Wanita Korsel Makin Ogah Punya Anak: Ancam Karier hingga Biaya Hidup Mahal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu hamil melakukan perawatan di salon. Foto: lunamarina/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil melakukan perawatan di salon. Foto: lunamarina/Shutterstock

Angka kehamilan di Korea Selatan kini mencapai rekor terendah baru pada 2023 dan menempati posisi negara dengan angka kehamilan terendah di dunia. Tahun ini, rata-rata angka kehamilan di Korsel menyentuh 0,72 persen, turun dari 0,78 pada 2022.

Ada sejumlah alasan atas fenomena ini, namun mayoritas keengganan untuk memiliki anak dirasakan oleh perempuan di Korsel. Banyak yang menganggap bahwa memiliki anak harus mengorbankan karier, memerlukan biaya hidup mahal, hingga mengkhawatirkan peran ibu yang tak setara dengan ayah.

Mengancam atau Mengorbankan Karier

Salah satu alasan perempuan enggan memiliki anak di Korea Selatan yakni persoalan karier. Sebagian perempuan mengaku sangat nyaman berkarier dan khawatir punya anak akan mengganggu hal tersebut, termasuk berdampak kepada self-improvement.

“Orang Korea punya pola pikir, kalau Anda tidak terus-menerus berupaya memperbaiki diri, Anda akan tertinggal dan gagal. Ketakutan ini membuat kami bekerja dua kali lebih keras," kata produser TV berusia 30 tahu, Yejin, dikutip dari BBC.

“Kadang-kadang di akhir pekan saya pergi untuk diinfus (IV drip), supaya punya energi untuk kembali bekerja pada hari Senin,” imbuh dia.

Yejin mengaku juga mendengar dari keluarga hingga kerabatnya, saat perempuan mengambil cuti untuk melahirkan, mereka mungkin tidak bisa kembali bekerja.

“Ada tekanan tersirat dari perusahaan saat kami mempunyai anak, kami harus meninggalkan pekerjaan kami,” katanya.

Ilustrasi indahnya bunga sakura di Korea. Foto: CJ Nattanai/Shutterstock

Berdasarkan survei Ipsos terhadap perempuan pekerja berusia 25 hingga 45 tahun yang dirilis Selasa (27/2), 62,2% responden menjawab tidak berencana untuk memiliki anak.

Perusahaan riset global itu melakukan survei online mengenai pengasuhan anak dan isu-isu terkait, dengan 1.000 perempuan pekerja di Korea Selatan dari tanggal 5 hingga 20 Februari 2024. Survei bekerja sama dengan The Korea Economic Daily.

Hasil penelitian juga menunjukkan, 66,6% responden yang belum menikah dan 59,2% responden yang sudah menikah menyatakan memilih untuk tidak memiliki anak. Selain itu dari perempuan yang belum menikah, 55,0% mengatakan mereka tidak memiliki rencana untuk menikah.

Alasan mereka mengambil keputusan tersebut antara lain karena tidak ingin berkomitmen dalam mengasuh anak, tidak memiliki sumber daya finansial, atau takut anak dapat menjadi penghambat pencapaian mereka.

“Banyak orang merasa tidak nyaman bekerja dengan rekan kerja perempuan yang sedang hamil atau sudah membesarkan anak,” kata seorang pegawai negeri perempuan, 37 tahun, yang menolak disebutkan namanya, dikutip dari The Korea Economic Daily.

“Hal ini membuat banyak pekerja perempuan berpikir bahwa kehamilan, persalinan, atau membesarkan anak dapat menjadi beban bagi perusahaan mereka," tambah dia.

Biaya Membesarkan Anak Mahal

Alasan berikutnya, sebagian perempuan tak siap finansial untuk punya menikah dan punya anak. Mulai dari rumah, biaya pendidikan, hingga biaya kursus.

Guru kursus Bahasa Inggris berusia 39 tahun, Stella Shin, sudah menikah namun terdesak semakin jauh dari ibu kota, ke provinsi tetangga, dan masih belum mampu membeli rumah sendiri. Ia tak punya anak karena tahu betul soal biaya pendidikan swasta, serta berbagai kelas ekstrakurikuler yang mahal mulai dari matematika, Bahasa Inggris, hingga musik dan Taekwondo.

Praktik kursus ini semakin menjadi budaya di Korsel. Anak yang tidak ikut serta seringkali dianggap gagal.

Sebuah studi pada 2022 menemukan, 2% orang tua tidak membayar uang sekolah privat, sementara 94% mengatakan hal tersebut merupakan beban keuangan.

Stella mengatakan, ia menyaksikan orang tua dapat menghabiskan hingga USD 890 per anak per bulan.

