Wapres JK Beberkan Maksud Jokowi soal Dana Haji untuk Infrastruktur

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kakbah di Mekkah.  (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Kakbah di Mekkah. (Foto: Wikimedia Commons)

Presiden RI Joko Widodo ingin dana tabungan haji diinvestasikan dalam pembangunan infrastruktur. Meski tak disebutkan secara detail mekanismenya seperti apa, namun rencana ini menuai banyak penolakan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla kemudian menjelaskan bahwa dana haji yang dimaksudkan Presiden beberapa waktu lalu itu merupakan dana dari calon jemaah haji yang antrean berangkat masih lama, sehingga untuk sementara diinvestasikan ke sektor lain yang lebih menjanjikan, seperti infrastruktur.

"Dana itu merupakan uang muka daripada jamaah yang mendaftar hari ini, tapi naik hajinya mungkin 10 tahun lagi. Malah ada 30 tahun di sini, di Sulsel sampai 35 tahun," kata JK di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jumat (28/7).

Jusuf Kalla (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jusuf Kalla (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Jika tak dialihkan atau diupayakan ke hal yang lain, JK khawatir dana tersebut akan berisiko lebih besar. Apalagi dana haji dibayarkan melalui kurs mata uang dollar yang beberapa tahun ke belakang nilainya terhadap rupiah amat rentan mengalami fluktuasi.

"Dana itu tentu ada risikonya adalah kan ongkos naik haji itu dibayar dengan dolar, kalau tidak diupayakan dia kena inflasi dan kena daya beli. Karena itu harus diinvestasikan ke proyek yang menguntungkan, yang juga umumnya terkait dengan dolar karena nanti anda bayar rupiah hari ini, anda nanti ongkosnya dolar pada 20 yang akan datang. Karena itu harus diinvestasikan di sawit atau jalan tol yang dibayarnya juga naik terus," papar JK.

JK mengatakan pengalihan dana haji ke dalam sektor infrastruktur dinilai lebih aman, mengingat dana haji tersebut dapat diinvestasikan lebih tinggi melebihi angka inflasi, yang dikhawatirkan meningkat pada jangka waktu ke depan.

"Iya, katakanlah jalan tol. Kan bisa kalau keuntungannya 15 persen saja setahun itu, akan lebih tinggi daripada inflasi. Harus diinvestasikan lebih tinggi dari inflasi kalau enggak ini bangkrut, orang bisa-bisa tidak jadi naik haji. Itu alasannya," tutupnya.