, risikonya akan terjadi dalam jangka pendek dan menengah, sedangkan manfaatnya baru terasa jangka panjang,” ujar Stella.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan dunia pendidikan agar dampak negatif AI bisa diminimalkan.

“AI punya sisi gelap dan baik, keduanya benar bisa terjadi. Tapi tidak dalam waktu bersamaan. Itulah tugas kita semua untuk melakukan intervensi agar kita bisa memperlambat disrupsi AI dan melatih diri sendiri,” ucap Stella.

“Jangan sampai ada kesenjangan geografis yang membuat hanya beberapa negara jadi good place, sementara Indonesia jadi bad place,” tutupnya.

Reporter: Antika Fahira