Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Warga Jelambar Ricuh dengan Petugas saat Penertiban Lahan RS Soeharto Heerdjan
26 Februari 2025 12:15 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Kericuhan antara warga RT 1 dan RT 2 dengan aparat dari Satpol PP, petugas sekuriti dan kebersihanRS Soeharto Heerdjan terjadi di Jalan Satria I, Jelambar, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, pada Rabu (26/2).
ADVERTISEMENT
Keributan itu dipicu penertiban yang hendak dilakukan oleh pihak RS Soeharto Heerdjan terhadap warga yang bermukim di sekitar rumah sakit. RS Soeharto Heerdjan merupakan RS jiwa milik Kemenkes RI.
Dari pantauan di lokasi, sebelum kericuhan terjadi, polisi sempat melakukan mediasi terlebih dahulu dengan perwakilan warga yang menolak penertiban.
Sejumlah bukti surat Eigendom Verponding (surat kepemilikan hak atas tanah yang dikeluarkan pada zaman kolonial Belanda), sempat ditunjukkan oleh warga. Namun, bukti yang disodorkan tak berhasil meyakinkan polisi.
"Kita bertahan," kata kuasa hukum warga, Agustinus L. Kilikily.
"Tidak ada putusan pengadilan. Ini premanisme," lanjut Agustinus.
"Untuk mengambil aset negara tersebut, kita minta ke pihak keamanan untuk membantu," kata salah seorang perwakilan dari pihak rumah sakit.
ADVERTISEMENT
Lalu, terlihat petugas sekuriti dan kebersihan yang sudah berbaris mendorong warga yang berkumpul. Kericuhan pun terjadi. Warga terutama perempuan terdengar berteriak histeris.
Tensi semakin memanas ketika perwakilan dari rumah sakit memasuki rumah warga. Warga yang tak terima, meminta mereka untuk masuk ke rumah secara baik-baik tanpa melakukan kekerasan.
"Baik-baik masuknya, jangan begitu. Kan, bisa minta izin dulu," kata salah seorang warga.
"Maling, maling!" teriak warga lainnya.
Tak berselang lama, situasi yang sempat memanas kembali kondusif. Perwakilan dari rumah sakit akhirnya masuk untuk mengecek ke dalam rumah warga setelah meminta izin.
Penertiban itu dilakukan RS Soeharto Heerdjan berbekal Sertifikat Hak Pakai (SHP). Mereka mengeklaim permukiman warga yang ada di sekitar rumah sakit berdiri di tanah mereka.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, di sisi lain, warga merasa sudah puluhan tahun mendiami tanah tersebut. Mereka tak terima atas penertiban yang dilakukan pihak rumah sakit. Mereka juga mengaku tak diberi kompensasi yang layak.