Warga Asahan Tewas di Kamboja, Paman Ungkap Korban Ditipu hingga Disetrum
·waktu baca 3 menit

Seorang warga Kabupaten Asahan, Sumut, bernama Azwar (32 tahun), tewas di Kamboja. Ia diduga tewas usai ditipu seorang pria yang mengaku sebagai agen penyalur tenaga kerja di luar negeri.
Paman korban, Rizal, menceritakan rangkaian peristiwa yang sebelum Azwar dilaporkan meninggal dunia. Semua bermula pada pertengahan Maret 2025.
Rizal bercerita, Azwar awalnya mengaku kepada orang tuanya akan pergi ke Malaysia. Ia menjual motornya untuk menjalankan rencana tersebut.
Saat itu Azwar tidak mengungkapkan kapan akan pergi dan tujuan kepergiannya. Tiba-tiba saja saat orang tuanya pulang Azwar sudah tidak berada di rumah.
Azwar baru memberi tahu keluarga setelah berada di Malaysia. Kata Rizal, Azwar mengaku ke Malaysia karena dijanjikan berkarier sebagai penyanyi oleh seseorang yang mengaku agen.
"Cuma dia yang kan basic-nya di penyanyi ya, sampai di sana dia bilang dia tahunya dia dibawa ke Malaysia, diantar sama agennya,” kata Rizal saat dihubungi kumparan, Rabu (25/6).
“Agennya katakan nama agen kalau di hp itu dinamai 'Hasan',” sambungnya.
Setelah komunikasi tersebut, Azwar tidak lagi mengontak keluarga. Pihak keluarga juga tidak bisa menghubunginya.
Rizal bilang, Azwar baru kembali mengontak keluarga sebulan kemudian. Namun, bukan kabar baik yang disampaikannya.
"Aku di Kamboja, Om,” kata Rizal menirukan omongan Azwar saat meneleponnya.
Saat itu, lanjut Rizal, Azwar mengaku tertipu. Ia ternyata tidak pernah diajak bekerja di Malaysia. Sebab usai sampai di Malaysia, Azwar langsung dibawa ke Kamboja.
"Itu dia sudah mulai tertekanlah, sakit-sakitan, jadi dibilang adiknya ini kayak ada firasat enggak enak lah. Ada sisa uang, abang kasihlah Rp 1,25 juta, abang kirim,” tuturnya.
Rizal bilang, Azwar kembali mengontaknya seminggu kemudian. Saat itu ponakannya tersebut mengaku dalam keadaan sehat dan sudah pindah tempat kerja.
"Nah, udah begitu habis hari Raya Haji nelepon lagi, 'Om minta tolong, Om bebaskan, Om. Tolong cari tebusan'. Awalnya Rp 30 juta baru Rp 40 juta jadi kami bingung,” kata Rizal.
Uang tebusan itu diminta agar Azwar bisa pulang ke Indonesia. Namun, pihak keluarga ragu.
"Kami bilang kami kasih tebusan pun belum tentu kau dibebaskan," kata Rizal.
Azwar mencoba meyakinkan keluarga dengan video call bersama seseorang yang mengaku perwakilan perusahaan. Namun selama video call orang yang mengaku WNI itu tidak menunjukkan wajahnya. Kamera hanya menunjukkan wajah Azwar.
“Pokoknya kalau enggak ada Rp 30 juta, Rp 15 juta, nanti abangmu saya kirim ke Indonesia dengan selamat. Saya orang Indonesia-nya enggak mungkin saya nokohin (menipu) orang Indonesia," kata Rizal mengingat pernyataan orang tersebut.
“Jadi kami kirimlah Rp 15 juta, habis itu lost contact sampai minggu depan Jumat (10/6) itu kami dapat kabar KBRI bahwa Azwar meninggal loncat dari gedung lantai tiga,” ujarnya.
Disetrum
Sebelum Azwar dilaporkan meninggal dunia, Rizal mengaku pihaknya sempat berupaya menghubungi TikToker bernama Mba Yuni, yang kontennya soal pembebasan WNI, untuk membantu kepulangan keponakannya itu. Namun, Azwar menolak lantaran khawatir disetrum.
“Azwar kita bilangi, 'Kau minta tolong Miss Yuni'. Kami coba-coba kan sebelum dia gini. Kami kan udah cari kontak-kontak Miss Yuni,” kata dia.
“Dia bilang enggak berani nanti aku disetrum gitu. Berarti sudah pernah disetrum makanya dia bilang gitu. Terakhir kali kabarnya itu dia disetrum gitu enggak tahanlah, tertekan,” tuturnya.
kumparan sudah mencoba mengkonfirmasi hal ini ke Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumut Harold Hamonangan, namun ia belum merespons.