“Tetapi tanpa kelas-kelas ini (kursus), anak-anak akan tertinggal. Saat aku bersama anak-anak, aku ingin memilikinya, tapi aku tahu terlalu banyak," katanya.

Siswa mengantre di sebuah sekolah dasar di Daejeon, Korea Selatan. Foto: Reuters

Responden survei Ipsos memperkirakan, rata-rata biaya untuk membesarkan seorang anak selama 19 tahun sejak kelahiran mereka adalah 252,1 juta Won atau setara Rp 2,9 miliar, 16% lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 ketika survei serupa dilakukan.

"Banyak orang tua tidak dapat menolak kelompok bermain swasta yang mahal, taman kanak-kanak khusus berbahasa Inggris, dan sekolah persiapan sekolah kedokteran swasta untuk siswa sekolah dasar," kata seorang ibu yang tidak disebutkan namanya, berusia 34 tahun, dikutip dari The Korea Economic Daily.

Banyak responden survei berpendapat bahwa pemerintah harus memberikan subsidi hingga 46,7% dari biaya-biaya tersebut.

Beban Ibu dan Ayah Tak Setara

Persoalan finansial bukan hanya alasan utama para perempuan tak mau punya anak. Alasan yang cukup dikhawatiran yakni beban ibu dan ayah seringkali tak setara dalam mengurus anak di Korsel.

Warga Kota Daejon, Jungyeon Chun, merasa membesarkan anak sendirian meski bukan ibu tunggal. Setelah menjemput putrinya yang berusia tujuh tahun dan putranya yang berusia empat tahun dari sekolah, dia harus berkeliling di taman bermain terdekat, menghabiskan waktu berjam-jam hingga suaminya kembali dari kerja.

“Kupikir memiliki anak bukan keputusan besar. Kupikir saya akan dapat kembali bekerja dengan cepat (setelah melahirkan),” katanya.

Namun tak lama setelah punya anak, tekanan sosial dan finansial mulai muncul, dan Jungyeon berujung kerap mengasuh anak sendirian. Suaminya tidak membantu mengurus anak atau pekerjaan rumah.

"Aku merasa sangat marah. Aku terdidik dengan baik dan diajarkan bahwa perempuan itu setara, jadi aku tidak bisa menerima (situasi) ini," ujar dia.

Presiden baru Korea Selatan Yoon Suk-yeol menandatangani dokumen saat ia bekerja di kantor Presiden baru di Seoul, Korea Selatan, Selasa (10/5/2022). Foto: Yonhap via REUTERS

Studi yang dilakukan Hae Won Kim dan Seo Yun Kim pada 2021 membenarkan, alasan perempuan menghindari melahirkan karena punya beban mengurus anak yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Lebih banyak perempuan yang tak mau punya anak dibandingkan laku-laki. Dalam budaya tradisional Korea, mengikuti peran gender Konfusianisme, perempuan juga kerap dianggap sebagai pengasuh utama anak-anak mereka.

Sementara, meskipun aktivitas sosial perempuan meningkat, peran dan tugas laki-laki dalam urusan rumah tangga tidak banyak berubah. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di kalangan mahasiswa di Korea juga menunjukkan, meski pun nilai pernikahan telah berubah seiring berjalannya waktu, peran perempuan dan laki-laki masih terbagi berdasarkan nilai-nilai patriarki, dan kesenjangan gender masih ada.

Menurut survei Ipsos, dari 622 responden yang memilih hidup tanpa anak, sekitar 61,3% mengatakan dukungan keuangan negara tidak akan mengubah pikiran mereka untuk tidak memiliki anak. Sedangkan dari responden belum menikah yang tidak menginginkan anak, 77,9% mengatakan bantuan keuangan tidak akan mengubah pikiran mereka.

Menurut Data Statistik Korea, pasangan berpenghasilan ganda (ibu dan ayah bekerja) yang tidak memiliki anak mencakup 50,2% rumah tangga pada 2022, lalu naik menjadi 50,4% pada tahun berikutnya.

Pasangan dengan pendapatan ganda rata-rata hanya memiliki 0,54 anak, lebih rendah dibandingkan rumah tangga dengan pendapatan tunggal yang memiliki 0,73 anak.

Angka Kehamilan di Korsel Terjun Bebas Sejak 2012

Data Statistik Korsel menunjukkan, angka rata-rata kehamilan terjun bebas dari tahun ke tahun sejak 2012. Pada 2012 rata-rata angka kehamilan masih mencapai 1,30, turun ke 1,19 di 2013, 1,03 di 2017, 0,84 di 2020, hingga 0,72 di 2023.

"Jumlah angka rata-rata harapan kelahiran bayi selama masa reproduksi perempuan di Korsel (di 2023) turun menjadi 0,72 dari 0,78 pada 2022," jelas keterangan data Statistik Korea pada Rabu (28/2) dikutip dari Reuters.