Wamenkomdigi Singgung AI: Technology is Easy but Journalism is Hard
·waktu baca 3 menit

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan artificial intelligence (AI) kini menjadi kekuatan disruptif yang mengubah hampir semua lini kehidupan, termasuk dunia jurnalisme.
Hal itu disampaikannya dalam acara Workshop Wartawan United Tractors Group di Artotel Mangkuluhur, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (25/9).
Workshop yang digelar United Tractors Group ini mengangkat tema AI dalam Ruang Redaksi: Transformasi Jurnalisme, Kolaborasi, dan Keberlanjutan.
“Apa yang kita cermati dulu sebagai sebuah science fiction sekarang menjadi science fact. Dulu fiksi ilmiah, sekarang menjadi fakta ilmiah. Penggunaan AI masuk dan meresap hampir ke seluruh sektor masyarakat,” kata Nezar.
Menurut Nezar, perkembangan teknologi AI melaju pesat sejak 2010 hingga kemunculan ChatGPT dan Large Language Model (LLM) yang kini mampu menghasilkan teks, gambar, bahkan video yang sangat realistis.
“Teknologi ini punya tenaga disruptif yang luar biasa. Luar biasa disruptifnya,” ujar eks wartawan ini.
Nezar juga menyinggung persoalan hak cipta karena data media besar kerap digunakan untuk melatih model AI.
“Sekarang tinggal dibuka ChatGPT, ambil satu (berita) copy, satu berita entah dari mana pun, tempelkan di sana, kasih perintah, tuliskan, tulis ulang berita ini dengan gaya New York Times. Bisa dibuat, mirip persis. Itu yang terjadi saat ini,” kata Nezar.
Selain itu, tambahnya, muncul risiko kekacauan informasi akibat percampuran antara produsen konten profesional dengan pengguna media sosial.
“Sekarang kita agak blur antara user dan producer di platform media sosial. Inilah yang kemudian membuat apa yang kita kenal sebagai information disorder, kekacauan informasi,” jelas mantan anggota Dewan Pers ini.
Meski demikian, ia menegaskan esensi jurnalisme tidak boleh hilang di tengah disrupsi teknologi.
“Technology is easy, but journalism is hard. Teknologi bisa kita pelajari, tapi esensi jurnalisme, kesetiaan, keteguhan untuk melaporkan sesuatu yang benar, itu sulit,” tegas Nezar.
Sementara itu, Direktur United Tractors Group Ari Sutrisno menilai digitalisasi dan AI sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk di sektor industri.
“Digitalisasi luar biasa berkembang sehingga sometimes kita nggak perlu datang ke site, itu kita sudah bisa duduk di ruang control room kita, lihat laptop kita sudah bisa mengetahui apa yang terjadi di lapangan dengan sangat baik,” ujar Ari.
“Bahkan sekarang skripsi pun pakai AI, ya. Jadi sudah luar biasa, ngerjain tugas pakai AI. Jadi kalau kuliah online ditanya dosen langsung buka AI,” ucap dia.
Ia menambahkan, sejak 2017 United Tractors Group sudah menerapkan proyek big data untuk mendukung operasional, mulai dari memantau konsumsi bahan bakar unit hingga aktivitas di lapangan.
“Saya ingat tahun 2017 kita memulai proyek waktu itu namanya Big Data, dan luar biasa sampai dengan hari ini di dalam operasional pun kita bisa melihat bagaimana fuel consumption per unit. Kita bisa dari control room kita,” jelas Ari.
“Digitalisasi ini merupakan movement yang luar biasa. Dan saat ini AI tidak bisa tidak, semuanya bersama kita,” tandasnya.
